Part 67 : Papa Pulang

6.7K 964 59
                                        

Tubuh gadis itu membeku seperti patung, menatap kepergian laki-laki yang melangkah memasuki kabin. Suara nyaring cerobong asap  sudah terdengar, sebentar lagi kapal besar itu akan berangkat meninggalkan bibir dermaga.

Tafia menangis terisak-isak. Seperti seekor burung kecil yang ditinggal pergi oleh induknya. Ia tidak punya sayap untuk terbang mengejar sang pahlawan.

"Gaviiiin!!!" teriaknya sambil menjatuhkan diri ke lantai. Dengan kedua tangan menyangga tubuh rapuhnya yang gemetar. Bulir-bulir bening terus menetes menjatuhi lantai.

"Akhirnya Gavin menyerah," celetuk cowok yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.

"Setelah berulang kali lo kecewakan kepercayaannya."

Tafia melirik sepatu converse yang dikenakan cowok tersebut, kemudian mendongak. Menatap wajahnya. "Ra-Raffa?"

"Setelah lo gantungin hidup dia pada keputusan yang tidak jelas kelanjutannya." Raffa membenarkan letak kaca mata hitamnya yang miring. Rambut jambulnya terombang-ambing tertiup angin.

"Setelah lo patahin satu-satunya hati yang dia miliki."

Tafia menelan ludahnya dengan susah payah.

"Setelah lo hancurin segenap perasaan yang selalu dia jaga mati-matian buat lo."

Raffa mengeraskan rahang. "Dan sekarang dia menyerah, karena mengerti bahwa perasaannya tidak bisa selalu dituruti keinginannya."

Gadis itu kembali menunduk, sambil mengepalkan kedua tangan.

"Gavin pernah begitu menginginkan lo. Sampai dikorbankannya banyak hal."

Sudut mata Raffa melirik ke arah Tafia. "Tapi kini tidak lagi. Dia tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi. Dengan hati yang lapang, dia meminta elo untuk iklash."

***

Brian baru saja sampai di rumah Tafia, setelah beberapa waktu yang lalu ditelpon oleh mama Ria.

"Coba kamu samperin, dari kemarin dia hanya murung turus seperti orang yang tidak punya semangat hidup." Mama Ria mengintip Tafia dari balik pintu kamar dengan wajah cemas.

"Iya, Tante," angguk Brian sembari melangkah memasuki kamar. Gadis itu terlihat memeluk kedua lutut dengan tatapan kosong.

"Taf!" panggil Brian dengan suara lirih.

Tafia mendongak sambil menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi wajah.

"A-aku mau ngajak kamu jalan."

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Menyembunyikan wajah sembabnya. Melupakan bayangan Gavin yang terus terngiang-ngiang di dalam ingatan.

"Ayo lah Taf, tidak ada salahnya kita keluar menghirup udara segar," rayu Brian dengan wajah memelas.

Tafia tetap menjawabnya dengan gelengan.

"Apa yang membuatmu jadi seperti ini?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

"Gavin?"

Tafia merapatkan bibir, dengan wajah sedih.

"Kamu benar-benar cinta sama dia?" tanya Brian.

"Taf?"

Bibir Tafia kembali bergetar. Kemudian menangis menahan pedih di dalam hati. Ia sudah tidak bisa menghubungi Gavin. Karena seluruh sosial medianya sudah di blokir. Rindunya tak bisa tertolong.

***

Setiap hari keadaan Tafia semakin memprihatinkan. Ia bagaikan lilin yang membakar dirinya sendiri. Tubuh mungilnya semakin kurus, matanya bengkak karena hampir setiap hari menangis.

Tidak ada yang bisa mengobati selain kehadiran Gavin. Sayangnya tidak orang yang menyadari hal itu.

Setiap hari Brian datang untuk menjenguk Tafia, tapi hanya sebentar. Memberikan perhatian kecil, kemudian keluar dari kamar. Cowok itu betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengan Ririn. Bersenda gurau seperti layaknya sepasang kekasih.

Tafia bahkan beberapa kali memergoki kemesraan mereka berdua. Ririn yang bergelayut mesra di lengan Brian langsung menjauhkan diri setelah melihat kehadiran Tafia yang keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Sebenarnya yang dicintai Brian itu Tafia atau Ririn?

Anehnya, ia sama sakali tidak merasa cemburu. Rasa cintanya kepada Brian perlahan memudar seiring dengan rasa rindu yang menelannya hidup-hidup.

Jangankan mengurusi kejanggalan hubungan Brian dan Ririn. Dengan dirinya sendiri saja ia sudah tidak peduli.

Hari demi hari Tafia lalui dengan sangat menyakitkan. Hidupnya terasa begitu hampa. Serasa semua sudah berakhir setelah Gavin pergi.

Ayahnya bebas dari penjara setelah  menebus uang beberapa juta. Diluar dugaan Tomy langsung memeluk Tafia erat-erat setelah keluar dari lapas.

Gadis itu terbelalak. Tubuhnya membeku seperti patung. Kala tubuh kekar itu merengkuhnya dengan penuh kasih sayang. "Maafin papa ya Tafia. Selama ini papa banyak salah sama kamu."

Mama Ria yang berdiri di belakang mereka tersenyum haru. Sementara Ririn terlihat sibuk dengan ponselnya, tak peduli.

Selama dipenjara Tomy sadar, bahwa Tafia sangat menyayanginya. Disaat mama Ria sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Ririn tidak pernah sekalipun datang menjenguk. Tafia selalu rutin membawa makanan kesukaannya seminggu sekali. Meskipun saat membesuk, Tomy selalu menunjukkan wajah tidak suka.

Baru ketika Tafia absen selama beberapa bulan menjenguk papanya di lapas. Tomy merasa rindu dan menyadari semua kesalahannya. Ia telah dzolim kepada anak kandungnya sendiri.

Tamy bahkan sadar selama ini dirinya hanya diperalat oleh anak tirinya. Dia sudah dibutakan oleh harta sehingga lupa dengan Tafia. Dia telah berkhianat dengan mendiang sang istri, karena tidak bisa menjaga Tafia dengan baik.

"Maafin Papa, Nak."

Bersambung...

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang