Part 5: Raffa Gagal Move On

23.1K 2.3K 74
                                        

***

Setelah sampai di kelasnya sendiri, Raffa langsung menendang meja paling depan hingga ambruk. Tak peduli ada satu perempuan yang duduk sendirian sambil belajar di bangkunya. Raffa menjorokkan beberapa meja meluapkan emosi.

"Raf, lo kenapa, sih?" Gavin yang mengekor di belakangnya.

"Ini semua nggak masuk akal!" umpat Raffa sambil meninju papan tulis hingga terdengar bunyi bedebum yang begitu keras. Tafia yang duduk di bangkunya sampai terlonjak kaget.

Cowok itu merosot terduduk di lantai sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Bagaimana mungkin mantan gue pindah sekolah ke sini!"

Def yang berdiri di ambang pintu hanya menghela napas. Sementara Tafia yang duduk di bangkunya memicingkan mata mendengar kabar mengejutkan itu.

"Yaudah sih, biasa aja. Masa lalu nggak usah diinget-inget." Def menggindikan bahu sambil melirik ke arah Gavin yang terdiam dengan ekspresi datar andalannya. "Justru sekarang waktunya lo buktiin ke dia, kalau lo itu udah bisa move on."

Raffa menatap Def dengan tatapan kesal. "Eh, lo tau nggak?! Gara-gara dia gue jadi trauma menjalin ikatan sama perempuan."

"Owh, ternyata lo selama ini gagal move on?" Def malah terkekeh.

"Gue benci banget sama dia, tolol! Bukannya nggak bisa move on."

"Hilih, nggak mau ngaku."

"Lo nggak akan pernah ngerti perasaan gue, Def!" Raffa mendengkus.

"Raffatar Altha. Ketua geng Alister ternyata selama ini gagal move on." Def masih meledek dengan wajah tengilnya.

"Bacot!"

"Trouble maker di sekolah, kalau tawuran paling depan, ditakuti sama musuh. Eh, nggak tahunya kelamahannya sama mantan."

"Lo bisa diem nggak?" Raffa beranjak dari duduknya, mengejar Def yang terus meledeknya. Def langsung berlari menaiki meja dan melompat dari meja satu ke meja lainnya. Sementara Raffa ikut mengejar karena sudah geregetan.

"Dasar cengeng!" ledek Def berdiri di atas meja sambil terkikik.

Raffa melotot dengan napas terengah-engah. Def terlalu lincah untuk dikejar.

"Cowok most wantednya SMA Mandiri ternyata gagal move on, elah. Tutupin aja itu wajah lo pakai sempaknya Spiderman."

"Anjiir, berantem yuk lo sama gue!" Raffa kembali berusaha mengejar Def. Sesekali Def mendorong kursi-kursi yang ia lewati agar memperlambat kejaran Raffa.

Tafia yang sadari tadi mengamati tingkah laku mereka merasa tidak nyaman. Kelasnya menjadi berantakan karena ulah Def dan Raffa. Meja dan bangku-bangku berjatuhan karena aksi keduanya. Sampai pada akhirnya Raffa berhasil menangkap Def yang terjatuh terjerembab karena tersandung kursi.

"Ampun, Raf, ampun!" Def hanya bisa menggunakan kedua tangannya sebagai tameng saat Raffa mendudukinya dan menjitak kepalanya.

"Kapok nggak lo!" Satu jitakan lagi mendarat tepat di kepala Def.

"Eh, udah!" Gavin mencoba melerai pertikaian mereka berdua. Menarik Raffa menjauh dari Def.

Def mendengkus sambil mengusap-usap kepalanya yang benjol karena dijitaki Raffa.

"Dulu, kalau lo takut kehilangan Aliqa mustinya langsung lo hamilin aja, biar dia nggak pindah ke lain hati. Jadi cowok kok bego!" Def masih sempat-sempatnya mencibir.

"Bacot lo!"

"Kan trend sekarang gitu. Hamil dulu baru nikah. Masih pacaran tapi udah skidipap wiuwiu indehoy asoy." Def kembali melancarkan aksi ledekannya.

"Def, udah!" tegur Gavin.

"Nggak usah ikut campur lo, guy!" sahut Def.

Gavin melotot. Kemudian melirik ke arah Tafia yang mengamati dari bangkunya. Dia merasa malu dikatain seperti itu.

"Ini urusan sang pecinta. Lo belum cukup umur buat ikut-ikutan." Def kini beralih meledek Gavin.

"Gue kroyok sama Raffa baru tahu rasa lo!"

Def mulai memundurkan langkah, mengambil ancang-ancang untuk kabur.

"Allahuakbar!"

Mereka bertiga langsung menoleh ke arah suara. Seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam kelas tampak shock melihat keadaan kelasnya yang seperti kapal pecah.

"Ini ulah siapa?" Selly sang ketua kelas melotot tajam.

Gavin dan Raffa secara serempak menunjuk Def. Sementara Def menunjuk Raffa sambil nyengir kuda.

"Pasti kalian bertiga pelakunya. Beresin nggak?!" bentak Selly kesal.

Def kini melirik ke arah Tafia yang sedari tadi terdiam di bangkunya. "Kita capek habis berantakin kelas, gantian Tafia ajalah yang beresin. Enak banget dari tadi dia nggak ngapa-ngapain."

Perasaan Tafia mendadak tidak enak. Lagi dan lagi dia harus disiksa oleh teman sekelas.

***

"PASUKAN TERSAKITI!! SIAP BERAKSI!!!" teriak Def berdiri di atas motornya di depan gerombolan geng Alister yang memakai seragam sekolah.

Kini dirinya sedang berada di lapangan benteng bersama gerombolan anak-anak Alister. Mereka akan tawuran dengan geng Evos. Geng yang sudah menjadi musuh bebuyutan mereka sejak dulu.

Selain Raffa, Def, dan Gavin. Ada dua inti Alister yang lain dari kelas IPS-2, namanya Rijal dan Rifki. Mereka sering nongkrong bareng di sekolah maupun di luar sekolah. Dan tawuran hari ini dipelopori oleh Rijal. Jadi, Raffa yang sedang badmood mau tidak mau harus ikut membantu teman-temannya.

Rijal dan Rifki menjadi salah satu anak populer di SMA Mandiri karena berteman baik dengan Gavin. Mereka bertiga sering mengikuti kompetisi sepakbola tarkam membela kampungnya karena tergabung dalam klub sepak bola amatir. Ya, Gavin adalah pemain sepakbola. Meskipun bukan pemain profesional, tapi bisa ditebak jika Gavin merupakan seorang idola di lapangan.

Def melirik jam tangannya. "Berani, nggak, nih, anak-anak Evos?"

"Kalau nggak jadi, gue mau balik." Raffa sudah terlihat bosan.

"Ah, elah nanggung, Raff." Rijal memasang wajah memelas.

Raffa menghembuskan napas. Ia adalah cowok yang menjunjung tinggi solidaritas. Jadi, dia tidak akan pulang sebelum teman-temannya menang.

Raffa, Def, Gavin, Rijal, dan Rifki adalah inti dari geng Alister. Mereka berlima selalu berada di garda terdepan dalam aksi tawuran. Adik-adik kelas menghormati mereka, dan cewek-cewek di sekolah mengidolai mereka. Mereka adalah top five selebgram di SMA Mandiri. Hanya Gavin yang paling misterius, karena cowok itu sulit diselediki asal-usulnya. Hanya sahabat-sahabat baiknya yang tahu siapa Gavin sebenarnya.

Mereka semua yang berkumpul di bawah pohon beringin besar di pinggir lapangan benteng mulai bersiap-siap saat puluhan motor datang dari arah barat. Anak-anak Evos yang bersekolah di SMA Tunas Bangsa membawa rombongan yang lumayan banyak.

"Mantap!" Def begitu bersemangat. Cowok tengil itu sangat suka tantangan. Dia selalu menikmati hal-hal berbau kekerasan. Tawuran, balap motor, dan mabuk-mabukan.

Pimpinan geng Evos, geng yang menjadi penguasa di SMA Tunas Bangsa bernama Digo tampak membonceng seorang perempuan.

Raffa, Def, dan Gavin langsung menelan ludah begitu melihat cewek yang dibonceng Digo adalah Tafia. Bagaimana mungkin Tafia bisa bersama mereka?

Gadis malang itu menangis saat Digo menggiringnya ke depan. "Ini salah satu cewek di SMA Mandiri?"

"Bajingan lo, beraninya bawa sandra!" teriak Rijal geram.

TBC

Comment dong ah, biar semangat lanjutin ceritanya wkwk

Jangan lupa follow IG: @nurudin_fereira

TAFIA'S TEARSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang