Tafia tumbuh di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Hari-harinya dipenuhi rasa serba salah, terlebih karena ia harus berbagi kelas dengan saudara tiri yang tak henti-hentinya membully dirinya.
Namun, kehidupan sekolahnya men...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cielah, gadis solehah balik ke rumah."
Tafia yang sedang duduk di depan meja rias langsung menoleh ke arah Ririn yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu.
"Nggak tahu diri lo!" Ririn melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mama Ria yang nyuruh aku balik, Rin," lirih Tafia dengan wajah kikuk.
"Papa lo nggak ada di sini, ngapain lo tinggal di sini? Tinggal di rumah papa lo sana, di penjara!" ketus Ririn dengan nada yang menyayat hati.
Tafia hanya menunduk, sambil merapatkan bibir.
"Sok suci!" Gadis berambut pirang itu berdecih. "Papa lo itu nggak punya apa-apa. Dia cuma numpang hidup enak di sini. Lo sebagai anaknya harusnya sadar diri, kalau papa lo nggak ada di sini, seharusnya lo nggak usah tinggal di sini."
Tafia meremas-remas kain gamis yang ia kenakan. "Aku sebenarnya juga nggak pengen pulang, Rin. Tapi mama aja yang maksa."
"Dih, narsis!" sinis Ririn.
"Kalau gitu tolong bantu aku bujuk mama supaya ngizinin aku pergi dari rumah ini," pinta Tafia dengan bibir mungilnya yang bergetar. Ia lebih baik kembali tinggal di rumah Gavin daripada berada di rumah seperti neraka ini.
"Pergi tinggal pergi kok, repot." Ririn memutar bola matanya malas.
"Nggak ada yang akan pergi dari rumah ini," sela sebuah suara. Membuat Ririn dan Tafia langsung menoleh.
"Tafia akan tetap tinggal di sini. Kamu kalau nggak suka Tafia di sini mendingan pergi aja."
Ririn langsung terperangah mendengar penuturan itu. "K-kok gitu sih, Ma?"
"Tafia juga anak mama, jadi dia berhak tinggal di sini." Mama Ria tersenyum miring.
"Dia anak seorang kriminal!" Ririn menunjuk Tafia dengan penuh kebencian.
"Mama udah tahu semuanya, sayang. Kalau sebenarnya kamu yang nyuruh papa bayar preman-preman untuk menghancurkan gerobak ketoprak tempat Tafia bekerja."
Ririn mendelik. Tidak menyangka mamanya bisa tahu fakta yang sebenarnya.
"Seharusnya kamu yang di penjara, bukan papa." Mama Ria melipat kedua tangannya di depan dada.
Ririn tampak mati kutu. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
"Mau di penjara, atau menghormati Tafia sebagai kakak kamu?"
"Mama sekarang kok belain dia sih?" Ririn tampak kesal.
"Mama bukannya membela, tapi Tafia memang butuh perlindungan." Mama Ria melirik ke arah Tafia yang menunduk di meja rias.
"Ini nggak adil!" Ririn berdecak sebal.
"Ini nggak adil buat, Ririn! Mama jahat!" Gadis itu menjorokkan tubuh mamanya kemudian berlari masuk ke kamar sambil menangis terisak-isak.