Tafia tumbuh di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Hari-harinya dipenuhi rasa serba salah, terlebih karena ia harus berbagi kelas dengan saudara tiri yang tak henti-hentinya membully dirinya.
Namun, kehidupan sekolahnya men...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍒🍒🍒
Seorang cowok tampan terlihat berdiri di tengah lapangan sekolah karena baru saja menerima hukuman. Panas matahari yang terik menyengat kulit. Keringat mulai menetes dari dahi, mengalir di sepanjang hidung, lalu jatuh ke bibirnya yang kering.
Matanya sedikit menyipit, berusaha menghindari terik matahari di atas gedung-gedung tinggi di sekolahnya. Suara keramaian dari dalam kelas terdengar samar. Angin semilir membawa debu yang melayang di udara, seakan tak peduli dengan keadaan di lapangan.
Sorot matanya beralih pada bendera merah-putih yang berkibar di tiang yang tinggi. Beberapa kali dia mengelap peluh di wajah, berpikir seandainya dia tak memberikan buku tugasnya ke Tafia, mungkin gadis itu yang sekarang berdiri di sini sekarang.
Ada sesuatu yang aneh saat dia memutuskan membantu Tafia. Dia tahu, jika bukan dia, pasti Tafia yang menerima hukuman itu. Tafia, gadis yang selalu menjadi sasaran bu***lly*ing di sekolah, yang diabaikan oleh hampir semua orang, termasuk Raffa yang sering mencoba menegur tapi tak pernah didengar.
Namun, Gavin merasa ada dorongan yang lebih besar untuk membantu. Mungkin bukan karena taruhan dari Raffa, tapi karena perasaan yang sulit dijelaskan. Sebuah panggilan dari hatinya, yang entah kenapa, merasa perlu menolong Tafia.
Sebenarnya, Gavin sama sekali tidak tertarik dengan Tafia. Dia lebih suka cewek-cewek yang bisa diajak bicara dan lebih terbuka, bukan yang pendiam dan tertutup seperti Tafia. Tapi entah kenapa, dia merasa ada yang berbeda kali ini.
Tiba-tiba, saat dia sedang merasakan sengatan panas itu, sebuah sentuhan dingin menyentuh pipinya. Gavin terkejut dan melihat Tafia berdiri di depannya, menyodorkan sebotol air mineral dingin.
"Minum," kata Tafia dengan suara lembut, sedikit kikuk.
Gavin membeku sejenak. Ternyata Tafia itu cantik juga kalau dilihat dari dekat. Wajahnya yang selama ini sering dia abaikan kini terlihat begitu menawan.
"Ayo, ambil," ucap Tafia lagi dengan suara pelan, bibirnya bergetar.
Gavin, yang sedikit gugup, meraih botol itu. "T... thanks," jawabnya, merasa ada yang aneh dengan dirinya. Parfum Tafia yang harum membuatnya semakin gugup.
"Kenapa ngelamun?" tanya Tafia, matanya menatapnya penuh perhatian.
Gavin semakin gelisah, merasa seperti dia sedang berada dalam situasi yang tak pernah dia alami sebelumnya.
"Ca... cantik," jawabnya terbata, dan buru-buru meneguk air dalam botol, mencoba menenangkan dirinya.
Tafia menunduk, wajahnya merah. "Kenapa kamu kasih buku tugasmu ke aku?" tanyanya, masih tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.