Part 41 : Jalan Kebenaran

9.8K 1.2K 70
                                        

Follow instagram aku ya, nurudin_fereira

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Follow instagram aku ya, nurudin_fereira

****

Apa yang kurang dari seorang Gavin Alvino Frinzy. Memiliki postur tubuh tinggi tegap, berhidung mancung, berkulit putih, dengan rambut tebalnya yang dibelah dua.

Misterius dan dingin, tapi bisa menjelma menjadi sosok yang romantis untuk gadis yang ia cintai. Berani berkorban, sangat menghargai wanita, bahkan juga taat dengan agamanya.

Ia jago main bola, hangat kepada keluarga walau sering bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah.

Gavin memang anak orang miskin, tetapi itu bukan sebuah alasan untuk seseorang menolak cintanya. Harta bisa dicari, tapi tidak dengan ketulusan.

Tafia masih terdiam saat Gavin menunggu jawaban darinya. Gadis itu ingin sekali mengangguk.

Namun, sebuah nama tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Menciptakan kebimbangan di hati Tafia.

Brian Arega.

Bagaimana nanti nasib cowok itu jika ia mengindahkan ucapan Gavin? Tafia benar-benar dilema.

"Taf, kamu mau kan setia sama aku?" tanya Gavin lagi
membuat Tafia langsung terbangun dari lamunannya.

Gadis manis itu menghembuskan napas kasar. Ia benar-benar bingung.

"Taf?"

Tafia menggigit bibir, kemudian menggeleng pelan. "Aku masih belum bisa kasih jawaban sekarang, Vin."

Gavin menghela napas. Cowok itu tampak kecewa.

"Aku belum siap membahas soal perasaan. Maaf," ucap Tafia merasa tidak enak.

Gavin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menyingkirkan ketegangan yang sempat terjadi. "Oke."

Tafia mengerti bagaimana kekecewaan Gavin. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat muram. Gadis itu berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku pengen fokus dulu merubah diri menjadi lebih baik. Apa yang harus aku lakukan pertama kali untuk berubah?"

Gavin terdiam cukup lama. Ia tidak fokus dengan pertanyaan Tafia. Tatapannya kosong, dengan pikiran yang melayang jauh ke angkasa.

Sakit bukan, sudah mengutarakan perasaan untuk yang kesekian kali tapi masih belum diberi jawaban yang meyakinkan?

"Vin?" Tafia menyentuh pundak Gavin.

Gavin menoleh dengan wajah kikuk. "Apa?"

"Apa yang harus aku lakukan pertama kali untuk hijrah?" ulang Tafia lagi.

Cowok itu langsung mengusap-usap wajahnya. Kemudian menjawab pertanyaan Tafia. "Mulai belajar dari sekarang."

"Tolong ajarin aku ya, Vin. Terutama solat dan baca Qur'an. Aku pengen hijrah ke jalan yang lebih baik."

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang