"Kamu siap?"
Nisa yang semula menunduk kini mengangkat kepalanya menatap Johan. ia menghembuskan nafasnya pelan dan menganggukkan kepalanya.
Johan menggerakkan jemarinya untuk menekan bel rumah orangtua Cakra, tak lama setelah itu pintu pun terbuka lebar untuk mereka.
"Nisa... Akhirnya kamu datang juga.."
Nisa diam, bukan berati ia membenci Siska hanya saja ia terlalu merasa bersalah karena tak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Cakra.
Siska mempersilahkan bapak dan anak itu masuk kedalam rumahnya dan menyuruh mereka untuk duduk di sofa ruang tamu.
Jefrry datang menyambut mereka setelah Siska memanggilnya.
"Nisa, gimana kabar kamu nak?"
"Ba-baik pa, papa Jefrry sendiri gimana? Ma-maaf Nisa gak bisa jenguk papa waktu papa dirumah sakit."
"Tak masalah sayang, hanya luka kecil saja.."
Nisa mengangguk, ia melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan Cakra.
"Cakra ada dikamarnya nak, dia mengurung dirinya bahkan kami pun tak diperbolehkan untuk masuk kedalam kamarnya.."
Selama dua hari berturut-turut Cakra mengunci rapat pintu kamarnya, tak ada satupun orang yang boleh masuk kedalam sana membuat Jeffry maupun Siska khawatir, mereka takut jika Cakra melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri, makanan yang diletakkan Siska dimeja samping pintunya pun tak pernah tersentuh.
Sesekali Siska mendengar suara gaduh dari dalam kamar, suara Cakra berteriak, menangis, bahkan tertawa pun Siska mendengar nya.
Berulang kali ia meminta Nisa untuk segera datang, tapi Nisa tetap pada keputusannya untuk datang dalam dua hari bersama dengan surat perceraian nya.
"Tolong panggilkan Cakra ma.."
Siska mengangguk mematuhi perintah Jeffry. Ia segera melangkahkan kakinya menaiki tangga satu persatu untuk menuju kamar Cakra yang berada di lantai dua.
Tok...tok...
"Cakra, ini mama.. buka nak.."
Tok...tok...
"Cakra, Nisa ada diruang tamu.. bukalah! Kamu pasti ingin bertemu dengannya bukan? Dia datang nak, cepat temui dia sebelum di-----"
Clek!
Siska membelalakkan matanya ketika melihat penampilan Cakra yang sangat mengenaskan.
Sedikit luka gores berada di wajah Cakra, rambutnya berantakan, mata yang memerah dan sembab, lingkaran hitam dibawah matanya cukup terlihat jelas.
"Ca--cakra! Apa yang kamu lakukan sama diri kamu?"
Siska mendorong sedikit badan Cakra untuk melihat isi didalam kamar Cakra, hatinya sangat teriris melihat kamar Cakra yang sudah seperti kapal pecah,, banyak barang-barang yang pecah tak beraturan.
"A-pa yang kamu lakukan sayang?"tanya Siska dengan mata yang mulai berair.
Cakra menggeleng lemah.
"Ma---mama gak bohong kan kalau Nisa ada dirumah ini? Di--dimana dia ma? Pasti dia datang karena sudah memaafkan Cakra, pasti dia datang karena ingin memberikan Cakra kesempatan lagi kan ma? Iya kan??!!"
Siska mengusap Airmatanya dengan jemarinya, kemudian ia menggerakkan jemarinya untuk merapikan sedikit penampilan Cakra agar tak terlihat mengenaskan seperti itu.
Setelahnya ia menggenggam tangan anaknya untuk membawanya menemui Nisa.
Tak.
Tak.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E O R A
RomantiekTIDAK PLAGIAT DAN JANGAN PLAGIAT!! Deora, berasal dari bahasa Irlandia yang berati Air Mata. Sebuah perjodohan yang menguras begitu banyak Air Mata bagi Khanisa Aquilla. Apakah pernikahan karena perjodohan ini akan berhasil?? - Khanisa Aquilla (Nisa...
