"Eli...stop! Jangan nangis terus, ceritain ke gue ada masalah apa lo?"
Cakra terpaksa harus melepaskan tangan Eli yang melingkar di pinggang nya dengan kasar. Kemudian ia memegang kedua lengan Eli dengan lembut tapi anehnya Eli malah meringis kesakitan hingga membuat Cakra kebingungan.
"Aw..."rintih Eli.
"Ke---, apa ini Eli? Apa yang lo lakuin sampai lengan lo lebam seperti ini?!"
Ketika Cakra menggulung lengan baju Eli ia dibuat terkejut melihat lebam di kedua lengan Eli, belum sempat ia memeriksa secara keseluruhan Eli langsung menutup kembali bajunya.
"Lo.... Ceritain ke gue kenapa bisa seperti ini!?"Cakra memandang Eli dengan curiga.
Eli menggelengkan kepalanya. "Em, G-gak, g-gue cuma kelelahan aja sa-yang..."
Mata Cakra menyipit, ia tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Eli.
"Lo yakin?"
Eli menganggukkan kepalanya.
"Em, bo-leh aku meminta sesuatu?"pinta Eli.
"Apa?"
"Gue mau bubur ayam di dekat kampus..."
"Yauda gue pesan on--"
"G-gak sayang, gue mau lo yang beli sendiri, siapa tau sakit di badan gue langsung hilang.."
Cakra terkekeh dengan penuturan Eli, ia mengangguk dengan pasrah kemudian mengecup kening Eli sekilas sebelum Cakra pergi untuk membeli bubur yang diinginkan oleh Eli.
Sekilas pandangan Cakra menuju kearah kamar mandi, firasatnya mengatakan bahwa seseorang berada disana, tapi ia menepis itu dan segera pergi dari apartemen Eli
Akhirnya Eli mendesah lega ketika Cakra sudah pergi dari apartemen nya, dengan begitu ia memiliki waktu untuk mengusir Derry dari apartemen.
Clek!
"Ck! Drama banget lo!
Setelah mengetahui jika Cakra pergi dari apartemen Eli, Derry dengan segera keluar dari persembunyiannya, ia langsung menghampiri Eli.
"Der-ry, bisa lo pergi dulu dari sini? G-gue gak mau Cakra lihat lo disini.."
Semenjak seminggu setelah kejadian dimana Eli menemui Derry, Derry berhasil untuk menggerakkan Eli, ia selalu melakukan kekerasan jika Eli tidak menuruti perintahnya, selama seminggu ini pula Derry selalu mengurung Eli.
"Gue mo-hon Derry.."
Eli meremas jemarinya hingga kuku-kukunya memutih, Derry yang ia kenal sekarang jauh lebih menyeramkan, sama dengan halnya perlakuan Cakra pada Nisa, Derry pun juga tak segan-segan untuk memukul Eli jika Eli melakukan kesalahan.
Bagi Derry dengan cara seperti ini, Eli bisa menjadi miliknya lagi meskipun dengan cara paksaan.
"Tinggalin Cakra!"perintah Derry dengan tegas.
Eli mengangguk pasrah pada akhirnya."G-gue butuh waktu Der.."
Dengan susah payah Eli menahan air matanya agar tidak jatuh begitu saja.
"Oke! Gue kasih lo waktu selama yang lo butuhkan, gue kasih waktu buat lo pergi meninggalkan Cakra, kalau lo sampai gak lakuin itu.... Gue akan sebar aib lo sama gue!"
"I-iya.."
Derry mengecup bibir Eli sekilas, ia mengusap-usap rambut Eli dengan pelan.
"Jangan biarin Cakra nyentuh lo sedikit aja, hanya gue yang berhak nyentuh lo! Paham kan lo?!"
Eli mengangguk.
"Gue pergi dulu, sayang.."
Tubuh Eli langsung melemas setelah Derry benar-benar meninggalkan nya, ia meneteskan air matanya memukul-mukul sendiri dadanya yang begitu sesak, ia tak pernah menginginkan kehidupan seperti ini, ia tak ingin terjerat dengan lelaki seperti Derry.
Maafin gue Cakra, maafin gue, hiks..hiks..
KAMU SEDANG MEMBACA
D E O R A
RomanceTIDAK PLAGIAT DAN JANGAN PLAGIAT!! Deora, berasal dari bahasa Irlandia yang berati Air Mata. Sebuah perjodohan yang menguras begitu banyak Air Mata bagi Khanisa Aquilla. Apakah pernikahan karena perjodohan ini akan berhasil?? - Khanisa Aquilla (Nisa...
