"Haris..."
"Es buset! Lo ngapain masih disini woy!"
Haris dibuat terkejut ketika menemukan Cakra yang sudah berdiri disampingnya dengan penampilan sedikit berantakan karena baru saja terbangun dari tidurnya.
"Gue gak pulang, bantu gue ngomong sama Nisa... Please Har,, bantu gue kali ini aja."
"Kenapa harus gue sih?! Itu urusan lo, urusan rumah tangga lo bukan rumah tangga gue!"
"Yauda, gue akan tinggal disini sampe lo mau bantuin gue!"
Cakra pergi meninggalkan Haris, dengan lancangnya ia memasuki kamar Haris dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat Haris terkejut untuk kedua kalinya.
"Kenapa lo nyusahin gue terus Cak!"
Haris berdecak sebal, ia melangkahkan kakinya dengan kasar menghampiri Cakra. Setelah sampai didalam kamar ia melihat Cakra yang sedang meringkuk dibawah selimut dengan santainya.
Srek!
Haris menarik kaki Cakra dengan kasar.
"Bangun! Jangan nyusahin gue deh Cak, dari pada lo gak jelas kayak gini mending lo sana pergi kerumah Nisa, selesaiin sendiri masalah lo."
"Gak bisa, Nisa nolak gue Har... Bantu gue tolong.."
Haris menggelengkan kepala dengan cepat.
"Urus sendiri! Mangkanya lo gak usah bikin orang terluka kalau lo sendiri gak bisa ngobatin!"
"Ya gue khilaf..."
"Khilaf pala lo! Khilaf yang lo sengaja?!"
Cakra turun dari kasur, ia melangkahkan kakinya menghampiri Haris yang berada di sofa.
"Gue mohon Har, kali ini aja.. gue mohon bantuin gue ya? Imbalannya rumah gue deh buat lo, seriusan gue.."
Penawaran yang menarik, hehe..
Haris tersenyum licik menatap Cakra dari ujung ke ujung, jiwa matrenya kembali menggebu-gebu setelah mendapatkan penawaran yang luar biasa dari Cakra.
"Oke deal! Berhasil atau ngga pokoknya rumah itu buat gue.. gue akan bantu lo ngomong sama Nisa tapi inget, jangan salahin gue kalau semisal Nisa nanti malah kepincut sama gue!"
Haris langsung pergi meninggalkan Cakra menunju kamar mandi.
Cakra menggeleng. Ia mengejar Haris tapi sayang pintu kamar mandi telah terkunci.
Tok...tok...tok...
"Har, Lo gak bisa ngomong kayak gitu! Nisa cuma cinta sama gue!!"
Tok...tok...tok...
"Buka ngga!! Lo harus bantu gue tanpa melibatkan perasaan, awas aja lo sampe rebut Nisa dari gue!!"
Sialan lo Haris.
Brak!
Cakra menendang pintu kamar mandi dengan keras hingga terdengar suara tawa dari Haris didalam sana.
Setelah dua puluh menit menunggu akhirnya Haris telah menampakkan dirinya dihadapan Cakra, ia memberikan selembar kertas kosong dan sebuah pulpen padanya.
Cakra sempat mengernyitkan keningnya, menatap selembar kertas dan sebuah pulpen yang dipegang oleh Haris.
"Apaan?"
"Buat surat perjanjian kalau rumah lo itu akan jadi milik gue!"
Cakra menatap Haris tak percaya. Kemudian ia mengambil kertas itu dengan kasar dan langsung menulis perjanjian yang diminta oleh Haris lengkap dengan tanda tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E O R A
RomanceTIDAK PLAGIAT DAN JANGAN PLAGIAT!! Deora, berasal dari bahasa Irlandia yang berati Air Mata. Sebuah perjodohan yang menguras begitu banyak Air Mata bagi Khanisa Aquilla. Apakah pernikahan karena perjodohan ini akan berhasil?? - Khanisa Aquilla (Nisa...
