[1.3] Langit

622 49 0
                                        

Hujan sore ini cukup membuat pemuda bermata sipit itu bergelung manja dibalik selimut. Setelah menyelesaikan mata kuliah dan pulang pukul 1 siang tadi, kini energinya telah tumpah bersama guyuran hujan yang membasahi bumi. Tak ada yang perlu diceritakan tentang seorang pemuda yang sedang tertidur. Hanya bisa menunggu kapan ia akan sadar kembali ke dunia nyata dan meninggalkan alam mimpinya.

Cangkir kopi yang tertinggal ampasnya, tumpukan baju kotor di keranjang, gulungan kabel yang mencuat kemana-mana, dan bingkai foto berdebu adalah kondisi kamar yang dihuni laki-laki berusia awal dua puluhan. Oh, jangan lupakan kaos kaki tempo hari yang berserakan memenuhi lantai. Suasana kamar khas seorang Langit Erlangga yang jauh akan kata bersih. Tumpukan buku di meja belajar dan kertas penuh coretan menjadi gambaran seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang sedang dibuat pusing oleh tugas makalah yang tak berkesudahan.

Suara getaran telpon mengusik tidur panjang si pemuda. Dengan malas ia menggeser ikon hijau.

"Hm, apa?"

"....."

"Ogah, males."

"....."

"Ck, nyusahin lo!"

"...."

"Iya-iya ah. Iyaaa Suryaaaaa Wardoyo iyaaaa."

"....."

"Hm."

Oh, dari Surya rupanya. Sahabat sekaligus tetangga kamarnya. Meminta agar Langit mau menjemputnya di terminal malam ini. Surya habis dari kota sebelah, bersama rombongan kelompok penelitiannya. Mengingat kelompok penelitian, Langit jadi teringat wanita yang ia kagumi. Betapa beruntungnya Surya bisa memiliki waktu bersama cukup banyak bersama wanita itu.

Sesaat Langit menatap gumpalan awan diatas sana. Tumpahan air yang membasahi bumi seolah menandakan suasana hatinya saat ini. Langit adalah manusia supel yang baik oleh siapapun, tapi siapa sangka sikapnya justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

"Ngenes amat kisah gue."

Monolog yang tak berbobot itu meluncur dari bibirnya. Lalu menyambar handuk dan bersiap mandi. Tangannya menepuk jidat pelan. Sepersekian detik, kakinya membawa Langit ke kamar atas. Lebih tepatnya kamar Esther. Teman semasa Tk hingga Mahasiswanya itu rupanya sedang bergelut dengan tugas-tugasnya. Langit bisa melihat sedikit kertas-kertas yang berserakan dilantai.

Dipandanginya kamar dibelakangnya, terpampang jelas nama Luna di badan pintu bercat putih itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Mendadak matanya tertuju pada jam dinding di ruang tengah, pukul 5 sore dan Luna masih belum pulang. Seingatnya, Luna memang berkata akan ke perpustakaan kota hari ini.

Mungkin lupa waktu, begitu pikir Langit.

Langkahnya justru terhenti di dapur ketika seongok plastik berisi aneka kue brownis tergeletak minta disantap. Dengan sampo yang masih ia genggam, perlahan-lahan mulutnya mengunyah brownis rasa coklat. Sensasi manis dan gurih dari keju menyeruak hingga dinding-dinding rongga mulutnya.

"Jangan dihabisin. Sisain buat Luna."

Peringat Esther sebelum gadis itu lenyap dibalik pintu. Satu brownis cukup membuat nyawanya kembali. Dengan langkah malas-malasan, Langit kembali ke kamarnya dan melanjutkan semedi yang tertunda.

Dinginnya udara seolah tak terasa bagi Langit. Dirinya memaksa keramas di sore yang kelabu ini. Ditatapnya pantulan dirinya disebingkai kaca yang ia beli di pasar bulan lalu, kemudian tatapannya beralih pada sebuah figura berisi foto dirinya dan ketiga sahabatnya saat tahun baru sekitar 2 tahun lalu. Bibirnya tersenyum. Bagi Langit, persahabatan itu bukan tentang lamanya waktu. Tapi, bagaimana waktu itu menciptakan memorial indah yang sangat elok untuk ditengok kembali.

Di derunya suara gemuruh, Langit justru tenggelam dalam bacaannya. Tak mempedulikan langit yang menumpah ruahkan air atau petir yang meraung-raung. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, membaca kata per kata dan menanamkannya di otak. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, mau tak mau dirinya diharuskan untuk banyak membaca. Filsafat, sejarah, bahkan fiksi pun ia lahap. Langit sama sekali tak menyangka dirinya akan tenggelam dalam sastra. Terlebih ia memiliki sahabat yang sama-sama satu frekuensi dalam bacaan. Ya, Luna. Dirinya bertemu Luna saat kelas bahasa dasar saat semester satu. Siapa sangka Luna adalah kenalan dari Esther, teman oroknya.

Atensinya beralih ketika suara mobil memasuki garasi dan percakapan seseorang memasuki gendang telinganya. Surya sudah ngomel-ngomel karena akan sampai terminal dalam beberapa menit. Langit menolak ajakan makan malam dari Esther dan memilih untuk memakannya nanti setelah menjeput Surya.

Jalanan kota semakin lengang, mungkin manusia-manusia sudah sampai di rumahnya dengan selamat. Irisnya menangkap ramai-ramai di depan sana, ada garis polisi yang terpasang diarea itu. Satu ambulance juga bertengger manis belakang mobil polisi. Seorang bocah berusia sekitar 8 tahun menangis tersedu-sedu didekapan polisi wanita disana. Langit memicing, mencoba meneliti apa yang sedang terjadi. Rupanya kecelakan tunggal yang membuat seorang ibu tergeletak tak berdaya, ditandu beberapa tim medis. Setelahnya entahlah, Langit sudah melewati kerumunan itu. Kini mobilnya berbelok ke arah kota dan mengambil jalur kanan sebelum berbelok lagi menuju arah terminal kota.

Dilihatnya Surya yang berdiri di depan sebuah warung kopi dengan ponsel yang setia ada dipandangannya.

"Lama amat lo," sapaan Surya jauh dari kata ramah.

"Ck, macet. Masih untung gue jemput."

Surya memasang seatbealt dan mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Langit melirik Surya sekilas. Ada kantung mata yang mulai menghitam, ditambah rambut yang acak-acakan. Mendadak merasa kalau Surya lebih ngenes dari dirinya.

"Makan dong, laper."

"Ntar aja di rumah. Esther beli ayam gepuk."

"Beneran? Gue disisain nggak?"

Langit memutar bola matanya malas, "Iyalah. Emang elo kalau beli kagak inget orang rumah."

"Enak aja! Elo tuh yang begitu."

Adu argumenpun terjadi. Hanya karena hal kecil mereka bisa bertengkar layaknya bocah berusia lima tahun. Kalau ada Luna, pasti gadis itu sudah memberikan tonjokan super maut beserta pelototan tajam bak pisau yang baru diasah. Pun dengan Esther yang siap dengan seribu omelannya yang akan membuat telinga mereka panas karena suara cemprengnya.

Gemerlap cahaya kota berbaur dengan buliran air hujan menjadi pemandangan paling nyaman untuk dilihat. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara segar yang menusuk-nusuk kulit. Langit duduk disamping Surya. Mereka sedang berada di kedai martabak langganan, tengah menunggu pesanan mereka siap dibawa pulang.

"Assalamualaikum," ucap dua pemuda.

"Waalaikumsalam," sahut dua pemudi.

Langit geleng-geleng ketika melihat Esther dan Luna berdempetan di sofa ruang tengah. Dihadapan mereka sedang berlangsung tayangan drama Korea yang sedang laris di pasaran industri hiburan.

"Martabak nih."

"Terimakasih Langittttt."

•••

Dokyeom as Langit Erlangga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dokyeom as Langit Erlangga

•••

Hallo, terimakasih sudah membaca.
Semoga suka.
Salam hangat.
Tetap semangat.
Vote and comment juseyo~♡

Dokyeom aka Langit dengan cengiran khasnya. Beneran candu tau senyumannya :")

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang