[15.1] Perihal Jarak

191 32 21
                                        

Langit gelap dengan ribuan bintang tersenyum ditemani bulan purnama yang begitu cantik. Suara jangkrik beradu menjadi satu bersama alunan musik ballad yang justru menambah suasana melow. Potongan piza sisa setengah di kardusnya, gelas-gelas plastik berisi soda yang tinggal setengahnya, dan plastik bekas keripik yang masih berserakan di lantai. Puluhan tusuk sate di atas piring menjadi saksi berapa banyak kalori yang telah mereka konsumsi hari ini. Ditambah kaleng minuman soda yang sudah tak terhitung jumlahnya. Piring-piring kosong bekas bumbu kacang dan pemanggang panas yang banyak bercak hitam. Orang-orang sedang menikmati jamuan makanan dan minuman diselingi senda gurau.

Di rumah keluarga Wisnu, semua orang sedang berkumpul untuk farewell party. Besok pagi, oh atau nanti malam, lebih tepatnya pukul 2 dini hari, Wisnu akan berangkat ke negeri yang terkenal akan minuman birnya. Luna disini, duduk di sebelah Wisnu dengan sepiring sate ayam yang mereka bakar tadi. Semua teman Wisnu datang, termasuk anak-anak Semesta bersama pasangannya. Beberapa dari mereka mengenalkan diri, Luna tahu siapa saja mereka karena Wisnu sering bercerita tentang mereka. Ada Bang Saka, Erlan, Vernon, dan lain-lain.

"Oke, karena udah semakin malam. Gue mau bilang sekarang aja. Gue Wisnu Abraham pengen minta doa kalian semua, besok atau nanti jam dua malem—"

"Dua pagi, mas," celetuk Luna membenarkan. Semua orang tertawa, Wisnu pun tersenyum lantaran Luna selalu mengoreksi apapun kalimat yang Wisnu ucapkan. Bahkan Luna sering membenarkan typing Wisnu ketika sedang bertukar kabar.

Laki-laki itu melanjutkan perkataannya, "Iya, jam dua pagi maksudnya, gue bakalan flight ke Jerman buat nerusin S2 disana. Gue mohon doanya. Makasih udah datang ke rumah gue hari ini."

Khrisna mendadak memeluk Wisnu erat. Entah kenapa suasana disini semakin melow. Luna pun ikut merasakan perasaan tak rela ketika Wisnu mengucap salam perpisahan. Mungkin benar, hubungan itu tak akan ada yang abadi, semuanya fana. Tapi Luna ingin egois, dirinya ingin Wisnu terus menjadi laki-lakinya.

"Bang, sehat-sehat ya disana. Gue emang gak bisa gantiin posisi lo, tapi gue bangga banget sama lo yang gak pernah ngeluh sedikitpun," ujar Khrisna pelan. Terlihat jelas sedang menahan air mata karena akan berpisah dengan abangnya selama sekitar dua tahun.

"Makasih, Khris. Jaga bunda selama gue disana. Awas aja lo kalau bunda sampai sakit. Gue jamin leher lo patah!" ancam Wisnu pura-pura serius.

"Nu, lo gak mau ngomong sama pacar lo?" tanya Saka.

"Harus banget gue ngomong di depan kalian?"

Semuanya mengendus malas. Wisnu memang seperti itu, enggan menunjukkan kebucinannya dihadapan orang-orang. Luna menyadari dirinya disebut tak kuasa diam saja, mendadak wajahnya memerah karena digoda habis-habisan oleh teman-teman Wisnu.

"Oke-oke, saya udah ngomong banyak sama kamu jauh sebelum saya mutusin buat lanjut ke Jerman. Tapi hari ini karena paksaan mereka saya mau ngomong lagi. Tolong tunggu saya, ya? Saya gak bisa janjiin kamu apa-apa, tapi kamu bisa percaya sama saya. Aluna, please, just two year, ya?" Wisnu menggenggam tangan Luna erat. Gadis itu melepas kacamatanya, mengusap air mata yang bagaimana caranya bisa lolos dari kelopak matanya. Luna mengangguk sebagai jawaban. Lidahnya kelu, tak mampu menjawab perkataan Wisnu yang terdengar menyesakkan dada.

"Saya sayang sama kamu. Ayo kita berjuang bareng-bareng. Kita lari sama-sama. Saya nggak akan pernah ninggalin kamu. Cuma kamu, Aluna."

Wisnu menarik Luna dalam dekapannya. Membiarkan sang gadis menangis sepuasnya di dada bidangnya. Orang-orang menatap dua sejoli dengan iba dan kagum, dua orang tak pernah merasakan cinta tapi dipersatukan karena kekuatan cinta itu sendiri. Teman-teman Wisnu yang kenal betul bagaimana karakter Wisnu pun dibuat kagum oleh peringainya. Pun dengan anak-anak Semesta yang melihat betapa tulusnya cinta Luna untuk Wisnu. Langit ingat perkataan Luna kala itu, Luna bilang Wisnu satu-satunya laki-laki yang selalu antusias mendengar apapun yang Luna bicarakan, Wisnu adalah satu-satunya pemuda yang mampu membuat si cupu Luna penasaran dan bergerak langsung untuk membuka hatinya. Hanya Wisnu lah yang mampu mengetuk pintu hatinya. Surya pun ingat kalau Wisnu bukanlah laki-laki yang mudah tertarik dengan sosok hawa. Wisnu hanyalah manusia robot yang setiap harinya diisi dengan belajar, belajar, dan membaca buku sebelum bertemu dengan Luna.

SEMESTA [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang