Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Mobil Brio abu-abu kesayangan sejuta umat ini melaju dengan santai membelah jalan tol yang lengang. Sengaja memilih hari Sabtu karena menghindari macet panjang di jalan kota. Musik khas penyanyi Indie terputar merdu di radio mobil, memecah keheningan yang sedaritadi melingkupi mereka. Atmosfer canggung, ditambah degupan jantung membuat dua manusia ini terlalu larut dalam untaian benang kusut di kepala yang tak ada habis-habisnya. Sebuah klakson panjang terdengar di sisi jalan berlawanan, sebuah bis pariwisata mencoba menyalip sebuah mobil pribadi yang berjalan lambat.
Surya duduk di kursi kemudi, disampingnya seorang gadis yang mengenakan gamis coklat dengan kerudung hitam masih sibuk memandang jalanan di luar sana. Seperti janji Esther sebelumnya, gadis itu akan menemani Surya untuk pulang hari ini. Bersilahturahmi bersama keluarganya dan mencoba memperbaiki segalanya. Tadi malam mereka berdua sudah berdiskusi bagaimana cara Surya berbicara dengan tenang ketika sampai ke rumah, karena selama ini Surya selalu tersulut emosi ketika merasa dipojokkan di keluarganya.
"Gue degdegan, Ther."
Akhirnya salah satu diantara mereka buka suara setelah hampir 30 menit diam. Esther menoleh ke arah Surya, terlihat jelas bagaimana raut khawatir di wajahnya. Beberapa kali pula Esther mendengar Surya menghembuskan nafas. Tangan Esther mengusap lengan Surya dengan lembut. Senyum hangatnya seolah mengharuskan Surya untuk lebih tenang karena Esther ada disampingnya sekarang.
"Jangan tegang gitu ah. Rileks aja. Lo lagi nyetir, jangan sampai meleng. Gue gak mau mati muda ya, Sur, hahahaha," canda Esther mencoba mencairkan suasana hati Surya yang bergemuruh.
"Kalau mereka tetap kayak dulu gimana? Percuma dong kita jauh-jauh kesana? Putar balik aja kali ya?"
"HEH! YANG BENER AJA LO!? NGGAK, NGGAK ADA PUTAR BALIK!" tukas Esther. Apa-apaan putar balik, Esther justru ingin melihat Surya berdamai dengan masalahnya. Malah mau putar balik, aduh gimana sih Bara Surya Wardoyo tuh?
Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Menyibak rambutnya ke belakang supaya tidak menghalangi matanya. "Mana hari Sabtu lagi, pasti pada di rumah."
"Ya bagus dong. Lo bisa ngomong sama semua keluarga lo. Gini ya, Sur, mau mereka tetap nolak atau udah menerima keputusan lo, yang penting saat ini tuh lo udah berani mencoba. Jangan pesimis gitu dong. Anaknya Mayjen kok pesimis, berani dong!" ucap Esther menyemangati Surya. Berusaha membuatnya rileks. "Tenang. Ada gue disini."
Hati Surya kembali tenang setelah Esther menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ada Esther disini, ada seseorang yang selalu bisa menenangkannya. Surya mengangguk singkat dan fokus dengan jalan lagi. Walaupun tak bisa bohong kalau pikirannya kembali terngiang perkataan-perkataan Esther yang selalu berhasil membuat Surya merasa hidup. Sudah bukan rahasia kalau mereka berdua sudah satu langkah lebih dekat setelah berbicara empat mata dan dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka sepakat untuk sama-sama sembuh dan mencoba kembali sesuatu yang dulu sempat tertunda. Perlu sebuah kejadian besar yang membuat keduanya sadar kalau mereka masih sama-sama saling membutuhkan.
Itu juga yang menjadi alasan adanya Esther sekarang, duduk di samping Surya dalam perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Wardoyo. Esther selalu menemani dan selalu ada disaat-saat Surya terpuruk sekalipun. Tapi Surya yang terlambat menyadari kalau Esther lah yang selama ini dirinya cari. Surya terlalu dibutakan oleh kecantikan Tasya sampai melupakan sesuatu yang lebih penting daripada kecantikan.
"Makasih loh lo udah mau nemenin gue."
"Eits, nggak gratis tau!"
Satu alis Surya terangkat. Sedikit kaget rupanya Esther bisa perhitungan juga. Tapi tak masalah baginya, apapun yang Esther minta pasti akan Surya turuti. Karena Surya tahu kalau Esther tidak akan mungkin meminta rumah, mobil, apalagi berlian sebagai imbalannya. Mungkin makanan? Atau yah, mentok-mentok skincare lah. Masih sanggup Surya turutin walaupun memang harga skincare perempuan itu kadang-kadang ada yang bisa buat makan tiga hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanficSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)