[13.3] Pertahanannya Runtuh

214 31 10
                                        

Hari Jumat yang begitu cerah. Hujan badai kemarin lusa seperti hilang begitu saja. Kumandang adzan menggelegar di seantero kota. Pujian-pujian kepada Rasulullah begitu indah untuk didengar. Sandal berjajar rapih di luar masjid. Mobil dan motor memilih menepi di masjid besar pusat kota. Gerobak-gerobak tanpa penjual pun berdiam diri di area masjid dan orang-orang yang bergantian memasuki tempat wudhu pria.

Langit sudah di dalam masjid. Di barisan nomor tujuh dari depan. Membaca Al-Qur'an digital di ponsel pintar miliknya. Rambutnya basah, lengan kemejanya masih ia gulung setengah. Suara merdu Langit ketika melantunkan ayat suci membuat siapapun akan kecanduan mendengarnya. Sebuah rutinitas wajib di setiap Jumat siang sebelum sholat Jumat berjamaah ia laksanakan. Ponselnya bergetar, tapi Langit mengabaikan semuanya dan mengubah mode silent. Langit ingin fokus beribadah disini. Bukanya malah terusik oleh deringan ponsel..

Setelah sholat Jumat, Langit melihat notifikasi ponsel yang banyak panggilan masuk dari keluarganya. Dahi Langit mengernyit heran, tak biasanya kakak-kakaknya menelfon dirinya. Dengan perasaan yang berusaha tenang, Langit mendial nomor mamanya. Deringan kelima, barulah sang mama menjawab telfonnya yang langsung disambut oleh isak tangis mamanya.

"Halo? Assalamualaikum, ma. Mama kenapa nangis? Ma? Mama?" suara Langit mendadak panik ketika mamanya masih diam sambil menangis. Perasaan tenang itu sudah sirna, kini perasaan Langit menjadi tak tenang.

Langit masih diam menunggu mamanya merespon perkataannya. Membiarkan sang mama menenangkan diri dulu dan nanti akan menjelaskannya pelan-pelan.

"Papa sudah gak ada, Lang. Kamu bisa pulang sekarang?"

Bahunya merosot. Air matanya banjir. Langit menunduk berkali-kali saat orang-orang memperhatikan dirinya. Tangannya mengusap matanya kasar, buru-buru memakai sepatu dan bergegas melaju bersama motor hitamnya. Sepanjang jalan, pikirannya menari-nari, air matanya terus menetes tanpa henti. Sampai di rumah, Luna sedang membenahi pot mawar di taman depan. Gadis itu kaget ketika Langit datang dengan air mata bercucuran.

"Lang? Langit, what's happen? Ada apa? Kamu kenapa, hey?" Luna memegang bahu Langit kencang. Tubuh Langit ambruk di pelukan Luna. Siapkan halus membuat Luna iba, tangan putihnya mengelus pelan punggung Langit. Membiarkan kaosnya basah oleh air mata Langit.

"Papa.....papa gue....papa gue gak ada, Lun," ucap Langit masih sesegukan.

Mata Luna ikut berair. Menangis bersama Langit dan ikut merasakan kesedihan yang luar biasa. Motor besar dengan lampu sorot yang begitu silau membuat aksi menangis mereka terhenti sebentar. Surya datang dengan kernyitan di dahinya.

"Kalian kenapa?"

Mulut Langit masih kelu. Enggan menjawab pertanyaan Surya yang semakin membuatnya remuk. Luna memberitahu Surya yang sebenarnya. Mendadak bahunya juga melemas, Surya kenal siapa ayah Langit. Bahkan Surya pernah berlebaran di rumah Langit satu tahun lagi. Keluarga Langit sangat menerima kehadiran Surya, papa Langit juga sangat mengayomi Surya seperti anak sendiri. Luna masih setia mengusap punggung Langit yang bergetar hebat. Hembusan angin siang seperti mengantar duka hingga relung hati. Dedaunan runtuh layaknya pertahanan Langit yang selama ini dirinya bangun.

"Gue telfonin Esther sama Nadhira. Luna, lo beli tiket kereta sekarang. Naik mobil kelamaan, bakalan macet parah. Gue sekalian packing baju. Kita ke rumah Langit sekarang. Buruan," titah Surya tergesa. Dadanya ikut sesak ketika melihat sahabat yang biasanya selalu tersenyum ceria, kini runtuh hingga tak sanggup untuk sekedar tertawa renyah.

Langit duduk di meja makan, mengamati wallpaper ponselnya yang berisi keluarga lengkapnya. Terlihat sang papa yang tersenyum hangat di kursi bersama mamanya, memangku Evelyn, cucu pertamanya. Terdengar suara gedebuk keras dari arah tangga. Langit melihat Luna tersungkur di anak tangga terakhir, tangannya menenteng tali rafia panjang yang entahlah fungsinya untuk apa. Ringisan pelan itu membuat Langit beranjak dan membantu Luna berdiri kembali. Mata mereka bertemu, menyalurkan segala rasa yang tak mampu terucap.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang