[7.4/2] Tentang Tasya

125 20 3
                                        

Latar cerita setelah Surya dan Tasya pulang ke rumah masing-masing.

Happy Reading🌻

☀️☀️☀️

7.00 PM
At Tasya's Room

Percikan air yang mengalir deras dari shower begitu riang terdengar. Senandung merdu pun menjadi kawan setia busa-busa halus yang berterbangan. Sepersekian menit, seorang gadis berparas cantik keluar dengan rambut yang masih basah. Di kepalanya terlilit handuk dan tangannya menenteng skincare.

Tasya duduk di meja belajarnya. Menatap pantulan dirinya di layar komputer yang mati. Senyum manis terpatri indah bersamaan dengan degupan jantung yang membara. Tasya menutup wajahnya, membayangkan hari ini yang penuh kejutan. Mendengar kata demi kata dari bibir sang pujaan, oh ralat, sekarang sudah menjadi sang kekasih. Tasya tidak banyak berinteraksi dengan Surya, hanya beberapa kali terlibat project yang sama. Dan sesekali ke pameran bersama. Itu pun Surya pasti bersama teman-temannya, pun dengan Tasya bersama teman-temannya juga. Intensitas mereka berkomunikasi pun sedikit. Tapi entah Surya punya magnet apa, Tasya begitu mengagumi sosok Barra Surya yang kata orang-orang punya nyawa dimana-mana. Di mata Tasya, Surya seperti laki-laki yang selalu bekerja keras. Surya melakukan semua pekerjaannya dengan sabar dan telaten.

"KAK! MIKIRIN APA SIH?"

Gebrakan pintu membuat lamunan Tasya buyar. Adik bungsunya memasang wajah kesal diambang pintu. Membuat Tasya menatap aneh adiknya.

"Kenapa sih? Mau apa?" tanya Tasya kepada Thalia, si adik bungsunya.

For your information, Tasya adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Punya satu abang, yang waktu itu ketemu Surya di warung nasi goreng Mang Odin. Dan satu adik perempuan. Wajah mereka mirip, tak jarang orang menyangka kalau Tasya dan Thalia adalah anak kembar.

"Turun, dipanggil mama tuh," ujar Thalia.

Tasya menyisir asal rambutnya. Kemudian berjalan malas ke bawah, menemui mamanya. Dugaan Tasya meleset. Tasya kira, mamanya hanya memanggilnya tapi ternyata dihadapannya sudah duduk seorang wanita seumuran mamanya dan seorang laki-laki dengan tampang datarnya.

"Kak, kenalin ini tante Jessie. Ini anaknya, namanya Christian," kata mama Tasya mencoba memperkenalkan mereka.

"Aduh-aduh, Tasya udah gede banget. Dulu masih kecil, masih suka main pasir sama Tian. Cantik banget ya ampun sampai tante pangling loh," ujar tante Jessie ramah. Tasya hanya tersenyum canggung. Melirik sekilas laki-laki itu dan tidak ada pergerakan sama sekali. Bahkan, menatap Tasya pun tidak.

Tante Jessie menyenggol lengan Christian pelan, "Tian, ayo kenalan dulu."

"Christian."

"Tasya."

Keduanya berjabat tangan singkat. Sedetik kemudian, Christian kembali pada ekspresinya. Tasya berdecih dalam hati. Angkuh sekali cowok ini, begitu batin Tasya. Mama Tasya dan tante Jessie sibuk bercengkrama. Tasya heran, untuk apa mamanya menyuruhnya turun jika ujung-ujungnya dianggurin seperti sekarang?

"Tian, ngobrol dong sama Tasya. Ih gimana sih, kok sekarang kayak orang gak kenal gini. Dulu tuh ya, kalian selalu nyanyi bareng setiap ke gereja. Terus main-main juga ke playground deket gereja sana. Masa kamu lupa?" ujar tante Jessie penuh semangat. Tasya mengingat kembali, dirinya bahkan lupa kalau punya teman masa kecil bernama Christian. Dan Christian sepertinya juga lupa.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang