[6.4] Rasa

194 31 0
                                        

Malam yang tenang ditemani semilir angin. Hiruk pikuk jalanan kota, terlihat gemerlapan dari atas sini. Lampu-lampu bertabrakan, menjadi satu bersama bisingnya kendaraan. Suara tawa memenuhi ruang outdoor yang malam ini ramai. Menggambarkan suasana kafe kekinian berpemandangan kondisi kota secara langsung. Petikan gitar dan alunan melodi tak luput dari indra pendengar. Lautan remaja seperti bergelung menjadi satu di tempat ini.

Surya duduk disalah satu kursi yang berhadapan langsung dengan langit malam. Memandang tiga orang dihadapannya yang sedang bercengrama. Sesekali menyesap cappuccino dan mengisap nikotin ditangannya. Beberapa diantaranya sengaja menyemburkan asap diudara.

"Jadi gimana, Sur? Lo jadi gak ikut muncak?" tanya salah satu diantara mereka yang mengenakan kupluk merah dengan kacamata nyentriknya.

"Kayaknya gak bisa. Gue minggu depan ada janji," jawaban Surya membuat ketiga orang itu berdecak.

"Janji apa sih? Penting banget emang?"

Surya memperbaiki posisi duduknya, sedikit menegakkan badannya, "Penting. Udah ya, gue cabut."

Dengan begitu, Surya meninggalkan ketiga rekan sesama fotografer di tempatnya bekerja. Bisa dibilang, Surya kurang akrab dengan mereka. Tapi, bukan Surya namanya kalau tidak duduk berbincang bersama orang lain. Surya menuruni anak tangga dengan malas, berpas-pasan bersama orang-orang yang naik. Kafe estetik kenamaan terasa sangat membosankan ketika Surya menapakinya. Parkiran kafe yang semula sepi, sekarang menjadi padat lantaran waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.

Surya mengeluarkan motor Esther. Jangan lupakan fakta kalau si Bleki alias motor gede Surya lagi menginap di bengkel. Satu tarikan pedal sudah membuat Surya membaur bersama kendaraan-kendaraan malam ini. Tidak sepadat yang Surya lihat dari atas sana, hanya ramai. Sesuatu mengusik Surya, perutnya keroncongan. Surya hanya pesan segelas cappuccinno dan satu slice tiramisu cake. Mana kenyang kalau kata Langit. Mendadak pikirannya tertuju pada nasi goreng Bang Odin kesukaan Langit. Dengan semangat, Surya memacu motornya ke jantung kota. Berharap warung nasi goreng disana tidak mengantri seperti kereta api. Nafasnya berhembus pelan ketika mendapati waring nasi goreng Bang Odin masih seramai biasanya.

"Bang, nasi goreng 4 bungkus. Dua pedes, dua pedes banget. Tiga babat, satu ayam. Yang pedes banget yang ayam ya, bang," pesan Surya pada karyawan disini.

"Siap! Monggo ditunggu."

Surya menelisik sekitar. Matanya tak sengaja menangkap seseorang yang begitu ia kenal. Sedang makan bersama seorang laki-laki sambil bercanda tawa. Surya mencoba positif thinking. Berjalan mendekat seolah-olah gemuruh didadanya bukanlah masalah. Menampilkan senyum terpaksa yang terlihat natural.

"Eh, Tas, disini juga?"

Sudah bisa ditebak siapa itu. Tasya mendongak," Suryaaa?? Iya nih, lagi makan sama abang gue. Duduk-duduk."

Senyum terpaksa berubah menjadi senyum cerah. Surya duduk disamping laki-laki yang Tasya sebut abangnya.

"Hallo, bang, saya Surya, temen kampus Tasya."

Abang Tasnya memandang Surya dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti tatapan mengitimidasi atau tatapan harimau yang siap menerkam mangsanya. Surya bergidik, baru kali ini merasa hawa dingin lewat tatapan seseorang.

"Gue Dhito, abangnya Tasya."

"O-oh, iya, salam kenal, bang."

Tasya lantas berdehem singkat. Mencoba menutus eyes contact yang abangnya lakukan.

"Eeee, udah pesen, Sur?" tanya Tasya riang. Mencairkan suasana kaku yang mendadak menyergapi meja nomor 7.

"Udah kok. Mungkin lagi dibungkusin, iya hehe," ujar Surya kikuk. Benar-benar atmosfer diantara mereka membuat Surya sesak nafas sejenak.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang