Cerah dan berawan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan cuaca pagi ini. Klakson yang bersahut-sahutan menjadi backsound merdu. Matahari pagi yang perlahan-lahan naik menuju singgasananya. Mobil box dengan label salah satu jasa kirim berjejer rapih di sebuah tempat sortir paket. Dan, antrean panjang disebuah bank yang terlihat penuh sesak.
Pukul 8 pagi, Esther sudah duduk manis di jok belakang motor Daren. Rencana mereka hari ini adalah mengunjungi salah satu perusahaan makanan instan untuk meminta nasihat seputar penelitian. Sekaligus untuk melihat-lihat kondisi perusaan yang akan menjadi tempat penelitian keduanya. Esther heran, Daren bisa saja memilih di rumah sakit besar yang lebih baik dibanding perusahaan yang mereka tuju. Tapi, Daren lebih memilih untuk mengajukan di perusahaan yang sama dengan dirinya. Bolehkah Esther percaya diri kali ini?
"Ther, laper gak?"
Esther memajukan sedikit badannya. Suara bising membuat telinganya sedikit budek. "HAH? APA, REN? GUE GAK DENGER."
"LAPER GAK? SARAPAN DULU, YUK?"
Daren sedikit terkekeh, barusan adalah hal random yang selalu mereka alami saat duduk di motor berdua. Pasti salah satunya budek.
"Oh, ayok deh. Makan apa? Bubur ayam? Atau nasi uduk?" tanya Esther dengan nada yang kembali normal.
"Buryam enak deh kayaknya. Deket pasar sana kata nyokap gue enak, mau coba gak?"
Esther mengangguk singkat, "Boleh."
Motor Daren melaju. Menekan sein kiri ketika plang bertuliskan nama pasar tradisional mulai terlihat. Bau khas pasar langsung menyapa indra pencium. Seperti pasar pada umumnya, ramai dan sesak oleh rutinitas orang-orang disini. Daren memperlambat lajunya, sesekali mengumpat ketika seorang kuli panggul main nyelonong begitu saja tanpa lihat kanan kiri. Mereka berdua menepi, akhirnya sampai di tukang bubur yang kata mama Daren enak ini.
"Yuk?"
Mereka masuk ke dalam tenda sederhana. Dari sekian meja, hampir seluruhnya terisi. Menyisakan dua meja kosong di sudut tenda. Daren menyuruh Esther menunggu di salah satu meja, sedangkan Daren sendiri memesan dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat sebagai teman makannya kali ini.
"Gila, rame juga, ya. Enak beneran ini mah, Ren. The best emang mama lo," ucap Esther sambil membenahi hijab pashmina miliknya yang sedikit rusak karena habis pakai helm.
"Hahaha, mama selalu gitu. Up to date banget masalah kuliner. Dari yang pinggir jalan, murah, mahal, sampai berkelas pun tau. Hobi banget hunting makanan."
"Mama lo kalau jadi mak gue bakalannya gue ajak keliling Indonesia buat kulineran. Asli, seru banget kayaknya."
Daren tertawa. Mama Daren adalah mantan chef. Katanya, pernah bekerja di kapal pesiar dan hotel bintang lima. Tapi, semenjak punya anak, mamanya memilih resign dan fokus mengurus anak-anaknya. Itu kenapa Daren masuk jurusan Ilmu Gizi, karena selain mamanya suka masak, Daren juga pengen makan makanan sehat sesuai dengan kebutuhan gizi.
"Nih, mangga atuh dinikmati aa kasep, eneng geulis, mangga."
"Makasih, pak."
Esther adalah tim bubur tidak diaduk. Jadi, tanpa basa-basi, Esther sudah menyendokkan buburnya. Sensai hangat dicampur lembutnya bubur menggerogoti rongga mulutnya.
"Gimana? Enak nggak?" Daren sudah bisa menebak jawabannya. Hanya mencoba memberi topik obrolan diantara mereka.
"ENAK BANGET!" seru Esther semangat. Wajahnya berseri-seri, kalo kata Langit seperti ada emotikon ✨ alias emotikon cling-cling.
Mereka berdua menikmati bubur ayam dalam diam. Beberapa pelanggan sudah pergi, menyisakan tiga meja dengan pelanggan yang sibuk dengan bubur dihadapannya. Daren selesai duluan. Memutuskan untuk membuka aplikasi chatting, mengabari rekan-rekan satu timnya kalau dirinya masih di warung bubur ayam. Esther cepat-cepat menyelesaikan makannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)