Tak tahu bagaimana asal muasal cerita ini bisa dimulai dengan suara musik yang begitu memekakkan telinga, orang-orang yang bernyanyi bersamaan, hingga ayunan tangan dan sorak sorai heboh para manusia disini. Bulan pun menyingsing bersama taburan bintang. Angin malam yang biasanya begitu dingin pun tak mampu melawan pengapnya udara di tengah kerumunan massa. Dua bersahabat yang konon katanya telah bersahabat semenjak di dalam kandungan ini masih asik menikmati konser penyanyi lokal. Tapi tidak seperti kebanyakan orang yang memilih untuk berdesakan sambil bernyanyi bersama, mereka justru menepi dan menikmati konser dari kejauhan.
Seperti janji Langit waktu itu, akhirnya dirinya membawa Esther ke konser seorang penyanyi yang sudah terkenal seantero Indonesia dengan lagu-lagu galaunya. Keduanya hanyut dalam petikan gitar dan suara merdu sang penyanyi.
"Bila kau butuh telinga tuk mendengar. Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung," Esther berdendang pelan mengikuti irama musik. Matanya fokus pada penampilan penyanyi asal Bandung yang tak usah diragukan lagi ketenarannya.
"Pasti kau temukanku di garis terdepan. Bertepuk dengan sebelah tangan."
Langit enggan menganggu sesi galau Esther. Memutuskan untuk merekam momen saat ini menggunakan kamera ponselnya. Sekaligus menjadi bahan pamer untuk Surya yang sekarang juga sedang berlibur di kotanya. Sekarang sudah pukul 9 malam, yang mana artinya mereka sudah disini sekitar 3 jam. Khusus hari ini mereka akan menjelma menjadi dua manusia melow yang ngonser di tepian.
"Akulah orang yang selalu ada untukmu. Meski hanya sebatas teman. Yakin kau temukanku di garis terdepan. Bertepuk dengan sebelah tangan."
Meski hanya sebatas teman....
Lirik lagu itu sangat cocok menggambarkan bagaiman Esther yang hanya sebatas teman kosan bagi Surya. Dan bagaimana seorang Esther selalu ada untuk laki-laki itu setiap kali Surya merasa jatuh. Keduanya saling mencari, tak sadar ternyata mereka ada di depan mata.
Langit berdecih geli. Berbisik pelan di telinga Esther, "Lagunya lo banget ya, Ther?"
"Hah? Apa? Nggak kok," sahut Esther berusaha keras menandingi suara sound system di atas panggung.
"Udahlah, kalian tuh nunggu apa lagi sih?"
Mulut Langit diremas oleh Esther. Perempuan itu kepalang gemas dengan Langit yang sukanya ceplas-ceplos. Walaupun di dalam hati Esther juga membenarkan apa yang Langit katakan. Surya dan Esther sudah di tahap dimana mereka telah mengikhlaskan cinta lama yang berakhir tak mengesankan. Sudah bertekad untuk memperbaiki hubungan yang dulu sempat dimulai, namun belum terselesaikan dengan baik. Setelah semuanya membaik seperti sekarang, keduanya justru disibukkan dengan segala macam perkara duniawi seperti misalnya skripsi, sidang, dan sebentar lagi akan wisuda. Cukup banyak waktu yang mereka berdua habiskan dengan urusan kampus sampai mereka lupa kalau masih ada hati yang menunggu.
"Gak tahu gue, Lang. Mungkin nanti kalau ketemu bakal gue omongin lagi sama Surya. Biarin dulu lah dia happy-happy sama keluarganya. Kasian juga udah lama gak ngabisin waktu bareng keluarga," ujar Esther tenang.
Pemuda disebelahnya mengangguk setuju, "Kalau ini gue setuju."
Mereka masih berdiri bersandar di pagar pembatas yang jaraknya sedikit lebih jauh dari kerumunan penonton. Sorakan penonton mulai terdengar riuh ketika sang penyanyi mulai memainkan lagu yang begitu familiar di telinga Langit. Kalau lagu tadi itu mempresentasikan perasaan Esther dan Surya. Maka kali ini adalah waktunya Langit untuk ikut memeriahkan konser kali ini.
"DAN TUNGGULAH AKU DISANA. MEMECAHKAN CELENGAN RINDUKU~"
"BERBONCENGAN DENGANMU MENGELILINGI KOTA. MENIKMATI SURYA PERLAHAN MENGHILANG~"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)