Langit gelap yang kosong tanpa taburan bintang, awan kelabu menutup sinar bulan yang memaksa keluar untuk bersinar. Kelap-kelip lampu kendaraan dan sapuan udara dingin menusuk kulit. Menurut perkiraan cuaca, pukul 9 malam akan turun hujan disertai petir. Gemrusuk suara radio tua di sebuah warkop depan stasiun menemani orang-orang yang sedang duduk santai dengan kopi hitam dan aneka gorengan.
Langit memesan satu cangkir kopi susu dan mencomot satu bakwan dari nampan gorengan. Matanya masih setia melihat roomchat WhatsApp dengan sang pengirim yang sedari tadi sedang mengetik. Hampir 20 menit Langit menunggu datangnya seseorang yang tiga hari lalu pulang kampung. Sejak tadi pagi, Langit sudah ribut menyuruh orang itu untuk hati-hati di perjalanan. Ya, Langit sedang menunggu Nadhira di stasiun kota. Kekehan kecil Langit mengundang tatapan tanya seorang bapak-bapak disebelahnya. Membuat Langit tersenyum kikuk dan lanjut menyesap kopi susu hangat yang masih utuh.
"Nungguin siapa, mas?" pertanyaan itu berasal dari bapak-bapak yang tadi menatap Langit heran.
Langit menelan sisa bakwan dan mengusap bibirnya cepat, "Nunggu teman, pak."
"Jangan panggil pak lah, saya masih umur 27."
"A-ah, iya, maaf. Masnya nunggu siapa?"
Laki-laki yang Langit kira bapak-bapak itu melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Menghembuskan nafas berat dan menatap Langit dengan tatapan sendu, "Baru pulang nganterin penumpang. Saya supir taksi di sini. Masih nunggu satu orderan lagi baru bisa pulang."
Tatapan takjub Langit tak bisa bohong. Usianya masih 27 tahun, tapi dirinya memilih untuk menjadi sopir taksi. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan seseorang. Pikir Langit, mas itu masih sangat muda dan bisa berkarya atau bekerja yang sesuai dengan dirinya untuk hidup lebih nyaman kedepannya. Memilih untuk menjadi sopir taksi itu adalah pilihan yang sangat membingungkan bagi Langit.
"Maaf, bukannya apa. Mas gak nyoba kerja yang lain? Saya pikir, usia mas masih bisa kerja di kantoran atau buka bisnis sendiri," ucap Langit hati-hati. Si mas tertawa pelan dan mengusap bibirnya dengan tangan kirinya. Orang-orang di warkop ini seperti tuli dengan percakapan dua orang yang punya prespektif yang berbeda soal pekerjaan. Gemuruh pun seperti tak peduli dengan tatapan penuh beban yang tergambar jelas di mata mas ini.
"Sudah. Kurang cocok, gaji gak sesuai, pokoknya susah. Berkali-kali saya masukin lamaran kerja. Eh, begitu keterima malah slek sama atasan, yaudah dipecat," si mas itu menghembuskan nafas beratnya untuk kesekian kali. "Dunia kerja gak kayak kuliah yang kalau dapat nilai C bisa ngulang SKS."
Benar! Langit setuju dengan ucapan mas-mas asing satu ini. Jauh di dalam hati, Langit pun merasakan ketakutan yang sama. Terlebih Langit adalah anak bungsu, harapan terakhir keluarga dan akan menjadi kepala keluarga nantinya. Semua tak mudah, bahkan untuk memikirkannya saja Langit hampir menyerah. Merasa dirinya kurang dalam aspek apapun dan merasa kalau dirinya tak berguna. Hidup Langit yang selalu terlihat bahagia dan penuh canda hanya sebuah tameng.
Mas-mas asing itu menatap ponselnya dengan mata berbinar. Tersenyum cerah lalu menatap Langit sekilas, "Mas, saya duluan. Dapet penumpang nih. Makasih udah dengerin curhatan saya tadi hahaha."
Kemudian, dirinya membayar kopinya dan berlalu meninggalkan warkop. Menghampiri mobil biru yang khas dengan salah satu jasa taksi. Langit menatap kosong bangku disampingnya. Entahlah, malam ini Langit merasa tertampar realita kalau dunia kerja itu tak semenyenangkan yang ia pikirkan. Bising-bising di luaran sana tak membuat pikiran Langit tenang. Justru semakin membuat benang kusut di kepalanya semakin rumit tak beraturan. Waktu yang salah untuk Langit overthinking.
Deringan ponsel pintar mengalihkan lamunan Langit tentang masa depannya. Menggeser ikon hijau dan mengangkat panggilan suara dari orang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Langit mengeluarkan selembar uang dua puluhan dan menyerahkan pada ibu pemilik warkop. Berjalan tergesa dengan telfon yang masih setia di telinganya. Terus memberi kabar dimana posisinya dan menanyakan kembali dimana posisi Nadhira saat ini. Lambaian tangan seseorang yang sangat ia kenal membuat senyumannya merekah. Langit mematikan ponselnya dan berlari kecil menghampiri Nadhira bersama satu koper dan tas punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
Fiksi PenggemarSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)