[11.2] Yang Sebenarnya

206 33 12
                                        

Hiruk pikuk kota metropolitan yang khas dengan polusi udara. Dengungan klakson bersahutan silih berganti. Lampu merah yang bergantian dengan lampu hijau, menjalankan tugasnya di siang bolong yang terik. Lonceng berbunyi, menampakkan orang-orang yang hendak meneduh dari bisingnya kota untuk sekedar duduk sambil ngopi. Patung kucing emas yang tangannya selalu berayun senantiasa menemani sang kasir melayani pembeli. Semprotan berbau segar memenuhi ruangan, terlihat seorang pegawai tengah membersihkan meja-meja kotor dengan serbet. Mobil-mobil berjajar rapi di depan sebuah gedung pencakar langit. Menampilkan pemandangan area perkantoran yang sibuk dan padat.

Dua anak manusia yang ambis. Itulah gambaran Esther dan Daren dimanapun mereka berada. Sudah bukan jadi rahasia umum kalau mereka berdua seperti adu pintar kalau kelas sedang berlangsung. Dua pentolan jurusan Ilmu Gizi yang digadang-gadang akan menjadi raja dan ratu Fakultas Kesehatan Masyarakat. Duduk berdua di sebuah kafe dekat kampus, dengan laptop dihadapan masing-masing dan dua cangkir kopi yang sisa setengahnya. Pun dengan piring-piring bekas kue yang tadi mereka pesan.

"Yash, gue selesai. Lo udah belum?" Daren merenggangkan otot-ototnya. Menatap sekitar kafe yang ternyata diisi mahasiswa seperti dirinya. Esther masih bergeming di tempatnya. Jari-jarinya sibuk menari-nari di papan tuts dengan riangnya. Seolah tak boleh ada jeda sedetik pun.

"Dah, selesai juga!" pekik Esther senang.

"Hahaha good job."

Daren mengusap kepala Esther yang tertutup hijab pashmina hitam. Senyuman keduanya merekah. Tanpa sadar ada sesuatu yang meronta-ronta, jantung mereka berdua yang sedang disko di dalam sana. Masih pukul 11 siang dan mereka sudah disini selama satu jam lebih. Kebetulan, hari ini Esther dan Daren hanya menghadiri satu kelas yang mulai pukul 8 dan selesai pukul 9 tadi. Jadi, karena ada tugas makalah, mereka berdua memutuskan untuk mampir ke kafe dan menyelesaikannya. Seperti manusia pintar pada umumnya, mereka hanya butuh waktu satu jam lebih lima belas menit untuk mampu menyelesaikan tugas makalah.

"Habis ini mau kemana? Ada janji gak?"

Esther menggeleng, "Paling langsung pulang. Agak ngantuk sih gue. Kenapa? Lo mau ngajak jalan-jalan ya?"

"Tau aja lo. Ke danau, yuk?" ajak Daren.

"Boleh deh. Sebentar aja, ya?"

"Oke."

Keduanya membereskan laptop dan bolpoin yang berserakan diatas meja. Selepas itu, mereka berdua menghampiri kendaraan masing-masing. Melaju dengan santai menuju danau buatan. Hamparan air yang mengalir tenang dan daun-daun yang berjatuhan di jalan setapak membuat suasana sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Menjadi obat dari segala penat yang tadi mereka berdua rasakan. Esther menghirup udara dalam-dalam, merasakan rongga dadanya dipenuhi udara alami disini. Danau buatan ini sedikit jauh dari pusat kota yang berpolusi. Jadi, udaranya pun sedikit terasa berbeda dibanding udara kota. Daren dan Esther duduk di salah satu bangku yang menghadap danau langsung. Dibawah pohon beringin muda yang daunnya masih hijau rindang.

"Udah ada gambaran mau kerja dimana?"

Pertanyaan seperti itu memang selalu menjadi makanan pokok ketika Esther berbincang bersama Daren. Tugas, himpunan, laporan, praktikum, dan sekarang kerja. Selalu membahas hal-hal yang bersangkutan dengan kuliah, Daren tak pernah sekalipun mengungkit masalah hubungan mereka. Sebenarnya mau dibawa kemana kedekatan ini?

"Ren, gue bosen bahas kuliah terus sama lo," ucap Esther berterus terang.

"Terus mau bahas apa?"

Esther tersenyum sarkas. Tangannya menggaruk pangkal hidung yang tak gatal, "Bahas kita. Kita ini apa?"

"M-maksud lo? Hubungan kita? Kenapa tiba-tiba?" rautan bingung sekaligus kaget begitu tergambar jelas. Menjadi bukti kalau Daren memang masih enggan untuk membicarakan perihal hati. Tapi Daren juga harusnya tak egois, tak hanya Daren yang bimbang. Esther pun sama. Terlalu dekat dengan laki-laki tanpa status yang jelas, ditambah rumor-rumor aneh yang orang katakan tentang dirinya.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang