[9.1] Before the Day End

214 32 17
                                        

Komplek perumahan masih terlihat aktivitasnya. Beberapa orang berlalu-lalang di bawah sana. Petikan melodi dari gitar membuat suasana syahdu. Angin malam menyapa lembut ceruk leher yang membuat bulu kuduk meremang. Bulan dan bintang masih malu-malu menampakkan binarnya. Tertutup awan kelabu yang sedikit menakutkan. Malam ini berawan. Menurut ramalan cuaca, dalam beberapa jam ke depan akan ada hujan deras. Tapi, walaupun udara dingin menusuk, keempatnya masih betah berlama-lama duduk di balkon ditemani iringan gitar.

Luna duduk bersandar, disebelahnya ada Esther yang sibuk mengunyah kentang goreng. Lalu, ada Langit yang duduk di atas bean bag sambil memetik asal senar gitar. Sedangkan Surya rebahan di karpet dengan mata terepejam. Entah dia sedang tidur atau pura-pura merem.

"Nyanyi kek, Ther. Makan mulu lo!" seru Langit merebut piring berisi kentang goreng dari hadapan Esther. "Nyanyi apaan? Gue malas ah. Siniin kentangnya! Gue tampol ya, Lang!"

Langit semakin gencar menjahili Esther, sampai-sampai Surya kembali membuka matanya karena kepalanya kesenggol kaki Langit. Laki-laki macung itu sudah bersiap-siap kabur kalau Surya marah, tapi nyatanya, Surya cuma berdecak dan melanjutkan meremnya.

"Ke kamar aja, Sur, kalau mau tidur. Disini Langit berisik banget soalnya," suruh Luna. Tangannya menggoyangkan lengan Surya yang dijadikan bantal. Mata Surya terbuka perlahan, lalu menatap hamparan langit kelabu dengan tatapan kosong.

"Belum ngantuk gue."

Jawaban Surya membuat Langit mencibir, "Belum ngantuk kok merem!"

"Kalau mendung aja belum tentu hujan, berarti merem belum tentu tidur," celetukan Esther mengundang tatapan jahil dari Langit lagi.

"Terus berarti deket belum tentu jadian. Iya gak, Ther?" Langit menaik turunkan alisnya. Esther menendang betis Langit dengan brutal, membuat Surya dan Luna tertawa puas melihat ekspresi kesakitan Langit.

Esther malas memikirkan hal ini lagi untuk kesekian kalinya. Hanya bisa pasrah menunggu bagaimana waktu menjawab semuanya. Biarlah ini menjadi urusannya karena Daren pun sebenarnya tidak salah. Esther hanya merasa kalau dirinya yang terlalu berharap lebih kepada Daren. Sejauh ini Esther masih nyaman dengan status teman. Tapi terkadang, hatinya ingin kejelasan tentang perilaku-perilaku Daren yang menurutnya tidak bisa dikatakan perilaku sebagai seorang teman biasa. Tapi Esther bisa apa? Hanya bisa menunggu apakah takdir baik menyapa dirinya atau justru berbalik menjauhinya.

"Lo gak ngapel, Sur? Malam minggu loh ini," alih Esther berusaha menyudahi pembahasan tentang jadian-jadian yang membuatnya pusing.

"Ngapel siapa? Surya punya gebetan?"

Semuanya saling bertatapan. Esther menutup mulutnya. Lupa kalau Surya belum memberitahu Luna kalau dirinya sudah punya pacar. Langit menatap Surya was-was, tapi Surya hanya memasang wajah santai. Mereka berempat memang jarang membahas asmara. Tapi mereka selalu bercerita apapun yang terjadi. Kalau kata Luna, komunikasi yang jujur antar sahabat itu penting. Jadi, kalau suatu saat ada yang punya pacar, diharapkan tak ada hal yang tak diinginkan terjadi karena mereka berempat tinggal di satu rumah yang sama.

"Tasya. Gue jadian sama dia," kata Surya santai sambil mencomot keripik singkong kemasan yang terbuka mengenaskan. Mengunyah perlahan sampai bunyi gemletuk hasil perpaduan antara keripik dan gigi yang mengunyah begitu terdengar nyaring.

Luna melotot kaget, Surya pernah cerita tentang Tasya. Tapi Luna belum pernah bertemu gadis yang katanya primadona kampus itu. "Hah? Sejak kapan? Kalian berdua tau?"

"Lo doang yang baru tau hahaha," canda Surya yang mendapat geplakan super dari Luna. Bukannya apa, Luna hanya kesal karena dirinya menjadi si paling dungu karena tak paham apapun mengenai hubungan Tasya dan Surya yang sudah berjalan selama dua minggu lebih.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang