Sebelumnya aku mau bilang, kali ini pakai sudut pandang orang pertama di sebagian cerita. Jadi, Esther akan bercerita tentang siapa dirinya dan bagaimana masa lalunya.
Semoga suka, Happy Reading 🌻💛
•••
[ESTHER POV]
Hallo, gue Esther Laksita, mahasiswa Ilmu Gizi di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Gue gak sabar mau cerita banyak tentang kisah gue hahaha. Intro dulu kali ya? Oke intro dulu deh.
Sekarang gue ada di kamar. Hari ini lumayan mendung, jadi gue malas berlama-lama di luar rumah. Di rumah cuma ada gue dan Langit. Luna kayaknya masih perjalanan pulang karena ini udah jam 2 siang. Bunyi gemuruh sesekali terdengar. Awan-awan hitam mulai berkumpul, siap mengguyur bumi dengan limpahan airnya. Kalau dilihat, hari ini mungkin bakal hujan deras sampai malam. Dihadapan gue ada secangkir susu coklat hangat yang baru gue seduh. Kertas-kertas berserakan di meja belajar, bolpoin berceceran dari kotaknya, sampai laptop yang masih menyala menampilkan deretan kalimat disertai gambar. Yap, gue habis mengerjakan tugas powerpoint yang harus gue selesaikan hari ini juga.
Semesta sedang berbahagia hari ini, dirinya melimpah ruahkan keberkahan berupa air hujan yang begitu banyaknya. Jendela yang semula terbuka lebar, perlahan gue tutup rapat. Daripada air hujan masuk ke dalam kamar, lebih baik gue antisipasi tutup jendela dulu sebelum hujan semakin deras. Masih di kursi kesayangan gue, dari sini gue bisa melihat hembusan angin yang begitu kencang. Pohon-pohon berayun kesana-kemari mengikuti irama angin. Gue mendengar pagar yang dibuka. Itu pasti Luna. Tebakan gue benar ketika gue mendengar suara pintu terbuka dari seberang kamar gue. Handphone gue bergetar, sosok yang gue amat sayangi menelpon.
Papa is calling...
Yap, papa gue. Orang yang paling-paling gue sayang di dunia ini. Dengan riang gue menangkat telpon beliau.
"Hallo."
"Hallo, assalamualaikum. Kamu lagi dimana? Lagi ngapain?" tanya seseorang tersebut diseberang sana.
"Waalaikumsalam. Di rumah atuh. Papa lagi kerja?"
"Iyaa. Tapi ini udah selesai. Gimana kuliahnya? Cukup nggak itu uang sakunya?"
Gue tertawa, papa memang selalu bisa bikin gue ketawa. Papa adalah orang yang asik dan humoris. "Cukup dong. Emang kalau kurang mau papa tambahin?"
"Hahaha bisa aja."
Cukup lama gue berkabar dengan beliau, sampai akhirnya panggilan diakhiri karena papa mau pulang dulu. Papa gue seorang usahawan, alhamdulillah, bisnis papa berkembang pesat. Bahkan sekarang sudah punya cabang di berbagai tempat. Kakak sulung gue terjun langsung membantu papa mengelola usahanya. Dan suami kakak kedua gue juga ikut terjun dalam dunia bisnis. Bisa dibilang, gue melenceng dari mereka semua. Gue memilih lanjut kuliah dijurusan yang gue minati alih-alih ikut terjun dalam dunia bisnis. Syukur banget, keluarga gue adalah keluarga yang supportif. Mereka mendukung gue sepenuhnya dan menghargai apapun tujuan gue, selagi tujuan itu baik dan gak merugikan.
"Estheeerrr~ aku makan mie yaaa?"
Masih enak cerita tentang keluarga, suara dari luar kamar terpaksa menyudahi pembahasan itu. Gue membuka pintu yang disambut dengan wajah memelas Luna. Gue gemas sama anak satu ini. Ada yang bilang kalau gue keibuan. Iya, karena itu harus gue lakukan ketika disini. Lihat aja deh, gue berhadapan dengan jiwa anak SD yang merangkap pada raga anak kuliahan semseter 5. Jujur, dari dulu gue selalu pengen punya adik. Di sekolah dulu, teman-teman gue selalu bercerita soal adiknya. Tapi gue gak punya adik sendiri. Dan Tuhan mengabulkan keinginan gue sekarang, di tanah perantauan. Disini gue punya dua adik. Secara umur, Luna dan Langit ada dibawah gue beberapa bulan, sedangkan Surya lebih tua dua bulan dari gue. Tapi, Luna lebih terlihat seperti adik kecil bagi kita semua. Kalau Langit fleksibel, dia bisa jadi abang yang baik tapi juga bisa jadi adik yang manja. Surya beda lagi, dia lebih kelihatan dewasa dan gak banyak menunjukkan perhatiannya. Walaupun gue tahu, kalau Surya sebenarnya sayang banget sama anak-anak Semesta. Gue benar-benar bersyukur bertemu mereka. Entah sudah berapa kali gue bilang itu, tapi memang gue sebersyukur itu. Esther yang dulu selalu menganggap kalau punya banyak teman itu menyenangkan. Tapi ternyata, semakin dewasa gue paham kalau teman yang sesungguhnya itu susah dicari. Gue dulu cuma seorang kacung, seorang yang cuma bisa terombang-ambing di arus yang kejam. Lalu kemudian gue memilih untuk melepas arus itu dan menemukan jalan gue. Menemukan teman dan sahabat yang selama ini gue impikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)