Siang yang tak bersahabat, awan mendung menutupi sebagian besar kota yang masih sibuk bertarung melawan kerasnya dunia. Bapak sopir angkot seperti tak peduli dengan awan gelap, tetap melajukan kendaraan kuning bersama handuk biru lusuh miliknya. Pun dengan aktivitas di pom bensin yang begitu ramai dengan kendaraan-kendaraan yang kelaparan. Pohon trembesi bergoyang ketika angin dingin menyapanya. Sebuah truk molen berjalan lambat di sisi kanan jalan raya. Anak kecil berjalan kesana-kemari menawarkan koran lini masa, manusia silver yang berjoget-joget di depan lampu merah sambil membawa toples berisi uang recehan, dan pedagang minuman yang berkeliling menawarkan dagangannya. Kota yang sibuk dibawah awan kelabu.
Menepi sedikit dari penatnya kota, dua sejoli yang minggu lalu telah memantapkan hati sedang duduk lesehan di sebuah rumah modern bercat abu-abu. Dimana lagi kalau bukan di rumah Semesta. Selepas Dzuhur, mereka memutuskan untuk ke rumah Semesta dibanding berkelana ditengah cuaca mendung seperti sekarang. Beberapa kali Nadhira mengunjungi Langit disini, tapi tak pernah lama karena sungkan dengan penghuni yang lain.
"Mau makan gak? Tapi lagi gak masak. Delivery aja gimana?" ujar Langit yang sudah mengalihkan fokusnya dari laptop.
Bukannya pacaran layaknya orang yang sedang dimabuk cinta, mereka berdua justru sibuk mengerjakan tugas yang semakin hari semakin membuat pusing kepala. Nadhira menyiapkan bahan ajar untuk menjadi PPL dua bulan lagi dan Langit pun menyusun laporan magang untuk minggu ini.
"Boleh. Terserah deh. Luna belum pulang? Beliin sekalian aja kalau mau," saran Nadhira yang diangguki Langit.
Setelah keberangkatan Wisnu ke Jerman, Luna seperti semakin menyibukkan diri untuk bersosial. Bahkan dirinya ikut ke dalam jajaran volunteer di kampusnya. Sebuah keajaiban seorang Luna mau melakukan kegiatan sosial seperti itu. Baru akan menekan aplikasi delivery online, sebuah motor pink berhenti di depan pagar. Sang pengemudi membuka pagar lebar dan memarkirkan motornya di samping motor gede Surya.
"Assalamualaikum, eh, ada Nadhira. Udah lama? Kok gak ke atas aja?"
Langit dan Nadhira menjawab salam bersamaan. "Mendung, dingin," kata Langit singkat.
"Oh iya, Langit mau pesan makan. Mau sekalian gak?" Nadhira menunjuk Langit yang sedang sibuk scroll aplikasi delivery online yang banyak digunakan orang-orang.
Gadis itu melepas sepatunya dan menaruh di rak samping pintu. Kemudian duduk sebentar di sofa ruang tamu dan mengangguk pelan, "Mau-mau. Mau makan apa?"
"Gue pengen bakso deh. Lo mau apa?" Langit mengalihkan pandangannya ke atas. Lebih tepatnya ke arah Luna yang duduk di atas sofa.
"Samain aja lah, biar nggak ribet."
"Oke."
Kemudian ruang tamu yang jarang dipakai oleh penghuni rumah hanya diisi obrolan ringan antara Nadhira dan Luna. Keduanya sibuk membicarakan konser band indie yang katanya akan diselenggarakan weekend ini di alun-alun kota. Sebelum akhirnya Luna pamit untuk ke atas ketika ponselnya berdering cukup keras.
"Bang Wisnu?"
Luna mengangguk semangat dan meninggalkan dua sejoli yang sibuk menscroll handphonenya. Beberapa menit kemudian, mereka selesai melakukan pemesanan dan pembayaran melalui e-wallet yang Langit punya.
"Luna udah nggak sedih kelihatannya."
Laki-laki di berbaju hitam itu mengangkat kedua alisnya. Mengedikkan bahu dan mengangguk setuju. "Kasian juga kalau sedih terus. Gak pernah deket sama cowok, sekalinya jadian malah LDR."
"Kamu sendiri berani LDR nggak?" tanya Nadhira. Tangannya melingkar manja di lengan Langit.
"Nggak bisa. Kenapa? Kamu mau balik?" Langit menegakkan badannya sempura. Menatap lamat-lamat mata Nadhira dan mencoba menerka apa yang dipikirkan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)