[16.1] Pengalaman Baru

178 30 32
                                        

Hari Minggu begitu cerah bersama anak-anak yang berlarian kesana-kemari di halaman sebuah panti asuhan. Beberapa mahasiswa dengan rompi relawan mengangkat kardus-kardus berisi pakaian, buku, alat tulis, dan sembako. Seorang anak berusia sekitar lima tahun bermain boneka sendirian di ujung taman yang menghadap kolam ikan. Segerombol anak laki-laki yang berlarian mengoper bola plastik, sesekali berteriak heboh saat bola tersebut masuk ke gawang yang mereka buat dari batu yang ditumpuk di dua sisi halaman. Ibu panti yang tersenyum begitu hangat, menyapa para mahasiswa relawan dan menuntun masuk ke dalam panti asuhan.

Panti Asuhan Kasih Ibu

Begitu tulisan yang tertera di plang depan pagar. Tempat dimana semua anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya tumbuh disini. Luna selesai meletakkan satu kardus berisi alat tulis di meja, menghampiri temannya yang sedang mencatat laporan untuk pihak kampus. Iris matanya menatap sekeliling panti yang terlihat begitu asri. Ada satu pohon beringin besar yang menjadi spot anak-anak membaca buku.

"Lun, ayo ke atas. Briefing sebentar," ajak Netta, teman satu prodi Luna yang tadi sibuk mencatat.

Mereka menaiki anak tangga, melewati bilik-bilik warna-warni yang begitu menarik. Ada kelas membaca, kelas menulis, kelas melukis, kelas menari, dan lain sebagainya. Kelas-kelas itu beroperasi setiap hari Senin sampai Jumat, dimana setelah pulang sekolah, anak-anak di panti akan melakukan kelas tambahan disini.

Di lantai dua ada sebuah ruang besar dengan satu podium di depan, mirip seperti aula pada sekolah-sekolah pada umumnya. Panti asuhan ini terbilang begitu besar dan modern, kata ibu panti, satu tahun lalu direnovasi oleh pemerintah. Yang dulunya begitu mengenaskan, sekarang sudah lebih layak disebut sebuah panti asuhan. Ini adalah panti asuhan kedua yang pernah Luna kunjungi.

"Oke, jadi segitu dulu arahan dari gue. Semangat guys!" seru ketua relawan di depan sana. Tangannya mengepal ke udara, menyalurkan semangat yang membara.

Luna kebagian di dapur, bersama dengan tiga mahasiswa lainnya dan lima orang pengurus dapur di panti asuhan. Menu makan siang tidak terlalu sulit. Ayam kecap, sayur kangkung, sayur bayam, tahu, tempe, dan juga jus jeruk. Kebetulan Luna mengambil alih sayur kangkung, mencabut dari batangnya dan memasukkannya ke dalam wadah yang sudah disediakan.

"Mbaknya umurnya berapa? Kelihatan masih muda banget," kata Bu Arni, beliau adalah kepala dapur. Bertanggung jawab atas semua makanan dan kebutuhan orang-orang disini.

Gadis ini hanya terkekeh, "Saya 23, Bu."

"Ealah, masih 23, pantesan aja ayu kinyis-kinyis."

Netta juga ikut tertawa ketika si ibu malah menggoda Luna, terlihat jelas kalau Bu Arni adalah orang yang sangat humoris. Bahkan beliau begitu baik dengan membiarkan mahasiswa mengambil minuman di kulkas. Dapur yang terletak di lantai satu bagian belakang ini menghadap ke halaman belakang secara langsung. Memperlihatkan mahasiswa laki-laki yang sibuk adu skill main sepak bola bersama anak-anak panti yang sepertinya berusia SMP.

"Udah punya pacar belum, neng?" seorang ibu-ibu berlipstik merah menyala menyenggol lengan Luna ketika dirinya sedang sibuk memperhatikan permainan sepak bola. Ini adalah Bu Ida, sama-sama bertanggung jawab di dapur bersama Bu Arni.

Luna mengangguk malu-malu, "Sudah, Bu."

Terlihat kalau Bu Ida sedikit melotot mendengarnya. Lantas beliau menunjuk orang-orang di halaman belakang, "Yang mana pacarnya? Ganteng nggak?"

"E-eh, pacar saya nggak disini, Bu."

"Halah, yang benar? Yang mana bilang aja sama ibu. Oh, yang itu, ya? Ketuanya, namanya siapa tadi? Mmm, iya si Reza, iyakan?" desakan dari Bu Ida justru terdengar lucu di telinganya. Tipikal ibu-ibu komplek yang terlalu kepo dengan masalah tetangga sekitarnya.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang