Minggu pagi yang sibuk. Sang surya sedang bahagia kali ini. Sinar hangatnya memenuhi sudut ruang penuh debu yang menyesakkan. Sepoi-sepoi angin menjadi teman yang cocok. Keempat anak manusia sibuk dengan kegiatan masing-masing. Melakukan kewajiban dua minggu sekali. Cebikan kasar dan umpatan kotor menjadi suara gemuruh hari ini. Kegiatan rutin yang hampir setiap dua minggu sekali dilakukan.
Surya sibuk dengan busa dan selang yang mengucur deras. Dihadapannya sebuah motor dan mobil nampak kinclong dari sebelumnya. Tangannya menyabet kanebo dan memoles badan motor dengan telaten. Jalanan yang sedikit becek akibat air cucian motor dan mobil sedikit mengganggu pergerakannya. Membuat sandal swallow hitamnya terendam sebagian dan mengeluarkan bunyi decitan yang begitu menggelikan. Surya menatap jagoan hitamnya, menyunggingkan senyum puas begitu melihat body motornya sudah mengkilap. Tatapannya jatuh pada satu sepeda motor putih yang...ewh, banyak bercak coklat dibagian badan dan mesinnya. Menghela nafas panjang, lalu mengambil alih motor itu.
Lain dengan satu orang ini. Jemarinya sibuk membasuh piring-piring kotor, ditambah peralatan perang yang menyisakan bercak noda bekas bumbu. Langit mencuci tumpukan piring yang entah kenapa hari ini sangat banyak. Training hitam ditambah kaos oblong yang sablonnya sudah pudar menjadi style seorang Langit. Gerutuan terdengar samar saat mendapati kerak-kerak yang menempel diperalatan kotor. Gelas-gelas berisi ampas kopi berjejer ditempat cucian piring, menanti untuk dimandikan bersama polesan sabun. Langit menggeleng begitu melihat sumpit berwarna pink. Terkikik geli ketika melihat mug berwarna pink. Tahu betul siapa si pemilik benda serba pink itu.
Dua wanita sibuk dengan senjata masing-masing. Satu dengan sapu ditangannya, satu lagi dengan pel ditangannya. Keduanya sibuk dengan aktivitasnya. Esther kebagian menyapu, membersihkan seluruh ruang yang berdebu. Sejujurnya, mereka bukan mahasiswa jorok. Setiap hari lantai selalu disapu. Tapi, yah, hanya sekedar sapu asal saja. Esther menaikkan maskernya. Menutup hidung hingga dagunya, menghalau debu-debu masuk ke rongga hidungnya. Esther alergi debu. Hidungnya sensitif, gadis itu bisa bersin berulang-ulang kali ketika menghirup debu. Luna sama sibuknya, mengepel seluruh lantai yang sudah Esther sapu. Sesekali menggosok lantai dengan tungkainya. Aroma segar pembersih lantai sejuta umat merelungi indra penciumnya. Wangi apel, bungkusnya hijau putih, kalau kalian mau tau bagaimana aromanya. Luna mengelap peluhnya, menyemprotkan botol berisi pewangi yang tutupnya dilubangi ke seluruh sisi.
"Gue udah selesai cuci motor."
Surya berdiri diambang pintu. Menenteng kanebo setengah basah yang akan ia jemur di tempat cucian. Bulu kakinya basah, seperti rambut kepala sehabis keramas.
"Sur, benerin tanaman sama aku. Bentar, tak selesaiin ngepel dulu," ujar Luna sebelum Surya melangkah ke dalam. Langkahnya terbatas, berusaha berjinjit-jinjit supaya tidak menghasilkan cap telapak kaki yang akan membuat Luna murka.
"Oke, ntar dulu, mau nyuci sepatu sekalian," sahut Surya yang kemudian melesat menuju tempat cucian yang jarang mereka gunakan.
Selain kegiatan beres-beres, mereka juga punya ritual yang setiap Minggu dilakukan (kalau gak malas). Lebih tepatnya, setiap Minggu pukul 5 hingga 7 pagi kalau tidak molor. Salah satunya, jogging keliling komplek. Atau paling banter, jogging di alun-alun kota yang akan penuh sesak oleh orang-orang. Oh, bersepeda juga menjadi kegiatan akhir pekan mereka. Lagi-lagi, kalau tidak malas.
"LAAAANGGGG!!! ANJIR, UDAH AKU PEL! JINJIT GAK!?"
Teriakan menggema seantero rumah. Langit yang baru maju selangkah di depan meja makan terlonjak kaget. Reflek, kakinya berjinjit seperti yang Luna perintahkan. Esther yang melihat itu tertawa puas melihat wajah komuk Langit.
"Anjir lah! Santai dong, kaget gue," sungut Langit sambil memegangi dadanya. Luna mendelik sadis begitu Langit mulai melangkah. Bukan Langit kalau tak jahil, lidahnya terjulur ke arah Luna. Membuat sang gadis mengangkat gagang pel tinggi-tinggi. Dengan langkah seribu, Langit menghilang dibalik pintu hitam miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)