Pagi-pagi buta, suara ayam yang berkokok ditambah kumandang adzan subuh yang begitu merdu. Puji-pujian tak kalah indahnya. Masih di bulan November dengan badai hujan tak berkesudahan, angin ribut di luar membuat orang-orang mengeratkan selimutnya dan mematikan pendingin ruangan. Rinai hujan masih membasahi bumi Pertiwi tanpa ampun, kota metropolitan yang biasanya penuh dengan asap abu-abu kini telah berganti dengan jalan licin dan pohon yang basah kuyup.
Di kamar serba pink, seorang gadis selesai menunaikan kewajibannya. Melipat mukena pink-nya dan beranjak menuju jendela. Memandang hujan yang masih betah menumpahkan airnya. Entah harus bahagia atau sedih, di hari yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Tapi semua rencananya justru berantakan karena hujan yang tak kunjung reda. Semalam Wisnu memberi kabar kalau dirinya sudah take off dari Jerman dan akan transit 4 jam di Doha. Tapi setelahnya tak ada kabar, hanya ada pesan singkat tiga puluh menit yang lalu kalau Wisnu akan pergi tidur sebentar. Seperti yang sudah direncakan, Wisnu akan melakukan wisuda tiga hari lagi. Jadi laki-laki itu mengajukan surat izin untuk mengikuti kelas online selama satu minggu.
Enggan hanyut dalam kerinduan yang sudah meronta, Luna turun ke bawah. Kosong tanpa ada kehidupan. Jam segini biasanya mereka masih tidur setelah sholat subuh. Luna duduk di meja makan setelah mengambil susu plain dari dalam kulkas. Menatap satu gelas susu tanpa minat. Begitu banyak hal yang berkecamuk di kepalanya. Tentang Wisnu, tentang kuliah, dan tentang yang lainnya. Luna si ansos yang katanya punya hidup lempeng tak selamanya merasa baik-baik saja. Beberapa hari lalu, seseorang asing menghubunginya. Mengaku kalau dirinya adalah teman dekat Wisnu di Jerman. Dan ketika Luna mencari tahu siapa perempuan itu, rupanya dia adalah Maria Renata yang beberapa bulan lalu bertemu di mall sebelum Wisnu berangkat ke Jerman. Perempuan dengan crop tee merah yang terang-terangan menyukai Wisnu.
"Ngapain?" suara serak khas orang bangun tidur membuat Luna terjengit kaget. Netranya mendapati Surya dengan celana kotak-kotak dan kaos panjang berwarna putih, rambutnya seperti sangkar burung dan matanya masih setengah terpejam.
Luna hanya menggeleng pelan. Meminum susunya tanpa mempedulikan tatapan curiga Surya yang malah membuatnya salah tingkah. "Kenapa sih, hm? Ada masalah apa? Volunteer apa Bang Wisnu?" tanya Surya pelan. Dirinya menepuk-nepuk pucuk kepala Luna dengan penuh kasih sayang. Luna menyandarkan kepalanya ke pundak Surya.
"Kemarin ada yang WhatsApp, ngakunya teman dekat Mas Wisnu. Suka kirim foto Mas Wisnu lagi jalan sama dia," adu Luna yang membuat Surya kaget. Alis tebalnya mengernyit tak percaya mendengar penuturan Luna barusan. Surya kenal betul siapa Wisnu, paham betul bagaimana Wisnu jika bersama perempuan. Jangankan untuk macam-macam, mungkin melirik pun tidak akan pernah.
Surya menangkup pipi gembul Luna dan menatapnya intens. Pertama kalinya Surya melihat seorang Aluna Sienna galau, gara-gara temannya lagi. "Lun, dengar gue! Lo harus percaya sama Bang Wisnu, oke? Dia nggak akan ngelakuin hal-hal yang kelewat batas."
"Ya aku percaya sama Mas Wisnu, tapi kalau sama perempuan itu.....gak tahu deh," kata Luna pelan diakhir kalimat.
Hening yang cukup lama menyelimuti mereka berdua, memberi ruang kosong untuk menyapa. Hujan di luar masih meraung, beberapa kali guntur ikut bernyanyi bersamanya. Langit tiba-tiba datang dan ikut duduk di depan Surya yang masih memeluk Luna dari samping. Terlihat heran kenapa si bayi tumben-tumbenan turun jam segini. Langit bertanya melalui kode mata pada Surya, tapi Surya hanya menggeleng pelan yang berarti akan memberitahu nanti.
"Lo hari ini kuliah nggak? Nanti siang jemput Bang Wisnu, kan?" Surya sibuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Luna.
"Libur. Kelasnya diganti besok."
Bukan, bukan itu alasan sebenarnya. Luna sengaja izin pada dosen hari ini, memanfaatkan jatah absensinya demi menunggu kepulangan Wisnu yang sementara. Rencananya Luna akan datang ke rumah orang tua Wisnu karena Bunda akan masak banyak untuk menyambut Wisnu. Pun dengan Khrisna yang katanya akan absen ke kafe hari ini demi menjemput abangnya yang akan pulang. Semua orang begitu senang ketika Wisnu akan pulang, tapi Luna merasa ada sesuatu yang berbeda. Entah apa itu, Luna sendiri pun tak tahu bagaimana menyebut perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
Fiksi PenggemarSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)