Sore yang indah. Sangat disayangkan untuk melewatkan sesuatu yang memukau di atas sana. Semburat kuning keemasan layaknya lukisan hasil karya seniman. Kicauan-kicauan burung melantunkan melodi indah. Deruan kendaraan dan bisingnya knalpot seolah tak mau ketinggalan.
Langit duduk bersama buku ditangannya. Sengaja memilih sore hari karena ingin menikmati senja bersama semilir angin. Alun-alun hari ini tak sepadat akhir pekan. Pedagang tetap mengitari alun-alun, tapi yang singgah hanya beberapa. Sering terdengar bisikan-bisikan dari orang yang berlalu-lalang. Mereka mengagumi postur wajah Langit dengan hidung bak prosotan di taman bermain. Ditambah buku dan earphone yang tersumpal ditelinganya. Langit mengabaikan bisingnya dunia, larut dalam buku sejarah Romawi Kuno yang sedang ia baca ditemani lagu-lagu ballad kesukaannya.
"Eh, temennya Fero yang kemarin di studio, ya?"
Langit mendongak. Matanya sedikit menyipit, menetralkan penglihatannya dengan cahaya senja. Lantas, bibirnya tersenyum cerah.
"Nadhira?"
"Iya, masih inget, kan?" Langit mengangguk mendengar pertanyaan Nadhira barusan.
"Lo sendiri? Apa sama temen?" tanya Langit mencoba basa-basi.
"Sendiri, sih. Jalan-jalan aja, suntuk gue di kosan mulu," ucap gadis itu. Nadhira mendudukkan dirinya disebelah Langit. Mengamati buku yang Langit baca, kemudian mengagumi selera bacaan Langit.
"Gimana luka lo? Udah sembuh?"
"Udah. Nih, lihat, udah hampir kering," Nadhira menunjukkan bekas-bekas luka tempo hari. "Oiya, temen lo gimana? Gue denger, dia juga ketabrak dihari yang sama kayak gue?"
"Hooh. Udah baikan juga sih. Untung gak kenapa-kenapa. Takut gue kalau sampe patah tulang atau gimana-gimana," cerocos Langit.
"Khawatir banget, ya?"
Langit menoleh. Menatap siluet wajah Nadhira yang terlihat sederhana dengan polesan make up tipis, "Iya. Soalnya Luna udah kayak adik gue sendiri."
Keduanya menikmati senja. Obrolan mengalir begitu saja. Membicarakan apapun seputar kuliah dan teman-teman Langit yang sempat Nadhira temui di Studio Horor. Mereka adalah dua manusia asing yang mendadak menemukan kenyamanan. Langit tak bisa bohong, ngobrol bersama Nadhira begitu mengasyikkan. Seperti bercerita bersama teman lama yang baru bertemu kembali. Sosok Nadhira yang sangat supel dan easy going bisa membangun komunikasi yang baik bersama Langit. Dunia seperti enggan berputar karena melihat dua anak manusia sedang asik bercengrama ditemani semburat kuning yang begitu indah. Semesta pun mendukung keduanya untuk saling mengenal lebih dekat lagi hari ini. Membawa keakraban dan kenyamanan untuk dirasakan.
Pedagang mulai memadati alun-alun. Yang semula hanya ramai, kini menjadi semakin ramai. Jam-jam pulang kerja menjadikan daerah sini lebih padat dibanding jam-jam sebelumnya. Ditambah dengan angkot dan bus yang berhenti sembarangan. Memicu seruan-seruan klakson dari pengendara-pengendara tak sabaran. Langit dan Nadhira diam, pemandangan kota menjadi fokus mereka kali ini. Memberi jeda untuk keduanya saling beradu bersama benak masing-masing.
"Lo gak sholat, Lang?"
"Sholat dong. Lo?"
"Iya."
"Yaudah yuk, bentar lagi adzan. Biasanya masjid sekitaran sini kalau adzan cepet, paling sekitar jam 6 lebih 10," ujar Langit yang dihadiahi tawa renyah dari Nadhira. Tawa itu terdengar candu ditelinganya, seolah menyihir agar Langit ikut tertawa bersamanya.
"Lo kayak marbot masjid sana deh, tau banget jadwal adzannya," kata Nadhira disela tawanya.
"Hahaha, sering gue mah sholat di sono, Nad."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)