Hujan lagi-lagi membasahi bumi. Cuaca yang berubah begitu cepat seolah tak peduli dengan decakan-decakan membosankan dari manusia disini. Gemuruh ikut menyuarakan melodinya. Tiupan angin tak ketinggalan. Pun dengan suara-suara musik yang berdengung ditelinga.
Suasana ruang sekretariat himpunan lumayan ramai. Setelah rapat tadi, beberapa mahasiswa memilih tinggal dan menunggu hujan reda. Ada yang tidur dengan menelungkupkan tangan, ada yang mabar game online, ada yang makan seblak, dan ada yang sibuk mengerjakan tugas-tugas. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa hanya ikut-ikutan duduk dan sibuk dengan gawai masing-masing. Esther termasuk di dalamnya. Duduk lesehan bersama teman-temannya, ditemani seporsi seblak pedas yang terlihat masih panas. Butuh perjuangan untuk delivery seblak ketika hujan seperti ini. Beberapa kali pesanannya ditolak driver karena alasan hujan deras.
"Ther, anjir, parah lo. Nilai lo tinggi banget woy. Ini mah, IPK lo gak bakal turun anjir. Lulus mulu uji praktikum lo," celetuk salah satu teman Esther.
"Dih, nilai gue masih di bawah Daren," sahut Esther santai. Toh, memang benar. Setinggi-tingginya nilainya, pasti Daren ada di atasnya. Secara Daren itu mahasiswa dengan IPK tertinggi selama lima semester berturut-turut.
"Sebelas-duabelas lah, pasangan otak encer mah beda yakan," sahut seseorang di belakang Esther.
"Pasangan pala lo," Esther melempar tisu yang sudah tak berbentuk. Kembali meniup seblak yang entah kenapa masih terasa panas baginya.
"Padahal tinggal jadian aja apa susahnya sih. Perasaan udah deket dari jaman kapan tau kagak jadian-jadian."
Esther memaksakan senyumnya. Yang dikatakan teman-temannya benar. Dirinya melihat Daren yang tengah sibuk bersama laptopnya. Mata indah sang pemuda beralih dari laptopnya, Esther menjulurkan lidahnya ketika Daren menaikkan sebelah alisnya. Keduanya lantas tertawa begitu sadar akan tingkah konyolnya.
"Geser dong geser."
Kerumunan cewek yang membentuk lingkaran melontarkan protesan demi protesan. Esther ikut melontarkan protesan ketika seorang gadis memaksa ikut duduk bersama mereka. Lantas, semuanya kembali hanyut dengan obrolan random ala perempuan. Suasana semakin ramai, hujan pun semakin mereda. Suara-suara umpatan perlahan-lahan menghilang. Beberapa diantaranya sudah pergi meninggalkan ruang organisasi.
"Ther, pulang, yuk?"
Semua menoleh. Daren, si pelaku yang barusan mengajak Esther pulang mengangkat sebelah alisnya. Memberi tatapan tanya kepada kerumunan cewek-cewek yang sedang menatapnya.
"Nah loh, sono, Ther. Udah diajak pulang baginda raja tuh."
"Apasih ah. Yaudah, gue pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Esther. Kemudian, bergegas mengemasi barang dan mengambil tasnya. Daren masih menunggu dengan sabar. Senyumannya merekah ketika Esther sudah dihadapannya.
"Apasih senyum-senyum?"
"Lho emang gak boleh?"
Esther menggeleng, "Nggak. Gak boleh, lo jelek soalnya."
"Wah, baru kali ini gue dikatain jelek. Biasanya orang-orang bilang gue ganteng kayak Cha Eunwoo," ujar Daren dengan penuh percaya diri. Sepersekian detik berikutnya, lengan kirinya sudah panas lantaran terkena tabokan maut dari Esther.
"Halu lo ah. Ayo buruan, keburu hujan lagi."
Keduanya berjalan ke parkiran. Dua hari ini memang Esther nebeng Daren. Itu karena motor Vario miliknya dipakai Surya. Si Bleki belum selesai di servis, makanya Surya kalang kabut karena dirinya harus bolak-balik kampus, rumah, kantor, dan studio. Maka dari itu, dengan segenap jiwa kesetiaan kawan, Esther meminjamkan Surya motornya. Toh, Esther bisa gampang naik apa aja. Seperti sekarang, dirinya tak kesulitan mencari transportasi untuk pulang karena dengan senang hati, Daren mau mengantar dan menjemputnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)