Senin siang yang begitu terik menjadi pemandangan hari ini. Daun-daun mengering didahan pohon. Debu halus menggerogoti indra pencium, membuat siapapun muak menghirupnya. Peluh lelah yang mengucur deras dipelipis. Berbanding jauh dengan minggu lalu yang diisi dengan guyuran hujan. Entah semesta sedang bergembira atau justru menyiksa, panas kali ini benar-benar membuat kulit terasa terbakar.
Toko buku di pusat kota tidak terlalu ramai. Hanya ada segelintir manusia yang sedang memilah buku atau sekedar meneduh dari ganasnya matahari siang. Rak buku berjajar rapih. Papan-papan genre buku terpampang jelas diatasnya. Kursi warna-warni terlihat sepi peminat, tak ada yang berminat untuk sekedar singgah. Seorang kasir wanita melayani dengan ramah, menampilkan deretan gigi rapih dengan senyum lima jari. Pria berusia pertengahan dua puluh dengan semangat mengepel lantai yang tampak masih bersih. Beberapa security berbadan besar mengamati setiap pergerakan pengunjung dari sudut ruangan. Bau pengharum ruangan ditambah lantai yang dipel membuat siapapun akan merasakan kesejukan. Pendingin udara seolah tak peduli dengan panasnya dunia di luar sana, tetap memancarkan dingin yang membuat orang betah berlama-lama disini.
Luna diam disalah satu rak. Meneliti satu demi satu buku yang akan dia beli. Ditangannya sudah ada dua novel fantasi seri terbaru. Bibirnya sedikit mengerucut, khas seorang Luna jika sedang fokus. Kakinya berjalan menyamping, tangannya meniti buku-buku dihadapannya. Merasa lelah, dirinya memutuskan untuk menuju bangku warna-warni. Membawa dua buku yang masih disegel dan satu buku yang memang disediakan untuk dibaca ditempat.
"E-eh, maaf, nggak sengaja."
Buku-buku berjatuhan. Ringisan terdengar samar. Seorang laki-laki dengan empat, eh, atau lima buku ditangannya berkata dengan panik.
"Maaf sekali lagi, ada yang-" ucapan pemuda itu terhenti. Mata kecilnya terlihat sedikit terbelalak. Rahang tegasnya seolah tak bertenaga. Mulutnya terkatup rapat.
"T-temannya Langit?" tanya Luna dengan ragu. Pasalnya ini adalah pertama kali dirinya berkomunikasi dengan pemuda itu.
"Iya. Pacarnya Langit?"
Luna lantas melotot. Merutuki mulut Langit yang selicin kemeja yang baru disetrika. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu kepada temannya. Harus Luna omeli setelah ini.
"E-eh, bukan, mas," seloroh Luna. Tanpa sadar memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'Mas'. Maklum, karena di kotanya memang lebih sering menggukan Mas dibanding Kak atau Bang.
"Wisnu, Wisnu Abraham."
Wisnu mengulurkan tangannya, sedikit kesusahan karena buku yang dipegangnya. Luna menyambut uluran tangan Wisnu. Sepersekian detik saja, tidak lama.
"A-ah iya, aku Luna. Aluna Sienna."
Wisnu mengangguk, "Udah tau. Yang waktu itu ngembaliin flashdisk Langit, kan?"
Tanpa disangka, Luna justru melotot. Ternyata ingatan Wisnu tajam juga. Menjadi salah tingkah, Luna memutuskan untuk pamit ke tempat duduk sesuai rencana awalnya. Wisnu berjalan menuju kasir, mengantri dibelakang ibu-ibu dengan dua anak yang begitu rewel. Netranya tak berhenti menatap pemuda jakung berkaos hitam itu. Tanpa sadar, seulas senyum tercetak dibibirnya. Batinnya bergejolak senang. Kemudian beralih menatap buku yang sedari tadi menyaksikan keajaiban Luna. Tanpa menghitung bermenit-menit, Luna sudah tenggelam dalam dunianya. Matanya berlarian bersama kalimat-kalimat yang disajikan buku. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk pelan mengikuti irama musik yang terdengar menenangkan untuk teman membaca.
"Boleh duduk?"
Luna mendongak, mendapati Wisnu yang sudah mendudukkan dirinya dikursi samping.
"Itu...udah duduk....kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)