[7.1/2] Tentang Wisnu

257 32 43
                                        

Jalan cerita berhubungan dengan part sebelumnya. Latar waktu diambil setelah Wisnu mengantar Luna pulang.

Happy Reading🌻

•••

7.30 PM
At Wisnu's Room

Di sebuah kamar bernuansa abu-abu dengan satu buah kasur king size, seorang pemuda sedang duduk berdiam diri di mejanya. Ditemani dentingan jam dinding dan musik ballad yang begitu menenangkan. Rak buku yang sudah penuh dan rak sepatu yang terlihat rapi. Cahaya remang tak mengusik sang pemuda. Matanya menari-nari bersama deretan kalimat, menikmati waktu bacanya dengan sangat serius. Meresapi kata demi kata, memahami diksi demi diksi.

Wisnu masih bergeming dimejanya. Enggan bergerak barang sejengkal pun. Tangannya dengan lihai membalik halaman demi halaman. Kacamata bundarnya memantulkan cahaya lampu belajar, membuat bayangan bundar seperti donat dilensanya. Disampingnya, ada meja gambar yang biasa Wisnu gunakan untuk mengerjakan tugas.

"Ekhem, gak mau cerita gitu, bang?"

Pintu kamar Wisnu terbuka, menampilkan sosok Khrisna yang masih pakai baju tadi siang. Kalau Wisnu tebak, Khrisna baru sampai rumah dan belum mandi.

"Ketuk dulu, Khris!" sewot Wisnu. Khrisna mengedikkan bahu, berjalan santai menuju meja Wisnu dengan tampang super tengil.

"Habis darimana?"

Wisnu mengernyit, "Bukannya harusnya gue yang tanya?"

"Lah, gue mah dari kafe. Lah elo? Lo bawa kemana anak gadis orang?" tanya Khrisna dengan nada super duper ngeselin. Alisnya naik turun, bibirnya tersenyum penuh arti. Wisnu berdecak malas. Mendorong tubuh Khrisna menjauh dari kamarnya.

"Mandi sana. Lo bau!" kata Wisnu diikuti bunyi debuman pintu yang ditutup kasar. Khrisna terkekeh dari balik pintu. Puas menggoda abangnya, dirinya bergegas menuju kamar depan.

Memilih untuk rebahan, Wisnu melihat ponselnya tergeletak mengenaskan di nakas. Meraihnya dan membuka aplikasi bernama Instagram. Mengulas kembali saat dirinya dengan berani mengikuti akun Luna. Bibirnya tersenyum tipis, sangat tipis sampai siapapun tak akan menyadarinya. Bahkan, jin pun tak akan sadar haha. Wisnu melihat postingan Luna yang kebanyakn berisi foto buku, alam, dan beberapa siluet. Hanya ada satu foto yang menunjukkan wajah, itu pun Luna tak sendiri. Tapi bersama Langit, Surya, dan satu lagi perempuan berjilbab. Wisnu pernah dengar dari Langit, tapi Wisnu lupa siapa perempuan berjilbab itu.

Ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, "Abang, ayo makan dulu."

"Iya, bun!"

Dengan begitu, Wisnu saat ini duduk di meja makan bersama keluarganya. Di depannya, duduk sosok ayah berpawakan tegas dan kaku, sosok yang selama ini Wisnu paling takuti. Di samping ayahnya, bunda yang begitu sabar sedang mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk dirinya dan Khrisna.

"Gimana kuliahmu, bang? Gimana Jerman?" tanya ayah Wisnu. Dari suaranya, sudah sangat jelas kalau beliau adalah orang yang berwibawa. Wajahnya mirip dengan Wisnu. Rahang tegas yang sudah tampak keriput dan rambut rapi yang mulai memutih.

"Baik, yah. Jerman seru, abang belajar banyak," jawab Wisnu seadanya. Bukan karena hubungan dengan ayahnya yang kurang baik, tapi Wisnu hanya sangat menghormati seorang ayah lebih dari siapapun. Bisa dibilang, ini adalah pertanyaan pertama dari ayahnya setelah Wisnu pulang beberapa minggu lalu. Ayah Wisnu seorang arsitek yang jam kerjanya sangat padat. Beliau sedang menggarap proyek besar-besaran bersama pemerintah Indonesia. Itu kenapa, Wisnu sedikit bernafas lega karena tidak bisa langsung bertemu ayahnya ketika mendarat di Indonesia.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang