Lampu-lampu kendaraan silih berganti. Pedagang kaki lima merapati pinggiran jalan hingga penuh sesak. Klakson mobil dan motor yang sesekali terdengar. Pemuda pemudi yang duduk di tengah hamparan lapangan hijau seperti tak terusik dengan padatnya kota di malam Minggu. Suara bising tawa orang-orang dengan berbagai bahan obrolan yang terus mengalir seperti kicauan burung. Hembusan angin malam yang membuat manusia tersapu rayuan angin.
Gadis berkerudung pashmina cream dipadu kulot senada dan sweater hitam duduk bersama satu porsi takoyaki hangat yang masih mengepulkan asap. Pemuda di sebelahnya masih asik menyesap boba rasa greentea berwarna hijau pekat. Sepertinya semesta ingin melihat dua insan ini saling bersandar dari penatnya masalah duniawi. Merehatkan pikiran dan hati dari huru-hara yang tak henti-henti.
Esther dan Surya.
Keduanya sengaja menghabiskan waktu malam Minggu berdua. Karena semua penghuni rumah sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebut saja Luna yang sedang hangout bersama Bundanya Wisnu dan Langit dengan Nadhira. Tak tahu ada angin apa, Surya mengajak Esther untuk beli jajan di street food dekat gor. Dengan mulut yang sama-sama sibuk mengunyah makanan, keduanya larut dalam lamunan. Dunia seperti berjalan sendirinya ketika mereka ingin mengambil nafas sejenak.
"Enak gak?" Surya mencomot satu buah takoyaki dari kotak sterofoam ditangan Esther. Mengunyahnya perlahan sambil menerka rasa yang menyapa lidahnya.
"Menurut gue, enak yang di dekat simpangan masjid raya sana."
"Gerobak merah itu? Yang jualan mbak-mbak judes?"
Esther tertawa renyah. Menabok pelan pundak Surya yang mengatakan mbak-mbak judes penjual takoyaki. Esther akui, walaupun takoyakinya jauh lebih enak tapi penjual disana kurang ramah kepada pembeli. Itulah kenapa Surya bilang mbak-mbak judes, karena memang mukanya judes abis.
"Ada apa gerangan sih lo ngajak gue kesini? Tumben banget gitu lho," tanya Esther keheranan. Surya menaikkan satu alisnya. "Ya emang kenapa? Lo gak suka?"
"Bukannya gak suka. Tumben aja gitu," sergahnya sambil menyomot satu buah takoyaki.
"Pengen healing. Gue capek. Gak tahu kenapa, setiap gue lagi galau atau lagi sedih pasti gue ingat lo."
"Maksud lo?"
Surya menepuk tangannya pelan, membersihkan rerumputan yang menempel di telapaknya. Berdehem sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue juga gak tahu. Mungkin dulu gue terlalu denial sama perasaan gue. Tapi jujur, gue selalu merasa 'hidup' kalau lagi bareng lo," kata Surya dengan membentuk kata kutip pada ucapannya. Esther dibuat melongo oleh pengakuan Surya barusan. Mencoba menebak kemana arah tujuan dari pembicaraan ini. "Kali ini gue mau jujur sama hati gue sendiri. Gue mau coba dengerin apa kata hati, gue gak mau jatuh ke cewek yang salah lagi," lanjut Surya dengan senyum kecutnya.
Kalau Surya bicara masalah hati, dari lubuk paling dalam, hati Esther masih tersimpan nama Daren. Walaupun memang, Esther bilang dirinya sudah lega dan akan perlahan melupakan perasannya. Tapi Esther hanyalah wanita biasa yang butuh waktu untuk merehatkan hatinya. Namun, kalau Surya bicara masalah persahabatan, Esther mewajarkan hal itu. Karena setiap sahabat punya perasaan tersendiri yang mampu menghidupkan jiwa yang kosong. Bersama sahabat jiwa kosong itu perlahan mulai hidup dengan warna-warna indah yang kelak akan mereka sebut sebagai kenangan.
"Jujur gue sayang sama lo. Sebagai sahabat dan sebagai perempuan," entah sudah berapa kali Esther terkejut dengan setiap kalimat yang Surya ucapkan. Mulutnya tak mampu mengucap sepatah kata pun.
Surya menghirup udara malam dalam-dalam sebelum akhirnya menghembuskannya kasar, "Tapi gue sadar, ini semua salah. Karena kita masih sama-sama butuh rehat."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
Fiksi PenggemarSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)