Udara penuh sesak oleh orang-orang berkepala dingin menjadi gambaran bagaimana mahasiswa disini sedang berpusing-pusing ria karena praktikum. Mikroskop, sarung tangan lateks, dan papan jalan berisi kertas lusuh hasil praktikum. Keluhan-keluhan samar yang keluar dari bibir manusia-manusia penuh rasa lelah. Ditambah sampel-sampel makanan dan minuman yang menjadi kelinci percobaan. Mikroorganisme menggeliat, terlihat dari mikroskop yang bertengger manis dimeja praktikum.
Esther mengelap peluhnya. Suhu ruangan ber-AC seperti tak mengurangi kepulan api didalam dirinya. Jas labnya sudah penuh dengan bercak akibat sampel makanan dan minuman. Setengah jam kemudian, gadis cantik bermata sipit itu sudah menghembuskan nafas lega. Praktikumnya berjalan dengan lancar. Tinggal membuat laporan dan presentasi di depan kelas. PR baru untuk Esther.
"Nih minum."
Esther mendongak. Mendapati seorang pemuda memberikan sebotol air mineral. Dengan senang hati Esther menerima air mineral dan menegaknya perlahan.
"Makasih, Ren."
"Sama-sama. Gimana tadi? Susah nggak?"
"Susah lah. Bagi lo mah gampil, lo pinter. Lah gue???" Esther merengut begitu membayangkan lagi betapa pusingnya praktikum hari ini.
"You did well. Percaya sama gue," ucap si pemuda dengan senyuman indah. Matanya hilang karena senyumnya, khas seorang Daren. Selalu memberi semangat kepada Esther, apapun yang terjadi, adalah sebuah kebiasaan Daren. Kalau boleh percaya diri, Esther hanya melihat sisi Daren seperti itu ketika bersamanya. Walaupun Daren punya banyak teman perempuan, tapi Daren selalu bareng Esther.
Esther ikut tersenyum. Laki-laki dihadapannya semakin tersenyum lebar. Tanpa diperintah, tangan kekar itu mengusak pelan pucuk hijab yang Esther kenakan.
"Berantakan ih, Daren mahhhh."
"Hahahaha, sorry-sorry," Daren tertawa ketika melihat wajah Esther sudah ditekuk.
"Makan yuk, Ther?"
"Kantin aja ya?"
Daren menghela nafas, "Iya deh, ayo."
Keduanya berjalan santai menuju kantin fakultas yang jaraknya lumayan menghabiskan tenaga. Berada dibawah naungan organisasi yang sama membuat mereka lebih dekat. Tapi, bedanya adalah, jika Esther hanya satu mengampu organisasi, maka Daren mengampu lebih dari satu organisasi. Bahkan, Daren adalah kapten basket andalan. Tak heran kalau predikat CoKiBer alias Cowok Kita Bersama begitu melekat pada Daren. Langkah kaki yang ringan tanpa sadar telah menerbangkan mereka menuju tempat paling ramai di kampus.
"Lo nggak ada tugas negara gitu, Ren?" tanya Esther begitu kaki mereka mulai memijak ubin kantin. Hawa penuh gairah muncul, perut yang semula diam mendadak berontak. Meminta untuk di isi dengan makanan enak di kantin.
"Nggak. Paling ntar sore latihan basket."
Daren menaruh ranselnya diatas meja, "Lo mau makan apa? Gue pesenin sekalian," lanjut Daren.
"Gue pengen batagor deh."
"Lo belum makan nasi, Ther. Yang lain," seloroh Daren yang membuat Esther merengut.
"Yaudah-yaudah, gue pengen nasi uduk deh. Masih ada gak ya?" putus Esther setelah matanya menelisik stand makanan.
"Kayaknya sih masih. Bentar, gue kesana dulu."
"Iyaaa."
Daren berlalu menuju stand yang menjual aneka makanan. Sesekali menyapa dan bercengkrama bersama orang yang berlalu lalang. Mata Esther masih terpaku pada pemuda itu. Menyunggingkan senyum manis yang entah apa artinya. Daren cowok baik, dia bertanggung jawab dengan semua yang dia pilih. Tapi, Daren sukar untuk menetap. Terlalu suka berkelana. Esther paham Daren. Teman laki-laki pertamanya di kampus, selain Langit dan Surya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
Fiksi PenggemarSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)