[13.2] Hari yang Bahagia

231 32 14
                                        

Malam syahdu ditemani awan kelabu dan kilat samar. Lampu jalan yang terang, pohon trembesi yang masih basah sehabis disiram, dan jajaran mobil mewah yang memadati parkiran gedung pencakar langit. Air mancur ditengah kota diiringi gemerlap lampu warna-warni yang menarik mata. Pedagang asongan berjajar rapih di pinggiran alun-alun yang dipadati manusia. Dengungan klakson sesekali terdengar bersahutan di persimpangan lampu merah depan sana.

Esther duduk manis ditemani segelas wedang ronde hangat. Setelah lelah menemui dosen yang hari ini hanya bisa ditemui pukul 5 sore karena ada urusan mendesak. Walaupun masih dalam proses magang, Esther bertekad untuk mengajukan judul skripsi dulu. Dan hari ini, dirinya bahagia karena judul yang ia ajukan telah diterima dengan baik. Sejauh ini hanya ada tiga mahasiswa dari prodi sama yang mengajukan judul skripsi lebih awal. Salah satunya Daren.

"Hey, ngalamun aja sih, mikirin apa?" tepukan pelan Esther rasakan dibaju kanannya. Kemunculan Luna membuat senyum Esther merekah. Memang tadi Esther sempat mengirim pesan kalau dirinya ada di alun-alun sendirian.

"Nggak. Lo sendirian? Nggak sama Bang Wisnu?" Esther celingukan, mencari sosok yang belakangan membuat Luna kasmaran setengah mati. Luna menggeleng pelan, "Nggak lah. Kan aku dari rumah. Daripada aku suntuk, aku kesini aja nyusul Esther."

"Bentar deh, aku mau pesan dulu," ucap Luna dan berlalu menuju gerobak bapak penjual wedang ronde. "Pak, saya mau satu. Kacangnya sedikit aja, mochinya banyakin ya, hehehehe."

"Siap, mbak," kata si bapak riang.

"Terimakasih, pak. Saya tunggu disana ya." Luna berlari kecil ke tempat dimana Esther duduk.

Keduanya masih diam sampai pesanan Luna datang. Esther mengamati orang-orang dengan berbagai aktivitasnya, Luna sibuk bertukar pesan dengan kekasihnya. Kilatan samar terus terlihat mencengangkan. Hembusan angin pun terasa semakin dingin.

"Luna, setelah lulus nasib rumah gimana, ya?" pertanyaan Esther mampu membuat Luna diam. Berpikir panjang dan mulai menerka tentang hal yang selama ini enggan dirinya pikirkan.

"Bakal tetap ditinggali. Cuma aku gak tahu siapa yang akan nempatin. Surya sama Langit gimana, ya? Setelah ini mau ngapain?"

Hembusan nafas kasar terdengar berat dari keduanya. Kepulan asap putih dari dua gelas wedang ronde menambah kesan syahdu malam ini. Puluhan menit terlewati begitu saja dalam sunyi. Samar-samar, bunyi gemuruh mulai menyapa. Esther mendongak, menatap langit hitam kosong tanpa adanya bulan dan bintang. Luna mengamati jalanan kota yang sedikit padat. Para pedagang sudah menyiapkan terpal untuk menepis hujan.

"Pulang yuk? Keburu hujan. Tapi habisin dulu," ajak Esther pelan. Menyudahi sesi overthinking yang sedari tadi merangkul mereka.

Luna menyeruput wedang rondenya. Menikmati sensasi rasa jahe bercampur dengan gula yang manis, "Beli brownies dulu mau gak? Aku dari kemarin pengen tapi malas mampir."

Kekehan pelan dari Esther dan anggukan semangat darinya membuat Luna tersenyum senang. Mereka berdua bergegas mengembalikan gelas kepada bapak penjual wedang ronde. Berjalan ke parkiran dan menaiki motor masing-masing. Jalanan lengang terasa menyejukkan di malam kelabu dengan hembusan angin dingin. Esther memilih untuk di belakang Luna, membiarkan gadis bermotor pink itu melaju duluan. Di persimpangan, Esther menekan sein kanan dan melaju pelan sebelum akhirnya berhenti di depan toko roti langganan Luna.

Tangan Esther mencomot satu pie susu khas Bali, masukkannya ke dalam keranjang yang Luna tenteng bersama dua kotak brownies lainnya. Luna bilang, tadi Langit pengen banana cake, jadi sekalian saja Luna belikan disini. Daripada buat sendiri, pasti perlu bahan yang lebih banyak. Ketika Luna membayar, Esther memilih untuk melihat-lihat etalase berisi aneka macam sampel kue ulang tahun. Tersenyum bahagia melihat deretan warna-warni yang menarik mata.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang