Rupanya sang surya sudah berbaikan dengan semesta. Matahari pagi menelisik celah-celah gorden pink yang sedikit berdebu. Jam weker berbentuk kepala kucing bergetar tak beraturan. Gadis dibalik selimut menggeliat, membuka matanya perlahan. Sedetik kemudian tersenyum cerah.
"Selamat pagi, dunia."
Luna meraih jam yang terlihat mengenaskan. Mematikan deringan kasar, lalu meletakkan kembali di nakas. Mengucek matanya perlahan. Kicauan burung membuat senyuman manis itu tak sirna dari bibirnya. Dirapihkannya selimut dan seprai yang berantakan. Berjalan menuju kamar mandi dan mulai melakukan rutinitasnya.
Kamar depan masih sepi. Mungkin Esther kuliah siang. Kaki mungilnya dengan ringan menuruni anak tangga. Di sofa ruang tengah, Surya sedang sibuk mengelap lensa-lensa kamera mahalnya. Di dapur, ada Langit yang sedang makan sereal dicampur susu coklat. Dua-duanya fokus dengan kegiatan masing-masing. Bunyi gesekan lap bertemu dengan kamera. Atau suara dentingan sendok beradu dengan mangkok sereal.
"Pagi semua," sapa Luna dengan riang, seperti biasanya.
"Pagi."
"Pagi. Esther belum bangun?" tanya Langit. Luna mengedikkan bahu acuh, tak tahu menahu sedang apa Esther di kamarnya.
Segelas susu plain dan omelet asin menjadi sarapan paling nikmat hari ini. Matanya tak lepas dari buku disampingnya. Makan dan membaca buku adalah kegiatan yang paling disukai Luna. Energinya terasa mencuat hingga ubun-ubun. Kacamata bulatnya kini berganti sementara dengan lensa kontak. Rambut sebahunya ia kucir setengah. Balutan celana jeans dan kaos putih, ditambah sepatu kets putih. Simple. Tapi sangat cocok dikenakan Luna.
"Bareng apa sendiri?" Langit sudah siap dengan jaket dan helm ditangannya. Tas punggungnya ia selempangkan dibahu kanan. Menawari tebengan, kalau-kalau Luna berniat membonceng.
"Sendiri aja. Nggak hujan, kok."
"Yaudah, gue berangkat duluan."
"Hati-hati."
"Sip."
Langit meninggalkan Luna yang masih sibuk dengan sarapannya. Bercengkrama sebentar bersama Surya sebelum akhirnya berbelok ke arah garasi. Dengungan motor Nmax tak mengusik ketenangan Luna. Seperti hanyut dalam dunianya sendiri. Begitu omeletenya habis, gadis itu dengan cepat menegak segelas susu plain hingga tandas. Menggendong ranselnya, kemudian mencari kunci motor di nakas tempat semua orang mengumpulkan kunci.
"Hati-hati, gak usah ngebut," peringat Surya yang dihadiahi lirikan malas dari Luna.
"Udah tau."
Senyuman geli menghiasi bibir Surya, "Kali aja lupa."
Luna dan Surya seperti kucing dan anjing. Tak bisa bersatu. Banyak gesekan yang membuat mereka tak sejalan. Yang satu tukang ngegass, yang satu tak mau kalah. Namun, ada saat dimana Surya menjadi sangat akur bersama Luna. Entahlah, suka-suka mereka saja.
Motor Vespa Matic pink mulai melaju dengan kecepatan normal. Keluar dari gerbang komplek dan membaur menjadi satu dilautan kendaraan pagi ini. Pedagang mulai merambati pinggiran jalan. Mencari uang demi sesuap nasi. Pengguna mobil tak banyak seperti kemarin, didominasi kuda bermesin yang dipacu di jalanan kota. Mungkin karena tidak hujan, pengendara sepeda motor lebih banyak. Jarak rumah dengan kampus tak begitu jauh, butuh 15 menit jika menggunakan kendaraan pribadi dan 20-30 menit jika naik angkutan umum.
Tak butuh waktu lama, Vespa Matic milik Luna sudah terparkir rapih berjejer dengan motor-motor lainnya di parkiran Fakultas Ilmu Budaya. Melepas helm yang membalut kepalanya. Sedikit merapihkan rambut lurusnya dan mengoleskan sedikit pelembab bibir. Langkahnya ringan memasuki koridor gedung FIB. Mencari kelas yang pagi ini menanti untuk dia hadiri. Matanya tak sengaja menangkap Langit sedang bercengrama bersama.....pemuda di halte!
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
Fiksi PenggemarSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)