[8.2] Prioritas Esther

216 30 8
                                        

Sumpek, panas, pengap, dan berdebu adalah kondisi yang sedang berlangsung saat ini. Jajaran kuda bermesin ditambah banyaknya metromini dan bis kota menjadi penyebab kenapa awan hari ini terlihat begitu kelabu. Bukan karena mendung, tapi karena polusi akibat pembakaran bahan bakar oleh kendaraan-kendaraan penuh ambisi itu. Orang-orang terlihat sibuk, beberapa mengumpat ketika lalu lintas mendadak padat dan lampu jalan berubah menjadi merah. Kibasan handuk penuh keringat dari abang-abang kenek bis menjadi bukti bagaimana semesta tengah membakar semua manusia hari ini.

Gadis dengan balutan blazer abu-abu berpadu dengan kerudung senada tak henti-hentinya menyipitkan matanya. Sinar matahari begitu menusuk, hingga mengaburkan pandangannya. Ditemani motor putihnya, Esther melaju membelah jalanan di siang bolong. Ini karena dosennya mendadak memajukan kelas hari ini karena besok beliau menjadi pembicara dikampus sebelah. Belasan chat memenuhi ruang obrolan, rata-rata diantara temannya mengumpat dan merutuki dosennya karena terbiasa memberi jadwal mendadak dengan alasan lupa.

"Ther."

Esther menoleh. Mendapati Daren dan beberapa temannya sedang duduk-duduk santai di pendopo dekat parkiran. Kakinya melangkah menghampiri Daren. Gadis itu menyapa beberapa teman Daren yang kebetulan memang dikenalnya.

"Lo daritadi di kampus?" tanya Esther ketika mereka berdua sudah berjalan di koridor menuju kelas yang tiga puluh menit lagi akan dimulai.

"Iya. Habis bahas masalah magang sama dosen tadi. Ngotot banget nyuruh gue magang di rumah sakit," adu Daren yang kelihatannya kesal sungguhan.

"Yaudah sih, ambil aja itu tawarannya. Lagian lo emang cocoknya magang di rumah sakit tau!"

Daren berdecak. Matanya memandang ke sembarang arah. "Ogah, rumah sakit auranya suram. Mending di perusahaan makanan instan aja," alibinya.

Esther tersenyum mengejek. Mati-matian tak mengatakan apapun yang bisa membuat dirinya kepedean. Jadi, Esther hanya menanggapinya dengan anggukan kecil dan senyuman tertahan. Ruang kelas sudah lumayan ramai diisi dengan manusia-manusia yang antara niat gak niat untuk ikut kelas siang ini. Daren duduk dibarisan belakang, bersama cowok-cowok lainnya. Sedangkan Esther ikut berkumpul bersama teman-temannya dibarisan depan. Mereka punya ruang ketika diluar kelas, tapi untuk urusan kelas, mereka adalah rival abadi. Dimana Esther dan Daren selalu rebutan IPK tertinggi setiap semesternya. Walaupun tetap aja, lebih sering Daren yang unggul.

"Lo udah bikin garis besar masalah kemarin?" tanya Esther ketika mendudukkan diri di kursi sebelah Farah. Yang ditanya mengangguk. Tangannya mengotak-atik sesuatu dilaptopnya, "Nih, gue sama Farel udah bikin garis besar plus materi pendukungnya. Kalau gak salah, gue udah tambahin beberapa gambar juga. Biar lo gak perlu cari gambar lagi pas nyusun laporan."

"Aaaaaaa thank you, Farah! Lo emang the best deh! Oh ya, minggu depan kita uji lab disana. Daren udah bilang belum sama kalian?"

Gelengan singkat menjadi jawaban. "Belum. Lo adalah orang pertama yang selalu Daren kasih tau. Dan Daren gak akan capek-capek jelasin lagi karena pasti lo yang bakal jelasin. Yah, seperti itulah roda perkelompokan kita hahahaha," tawa Farah nyaring didengar. Padahal Esther tidak tahu dimana letak kelucuan dari kalimatnya barusan.

-

SEMESTA (4)

Aluna Sienna
Kok rumah sepi?
Pada kemana?

Langit Erlangga
Gue di studio.

Esther Laksita
Gue ada kelas dadakan.
Lo main aja kalo takut di rumah sendiri.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang