Semilir angin sore, ditemani lautan burung gereja yang akan kembali ke persinggahannya. Seorang pemuda yang sedang lari sore bersama doggie peliharannya. Nenek beruban dengan riang hati menyiram bunga-bunga ditaman miliknya. Oh, jangan lupakan bocah lima tahun yang sedang berusaha mengayuh sepeda. Begitu sibuk orang-orang itu.
Sore ini cerah. Gumpalan awan jingga menjadi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Guratan alam yang membuat siapapun tersenyum melihatnya. Rumah yang dihuni empat mahasiswa terlihat sepi. Dua orang lainnya entah sedang berkelana kemana, dua orang lainnya tengah duduk diam ditemani angin sore di balkon atas.
"Lun, laper nggak?"
Luna yang sedang membaca buku lantas mendongak. Menatap Langit yang menaikkan satu alisnya, menunggu jawaban memuaskan dari bibirnya.
"Laper. Tapi malas masak," jawab Luna akhirnya.
"Delivery aja gimana? Cemilan kek atau apa gitu. Tanggung kalau mau makan berat jam segini."
"Pesen gih. Tuh hpku, masih ada voucher promo."
Tangan Langit meraih ponsel Luna, membuka password yang menurut Langit terlalu mudah. Luna malas mengingat terlalu banyak angka. Tipikal Luna dengan segala kebodoamatannya.
"Lang, kenapa ya, karakter utama novel fantasi kebanyakan kayak cowok yang bodoh. No no, I mean, yah you know lah, like Percy Jackson and Harry Potter? Mereka bahkan awalnya nggak tau kalau mereka itu Demigod dan Penyihir. Why gitu?" celetuk Luna tiba-tiba. Langit mau tak mau mengalihkan fokusnya dari aplikasi makanan online, menatap Luna dengan senyum andalannya.
"Setiap cerita ada alasannya. Kenapa Percy gak tau dia setengah dewa atau kenapa Harry gak tau kalau dirinya penyihir. Gini, kalau si penulis nggak bikin plot kayak gitu dan ujug-ujug mereka udah jadi hebat, apa menarik?"
Luna mengangguk-angguk, Langit ada benarnya. Semua plot yang sudah diciptakan penulis adalah hal yang pasti didasari alasan tertentu. Entah karena mereka ingin atau memang dilandasi pikiran brilliant mereka.
"Sama-sama tiga pahlawan. Dua cowok dan satu cewek. Kalau mereka kolaborasi seru kayaknya," lagi-lagi celetukan Luna kali ini mengalihkan atensi Langit dari handphone digenggamannya.
"Lun, please, lah."
"Ya...kan, berandai-andai. Kamu suka siapa?"
"Hah?"
"Diantara enam tokoh, kamu suka siapa?"
Alis Langit bertaut, mencoba berfikir siapa yang sekiranya ia sukai dalam serial fantasi favorite sejuta umat itu.
"Maybe Harry?"
"Ck, nggak cocok. Kamu mending jadi Voldemort."
Langit menatap malas Luna. Sedangkan, cewek itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal dari sahabatnya itu. Langit lantas mencubit pipi Luna hingga Luna berhenti tertawa. Suara tawa kini berubah jadi ringisan kecil akibat ulah Langit. Gadis itu menabok tangan nakal Langit dengan gerutuan sebal.
"Tuh kan, kamu psiko gini. Udahlah, emang titisan Voldemort. Oh, atau titisan Titan?"
"Elo tuh titisan Medusa!" balas Langit. Laki-laki itu tertawa puas ketika Luna merengut dihadapannya.
"Enak aja! Aku cantik kayak Hermione gini dikata mirip Medusa!"
"Menurut gue cakepan Annabeth sih. Pemberani, pinter pula."
"Ya ya ya, terserah Langit aja."
Suara bell rumah memecah keributan mereka. Dengan langkah seribu, Langit turun untuk mengambil makanan mereka. Satu kotak pizza berukuran medium sudah bertengger manis dimeja balkon.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)