Lalu-lalang kendaraan bermotor dengan kepulan asap hitam yang menyapa langit siang. Matahari begitu bahagia hari ini, membakar manusia-manusia penuh ambisi yang berlarian kesana-kemari mencari puing-puing rupiah. Sebuah kafe bernuansa jadul dengan dua pekerja yang sedari tadi sibuk melayani pengunjung. Senyum sok ramah perempuan di belakang meja kasir dan tatapan sok keren dari seorang barista yang selalu curi-curi pandang ke meja pojok berisi tiga orang perempuan.
Ditemani secangkir espresso, Surya duduk sendirian di meja nomor 4. Pikirannya bercabang, menerka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam beberapa menit kedepan. Bola matanya sesekali melirik pintu kafe yang berdenting. Orang-orang masuk dan keluar silih berganti. Surya melihat notifikasi handphone, sebuah pesan masuk dari seseorang yang katanya hampir sampai di kafe yang ia kunjungi. Semakin Surya menunggu, degupan kencang itu semakin menjadi-jadi.
Seorang perempuan memasuki kafe ditemani seorang pria yang terlihat lebih dewasa darinya. Surya mencoba meredam semua egonya, berusaha tenang di situasi yang membuatnya merasakan perih itu kembali.
"Sur, udah lama? Sorry tadi macet," kata perempuan itu.
"Gak papa," jawab Surya dingin. "Ada perlu apa mau ketemu gue?" lanjut Surya dengan pertanyaan yang langsung menuju pada intinya.
Perempuan itu melihat sirat yang begitu menyakitkan dari tatapan dingin Surya. Tatapan yang dulu begitu hangat, kini telah berubah. Surya enggan berlama-lama dipenuhi rasa sesak, itu kenapa dirinya mau bertemu dengan si pemberi luka itu. Tasya meminta Surya bertemu di kafe hari ini. Surya sudah menyangka Tasya akan datang bersama Christian. Sudah bukan pemandangan yang mengejutkan baginya.
"Aku mau minta maaf. Surya, aku beneran pernah sayang sama kamu. Aku juga gak bermaksud selingkuh atau apapun itu. Itu terjadi gitu aja, Sur. Mama aku bawa Christian. Dan—"
"Dan emang lebih suka cowok yang bisa menuhin semua kebutuhan lo dibanding cowok yang gak punya apa-apa kayak gue," potong Surya sarkas.
Tasya menghela nafas berat, "Nggak gitu. Sur, please, aku minta maaf. Maaf buat semuanya. Maaf udah bikin kamu merasa dipermainkan."
"Udahlah, sekarang kita udah selesai. Gue anggap lo masa lalu gue dan gue harap lo bisa jaga perasaan dia, calon suami lo," ujar Surya terdengar sedikit menusuk hati Tasya. Seolah mengatakan kalau Tasya tak bisa menjaga perasaan. Tak ada bantahan karena semua memang salahnya. Tasya yang terlalu serakah. Ingin bersama Christian ketika dirinya sudah punya Surya.
"Gue juga minta maaf. Gue gak tahu kalau Tasya punya pacar. Makasih udah jagain calon istri gue," ucap Christian pada Surya pertama kalinya.
"Ya."
Hanya itu jawaban yang Surya berikan. Sudah tak sanggup untuk mengatakan apapun lagi sampai-sampai espresso di depannya terasa hambar. Ketiganya diam dengan isi kepala masing-masing, memikirkan kata yang tepat untuk mengakhiri kesunyian yang memuakkan. Surya menghela nafas kasar, kemudian berdiri dan menggendong tas ranselnya.
"Gue cabut."
"Sur..."
Surya berhenti dan membalikkan badan, "Udah selesai semua, Tas. Gak ada yang harus diomongin lagi. Congrats buat nikahan lo."
Laki-laki itu benar-benar melangkah pergi. Meninggalkan semua kisah kasih asmara yang beberapa bulan ini ia rasakan. Surya begitu mempercayai Tasya sehingga membutakan segalanya. Surya begitu berharap pada Tasya sehingga dirinya terlalu dalam menggoreskan luka untuk hatinya sendiri. Motor hitamnya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang membosankan. Pikiran Surya dipenuhi satu nama yang sangat ingin dirinya temui. Satu nama yang entah kenapa selalu membuat Surya ingin menjadi orang pertama yang tahu patah hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)