Minggu pagi yang cerah. Matahari sedang bersenang-senang hari ini. Begitupun dengan udara kota yang semakin membuat jengah. Lalu-lalang kendaraan yang melintas. Lampu merah yang perlahan menghitung mundur. Seorang bocah cilik yang bertarung dengan teriknya matahari, menawarkan koran-koran dipelukannya. Sesekali bocah itu mengelap peluh didahinya. Perlahan tapi pasti, lampu yang semula merah sudah berubah menjadi hijau. Deruan kendaraan mulai berhambur di jalanan kota yang lebih luas.
Keempatnya sudah berdiri dengan rapih. Berjejer seperti pamong tamu. Walau, sesungguhnya keempatnya sedang menunggu seseorang. Entah siapa orang itu, tapi Surya memaksa untuk menunggunya. Alih-alih menunggu di dalam, Surya malah mengajak untuk menunggu di depan meja resepsionis. Pameran kali ini diadakan di dalam gedung serba guna kekinian yang menyediakan tempat untuk segala acara.
"Sur, nunggu siapa sih?" tanya Esther yang sudah bosan dengan kegiatannya mengamati orang-orang yang satu per satu mulai memasuki gedung.
"Tasya. Bentar ya, udah di parkiran kok."
Persekian menit kemudian, seorang perempuan dengan elegannya menyapa Surya dan yang lain. Tasya datang bersama adiknya, tapi adiknya ikut bergerombol bersama teman-temannya sendiri.
"Hallo, kalian udah lama?" sapa Tasya sambil tersenyum cerah.
"Nggak begitu sih," Esther menjawab dengan nada tak kalah riang. Tasya dan Esther pernah ikut dalam kegiatan volunteer bersama, beberapa kali mereka juga bertukar pesan. Jadi jangan heran kalau mereka berdua terlihat akrab.
"Oiya, ini Luna. Housemate gue sama Surya," kata Esther. "Lun, nih Tasya. Pacarnya Surya," lanjut Esther sambil menggandeng tangan Luna.
"Hai, gue Tasya."
Luna tersenyum, "Luna."
"Lo kuliah dimana?" tanya Tasya mencoba berbasa-basi. Tak mau menjadi canggung dengan housemate Surya satu ini.
"Sama kayak kita kok. Cuma dia emang mahasiswa kupu-kupu hahaha," Esther menjawab pertanyaan Tasya dengan kekehan kecil. Luna hanya tersenyum kikuk dan mengangguk singkat.
Tasya menatap Luna kaget dengan satu tangan menutup mulutnya, "Sumpah, gue baru tau. Gue kira anak kampus sebelah soalnya gue gak pernah lihat."
Mereka berbincang ringan ala perempuan. Selang beberapa menit, seorang pemuda jakung dengan blazer dan kacamata bulat tertangkap netra. Luna yang semula hanya diam, mendadak gugup karena sekarang Wisnu ada disini. Bertos ria bersama Surya dan Langit. Seulas senyum tipis itu berhasil menjerat Luna, entah matanya yang salah atau memang Wisnu tersenyum. Luna berusaha untuk tidak salah tingkah karena malu dong kan banyak orang.
"Bang, ada yang salting nih."
Celetukan Langit mengalihkan perhatian Wisnu dari obrolannya bersama Surya. Mulut Langit emang minta dijahit! Wisnu mengangkat sebelah alisnya, "Siapa? Kenapa bilang gue?"
"Ya soalnya, elo yang bikin salting hahaha," Langit mulai aksi tengilnya.
"Gue gak ngapa-ngapain."
Langit terlihat menahan senyum. Tangannya mulai jahil dengan merangkul Luna dengan possesif. Lantas saja Wisnu mengalihkan pandangannya. Berdecak karena lagi-lagi Langit terus menggodanya. Luna terlihat tak nyaman dengan rangkulan dadakan dari Langit lantas melepasnya secara paksa.
"Apasih, Lang? Gak usah rangkul-rangkul."
Langit mencebik, "Ck, biasanya aja gelendotan sama gue. Gini nih kalo udah kasmaran jadi lupa inangnya."
"Siapa yang kasmaran? Ngawur aja sih!" elak Luna. Tangan memukul bahu Langit yang malah semakin terbahak karena ekspresi Luna.
"Bang Nu, pacar gue, nih, pacar."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [end]
FanfictionSemesta Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita. Tentang bagaimana semesta mempertemukan empat serangkai yang orang sebut sebagai sahabat. Dan tentang bagaimana bumbu-bumbu cinta yang empat serangkai itu rasakan. Hingga tentang bagaimana cara semesta men...
![SEMESTA [end]](https://img.wattpad.com/cover/285215810-64-k513616.jpg)