[15.4] Perihal Rasa

181 30 22
                                        

Sebuah gedung dengan warna putih sebagai dominan, kilatan-kilatan flash kamera begitu menusuk di mata. Polesan make-up dan tatanan rambut yang luar biasa sangat cocok dengan gaya dari seorang model yang sedang bersolek manja di depan tirai putih. Arahan dari sang juru kamera ditambah dengan decakan kagum orang-orang yang menyaksikan membuat sang model semakin tersenyum cerah menampilkan gaya terbaiknya.

Seorang pemuda berjaket hitam tengah menyendiri di meja kerjanya. Menatap pantulan layar komputer yang menampilkan tampilan desktop. Pikirannya penuh dengan ekspetasi-ekspetasi yang dihancurkan, bergelut sengit dengan sesak-sesak di dada yang tak kunjung usai. Sudah sebulan Surya mengakhiri hubungannya bersama Tasya, sudah dua minggu pula Tasya resmi menjadi istri Christian. Harusnya Surya bahagia karena Tuhan telah menjauhkannya dari orang yang salah. Harusnya Surya bahagia karena dirinya mendapat begitu banyak pelajaran dari kisah cintanya bersama Tasya. Tapi Surya tetap manusia biasa yang masih menyimpan memori indah di benaknya. Melupakan seseorang yang begitu berarti tidak semudah yang orang pikirkan.

Seseorang yang begitu berarti...

Sebuah senyum kecil terbit dibibir Surya. Semesta sedang mempermainkan Surya diantara dua perempuan. Yang satu memberi luka, satu lagi memberi obat. Mendadak kepalanya berputar, mengingat kejadian dua tahun silam ketika Surya dengan iseng menembak Esther di balkon. Kala itu senja sedang menyapa. Keduanya pun terlihat tersipu malu dengan senyum canggung yang menggelikan. Betapa anehnya kejadian itu ketika Surya mengingatnya kembali.

"Oy! Cabut yuk?"

Surya menoleh ke belakang ketika seseorang mengetuk pintu. "Udah kelar semua?"

"Udah. Barangnya biar dibawa karyawan gue. Ngopi yuk, ah! Asem banget mulut gue dari tadi gak sebat. Makan dulu tapi di warteg," kata laki-laki itu. Penampilannya begitu mentereng dengan rambut merah dipadu dengan blazer hitam.

Surya menggeleng pelan ketika Erlan dengan santainya duduk di atas meja kerja miliknya dan mencomot satu permen dari toples milik rekan kerjanya. Hari ini adalah pemotretan untuk brand lokal yang dikelola Erlan selama ini. Dari jauh-jauh hari Erlan sudah meminta Surya untuk melakukan sesi foto, karena Erlan begitu suka dengan arahan gaya yang diatur Surya. Tapi apalah daya ketika hari ini tiba Surya justru kurang fit untuk melakukan pemotretan. Alhasil, Erlan hanya bisa untuk mencoba mengerti perasaan Surya kali ini.

Setelah mematikan komputer dan memasukkan kameranya ke dalam tas, Surya bergegas mengekori Erlan yang sudah terlebih dahulu berpamitan kepada semua kru yang ada. Laki-laki Tionghoa itu membawa Surya ke sebuah warteg yang terkenal dengan rasa gudegnya yang mantap. Walaupun Chindo, selera Erlan tetap makanan lokal dan kurang suka dengan Chinese food.

"Lan, kalau gue CLBK sama Esther gimana?"

Erlan menyeringai dan mengendus pelan. "Udah gue tebak lo bakalan balik ke Esther suatu hari nanti. So, is it time now?" katanya santai. Erlan mencopot kacamata hitam yang tadi dia pakai di mobil. "Kemarin gue ketemu sama Esther. Sssttttt, gak usah tanya dulu. Biarin gue ngomong. Dari awal gue tahu kalau Esther cewek baik. Dia punya sesuatu yang orang lain gak punya, tapi gue juga gak tahu gimana cara deskripsiin sesuatu itu. Lo pasti paham maksud gue. Kalau lo tanya gue, bakalan gue jawab kalau lo harus CLBK sama Esther. Tapi, sayangnya hati lo ya cuma lo yang tahu. Gue gak mau saran gue nyesatin lo. Jadi, mending lo pikir dulu matang-matang sebelum menyimpulkan perasaan lo sendiri."

"Ah, sayang banget Esther beda agama. Coba kalau sama-sama Anak Tuhan, udah gue gebet dari dulu," celetuk Erlan iseng. Surya sudah memberinya pelototan tajam sebelum Erlan kembali melanjutkan kalimatnya.

"Kapan lo ketemu Esther? Kok gue gak dikasih tahu?" pertanyaan Surya membuat aksi makan kerupuk Erlan terhenti. Melirik ekspresi Surya yang sudah penasaran setengah mampus, mau tak mau Erlan menaruh kerupuknya di piring.

SEMESTA [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang