"RYAAAN!!!"
Mendapati Ryan yang terbaring tergeletak tak bergerak di lantai ketika ia baru pulang, bukanlah hal yang diantisipasi oleh Vanessa. Maka dari itu, sangat wajar bila jeritan panik Vanessa seketika menggelegar ketika ia mendapati Ryan dengan kondisi yang seperti itu.
Vanessa langsung menghambur masuk. Membiarkan pintu unit itu tertutup dengan sendirinya sementara ia meletakkan tasnya di sofa. Ia melepaskan sepatunya dengan asal. Lalu menghampiri Ryan yang terbaring dengan posisi telungkup di lantai.
Sejenak Vanessa menggoyang tubuh Ryan. Berharap agar cowok itu bergerak. Tapi, Ryan benar-benar bergeming. Semakin membuat cemas Vanessa.
Sedetik kemudian, gadis itu buru-buru membalikkan tubuh Ryan dengan susah payah. Ia lantas menurunkan kepalanya untuk menangkap bunyi detak jantung Ryan. Dan ia menghela napas lega.
Ryan masih hidup.
Lalu, ia mengangkat wajahnya. Menepuk pelan pipi cowok itu. Ya walaupun telinga Vanessa bisa mendengarkan detak jantung Ryan, tapi itu bukan berarti Vanessa bisa tenang. Pikiran buruk masih bertengger di benaknya.
Ini kenapa Ryan mendadak pingsan di sini?
Vanessa panik!
"Ryan .... Ryan ...."
Tangan lembut Vanessa berulang kali menepuk pipi cowok itu. Berusaha untuk menyadarkannya. Tapi, tak ada respon dari Ryan.
"Ryan ..., kamu nggak apa-apa?"
Dan Vanessa menggigit bibir bawahnya.
Ya ampun, Sa!
Ya kali Ryan baik-baik aja.
Kalau dia baik-baik aja, dia nggak bakal pingsan di jalan kayak gini!
Vanessa semakin ketakutan dengan pikirannya sendiri. Mendorong dirinya untuk semakin kuat memukul pipi Ryan.
"Ryan ..., bangun dong. Jangan buat aku cemas kayak gini," lirih Vanessa dengan suara yang parau. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
Lalu, tak lama kemudian Vanessa mendengar cowok itu melenguh panjang. Setengah merintih. Mata Vanessa seketika membesar dengan penuh harapan.
"Ryan? Kamu udah sadar?" tanyanya dengan cepat.
Di bawah sana, Ryan terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali. Ia mencoba membuka matanya dan retinanya langsung menangkap wajah Vanessa. Suara cowok itu terdengar parau ketika berkata lirih.
"Kayaknya aku di surga .... Soalnya aku ngeliat bidadari."
Glek.
Vanessa membeku. Ia memandang ke kiri ke kanan. Melihat-lihat ke sekelilingnya. Seketika saja ia teringat perkataan Ryan, kalau berhadapan dengan makhluk halus bisa membuat tenaganya habis seketika.
"Ryan ...," bisik Vanessa. "Tadi ada setán ya ke sini?"
Mata Ryan berkedip sekali. Benaknya berpikir.
Ngapain bidadari sampe bahas setán?
Dahi Ryan berkerut. Berusaha memfokuskan matanya. Lalu ia melirih.
"Vanessa?"
Ryan melihat bagaimana kedua mata Vanessa terlihat cemas. Terutama dengan kilau-kilauan air di matanya. Terlihat benar-benar khawatir ketika bertanya.
"Kamu udah sadar beneran, Yan? Kamu nggak apa-apa?"
Mata Ryan mengerjap-ngerjap lagi.
Ini beneran Vanessa. Hiks. Bidadari aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomansaJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
