Vanessa berlari!
Benar-benar berlari.
Tak peduli harus menginjak kasur, melompat turun dari ranjang, mengitari ranjang, lalu kembali lagi naik ke atas kasur, dan seterusnya. Melakukan hal yang serupa berulang kali. Hanya demi menghindar dari Ryan yang mengejar dirinya. Di mata Vanessa, Ryan tak ubahnya seperti serigala jantan yang bersiap untuk menerkam seekor domba polos tak berdosa.
Hiks.
Dirinya.
"Eh? Kamu lari, Dinda?"
Suara Ryan yang bertanya pada dirinya spontan membuat Vanessa nekat menoleh ke belakang. Terengah-engah, memaksa kakinya untuk terus bergerak, Vanessa mencoba untuk menjawab.
"Aku nggak bakal lari kalau kamu nggak ngejar."
Di belakangnya, Ryan tertawa. "Aku nggak bakal ngejar kalau kamu nggak lari."
Dasar!
Vanessa mendengus. Tepat ketika ia berada di atas kasur dan merasa lelah hingga secepat mungkin memutuskan untuk mengambil guling. Membalikkan badan dengan cepat dan mengacungkan guling itu layaknya senapan yang siap meluncurkan peluru hingga menembus kepala Ryan.
"Hahahaha."
Di bawah, Ryan tertawa.
"Berenti," ancam Vanessa. "Kamu berani maju, aku pukul kamu pake guling."
Tangan Ryan bergerak. Keduanya berkacak di pinggang. Kilat jahil di sepasang bola matanya terlihat seperti menantang Vanessa.
"Beneran kamu mau ngelawan aku pake guling?" tanya Ryan menggoda. "Yakin?"
Vanessa mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kamu udah pernah ngelempar aku pake mangkok melamin. Terus juga pernah nampar aku. Mukul aku berkali-kali," kata Ryan dengan geli-geli miris.
Bukannya apa. Tapi, Ryan justru mendadak menyadari bahwa di usia pernikahan mereka yang baru sebentar itu, ternyata dirinya sudah melewati berbagai macam metode penyiksaan Vanessa. Hiks. Menyedihkan sih sebenarnya.
"Badan aku udah kebal, Sa."
Otak Vanessa berpikir.
Yang dibilang Ryan bener juga sih.
"Jadi, kalau kamu mau ngelawan aku pake guling, itu justru berasa bukan kayak yang mau ngelawan aku." Ryan tersenyum malu-malu. "Itu berasa kayak mau pukul-pukul manja gitu. Hihihi."
Ya salam.
Di tempatnya berdiri, Vanessa melongo.
"Ini kamu pasti kesambet setán penghuni kebun jagung."
Tawa Ryan semakin kencang. Dengan mata berairnya, Ryan berkata.
"Hati-hati loh, Sa, sama omongan. Ntar ada yang ngerasa lagi diomongin. Ntar dia datang gimana? Hahahaha."
Mata Vanessa mengerjap. Meneguk ludah dan pelan-pelan memutar kepalanya, melihat ke belakangnya. Tak ada apa-apa sih, tapi tetap saja. Perkataan Ryan membuat Vanessa jadi bergidik.
"Kamu jangan nakutin aku ah, Yan."
Ryan terkikik. Lalu membawa kedua tangannya yang semula di pinggang bergerak. Membentang dalam satu ajakan.
"Ununununu. Dinda Vanessayang atut ada hihihi."
Wajah merah padam Vanessa membuat Ryan makin terkikik.
"Cini cini cini, Dinda. Sama Kanda deh. Pelukan Kanda akan mengamankan Dinda dari semua marabahaya yang paling berbahaya di dunia ini."
Cuping hidung Vanessa berkedut. Masih mengangkat bantal guling di tangannya itu. "Di dunia ini, marabahaya yang paling berbahaya itu ya kamu, Kanda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomantikJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
