32. Bukan Mimpi

2.3K 117 0
                                        

Satu hal yang tidak Ryan antisipasi sebelumnya adalah mengenai pengendalian diri. Karena ... astaga! Ryan ini cowok yang masih berada di dalam tahap pendewasaan diri. Gejolak darah mudanya sedang berada di dalam tahap yang berkobar-kobar.

Kalau menilik pada film Twilight Saga, seperti yang dikatakan Edward Cullen pada Bella Swan: Ketika kami merasakan darah manusia, muncullah kegilaan karena kelezatannya. Nah! Kurang lebih begitulah yang saat ini terjadi pada Ryan. Hingga berubah seperti ini: Ketika Ryan merasakan bibir Vanessa, muncullah kegilaan karena kelezatannya.

Eh?

Sedikit horor sih, tapi memang itulah yang terjadi.

Ryan merasakan otaknya seperti menghilang dari batok kepalanya. Tergantikan oleh tulisan berbagai bahasa dengan arti yang sama: Astaga, Tuhan! Ya ampun!

Ryan mencoba, tapi ia tak bisa menghentikan diri dari keinginan alamiah untuk terus melumat bibir Vanessa. Tak menghiraukan bagaimana kedua tangan Vanessa yang telah mengepal kaku di dadá cowok itu.

Bibir Ryan melumat. Membelai. Mengecup. Dan mencecap setiap rasa yang ada di sana. Manis. Empuk. Kenyal.

Astaga!

Ternyata Vanessa memiliki banyak hal yang empuk dan kenyal.

Hanya karena Ryan merasa napasnya terasa payah maka ia pada akhirnya dengan berat hati mengurai ciuman itu. Dan ia dengan segera mengambil napas panjang. Terengah-engah. Begitu pun dengan Vanessa yang sontak menundukkan wajahnya dengan mulut yang terbuka demi bisa mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

Dadá keduanya naik turun dengan begitu kentara. Seolah-olah sedang berebut udara. Seolah-olah mereka akan segera mati bersama. Terbakar oleh rasa panas yang entah datang dari mana. Seolah-olah saat itu mereka bukannya berada di tengah-tengah hujan angin, melainkan api yang membara.

Untuk beberapa saat, mereka sama terdiam. Hingga pada akhirnya Vanessa bisa meraih kembali kesadarannya. Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap Ryan dan satu tangannya melepas dari dadá Ryan.

Kepalan tangan Vanessa membuka. Naik.

Mungkin Vanessa bermaksud menampar Ryan, tapi astaga! Bahkan gerakan tangan bayi berumur satu bulan pun lebih cepat dan bertenaga dibandingkan Vanessa kala itu. Maka jangan heran bila akhirnya justru Ryan berhasil menangkap pergelangan tangannya.

Vanessa meneguk ludah. Dan ia terbengong. Melihat dengan sorot tak percaya ketika Ryan membawa telapak tangannya yang membuka itu ke depan bibirnya. Lembut, Ryan mengecup telapak tangannya.

"Daripada dipake buat nampar aku, mending tangan kamu dipake buat belai-belai manja aku deh."

*

"TIDAAAK!!!"

Vanessa bangun dari tidurnya dan langsung terduduk seketika.

Wajah cantiknya basah oleh keringat yang sangat deras mengucur. Bahkan saking derasnya keringat itu, piyama yang ia kenakan pun terlihat basah. Rambut panjangnya juga terlihat lengket karena keringat itu.

Vanessa meneguk ludahnya. Mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya langsung mengusap wajahnya berulang kali. Matanya memejam.

Kok bisa sih aku mimpi semengerikan itu?

Mimpi ciuman sama Ryan?

Ya Tuhan.

Aku lebih baik nggak usah tidur daripada sampai mimpi kayak gitu lagi.

Itu benar-benar mengerikan.

Kesal, Vanessa meremas selimutnya dengan geram sebelum pada akhirnya ia turun dari tempat tidur. Mengabaikan rambutnya yang acak-acakan, Vanessa yang mengenakan stelan pakaian tidur lengan panjang itu memilih untuk keluar.

Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang