"Aku udah ngomong loh dari tadi. Sekalinya Bos bawa cewek, eh ... langsung memicu perubahan alam."
Sahrul dan Anton mengangkat kepalanya. Bunyi petir terdengar sahut menyahut. Disertai angin kencang. Dan tak lama kemudian, hujan pun turun dengan begitu lebatnya.
"Astaga! Pake acara hujan lagi."
Ryan merutuk.
Baru saja sekitar setengah jam yang lalu kedua ibu mereka pulang dari depot dan Ryan pun meninggalkan Vanessa untuk beristirahat di rumah sementara ia bekerja, tapi mendadak saja alam berubah dengan drastis. Barang tentu, ketiga orang cowok itu dengan segera menyelamatkan beberapa tanaman yang berukuran kecil dan sedang. Terburu-buru dikejar oleh waktu dan hujan. Tak memedulikan keadaan mereka yang sudah basah kuyup tak terkira.
Hingga pada akhirnya mereka selesai menyelamatkan semua tanaman yang menjadi prioritas, ketiganya langsung berteduh di pondok. Membuang air hujan di tubuh mereka. Dengan mata yang menatap lurus ke depan. Pada air-air yang turun dengan begitu lebat.
"Aduh. Nggak bakal sebentar ini ujan," lirih Ryan.
Mata Ryan melirik pada motornya yang mendapat steam gratis dari alam. Untung tadi ia keburu menyelamatkan dua helm miliknya itu. Sekarang, helm itu ada di atas kursi rotan terasnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya menunggu di pondok seraya bercakap-cakap kecil. Membicarakan hal yang penting hingga hal yang tidak penting sama sekali. Seperti keadaan semut contohnya.
"Kalau hujan kayak gini," ujar Ryan seraya mengusap-usap ujung dagunya, "kira-kira sebanyak apa ya semut yang meninggal?"
Anton dan Sahrul yang duduk mengapit Ryan saling pandang. Lalu, geleng-geleng kepala. Hingga pada akhirnya ketika hujan terlihat sedikit berkurang kelebatannya, mereka berkata.
"Bos. Kami pulang duluan ya?"
"Ini kalau ditunggu juga bisa-bisa sampai besok pagi redanya."
Ryan menoleh bergantian pada mereka berdua. Membenarkan perkataan itu.
Kalau hujan sampai pagi, apa sebaiknya aku nyuruh Vanessa pulang duluan ya? Naik taksi aja. Kasian dia. Besok juga harus kerja.
"Oh, oke oke," kata Ryan. Lalu, ia teringat sesuatu. "Itu, Rul. Nanti kamu bilangin aja ke Yanto. Nggak usah datang buat jaga malam ini."
Seperti yang dulu pernah Ryan katakan bahwa dirinya mencari penjaga malam untuk depotnya –mengingat ia sudah tidak menginap lagi di sana-, yang mana kemudian Sahrul pun menawarkan sepupunya. Yanto namanya. Terhitung sudah hampir sebulan pula Yanto bekerja di sana. Yah sama lamanya dengan waktu yang telah Ryan habiskan tinggal serumah dengan Vanessa tentunya.
"Bos nginap?" tanya Anton.
Ryan mengangguk. "Ya kali aku ngelawan hujan sederas ini. Sampe-sampe udah remuk semua badan aku."
"Oh ...."
Lalu sesuatu melintas di benak Ryan. Buru-buru ia berkata.
"Nanti Vanessa aku panggilkan taksi kok. Biar dia bisa balik duluan."
"Oh ...."
"Aman aja. Aku nggak bakal aneh-aneh kok. Yakin."
"Oh ...."
Dahi Ryan melongo mendapati lirihan itu dari Anton dan Sahrul. Sedikit heran karena mereka tidak mengatakan apa-apa pada dirinya.
Kenapa reaksi mereka sedatar ini?
Nggak yang heboh pake acara ngeganggu aku gitu?
Ryan bingung.
Tapi, mereka berdua pada akhirnya benar-benar beranjak dari pondok. Menuju ke dua motor bebek mereka yang terparkir. Keduanya tampak mengamati Ryan yang kemudian langsung berlari menuju ke rumahnya. Sontak kedua cowok itu teringat percakapan mereka dengan Lastri. Beberapa waktu yang lalu sebelum Lastri dan Ilana pulang. Saat itu Ryan sepertinya sedang memilihkan satu pot kecil bunga anyelir untuk mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomanceJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
