Butuh waktu beberapa menit untuk Vanessa benar-benar memaknai perkataan dari Ryan. Setelahnya, Vanessa nyaris tidak tau emosi apa yang ia rasakan. Kesal? Tidak. Marah? Tidak. Lucu? Tidak. Hanya saja Vanessa menarik napas dalam-dalam. Semua terasa begitu ... datar.
Sementara itu, setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ryan tampak tak goyah menatap pada Vanessa. Seolah seperti tentara yang rela dimutilasi musuh daripada harus membocorkan rahasia negara.
Terlihat begitu bertekad.
Pada akhirnya, daripada Vanessa semakin pusing, ia hanya angguk-angguk kepala dan berkata.
"Mana bunganya, Kanda? Sini Dinda ambil."
Jawaban Vanessa yang seperti itu adalah hal yang tak terduga oleh cowok itu. Terharulah Ryan. Dengan begitu berbinar-binar, ia semakin tinggi mengangkat bunga mawar merah tersebut. Vanessa pun segera mengambilnya.
Sedetik pot bunga mawar merah itu berpindah di tangannya, maka di saat itu pula Vanessa mengernyit dan melirih.
"Ah ... lumayan berat juga ya."
Lalu, Ryan berdiri. Terlihat tampak tak nyaman untuk beberapa saat. Hingga kemudian ia sedikit melakukan perenggangan karena tubuhnya terasa kaku. Lantas ia tampak bersandar pada satu tangan di dinding dekat pintu.
"Ya iyalah berat," timpal Ryan. "Itu kan pot dari tanah liat asli. Dan sekarang kamu kebayang kan aku ngangkat itu pot hampir sejam? Wah! Emang kuat lahir batin aku jadi cowok."
Mata tajam Vanessa melirik pada Ryan. "Bukan salah aku. Yang tadi nyuruh berlutut siapa?"
"Yang tadi ninggalin siapa?" sambar Ryan langsung.
Vanessa melotot. Mengacungkan pot bunga di tangannya itu dan langsung mengeluarkan ancamannya. "Kamu mau aku pentung pake ini pot? Iya? Kalau mau bilang aja. Biar kita berdua ngeliat. Sekuat apa sih pot bunga yang terbuat dari tanah liat asli ini."
Ryan segera mundur beberapa langkah seraya memegang kepalanya, mengantisipasi segala macam kemungkinan. Bibir manyun dan langsung geleng-geleng kepala.
"Nggak mau."
Dengan tatapan mengancam, Vanessa berkata lagi. "Kalau nggak mau, jangan betingkah lagi."
Ryan angguk-angguk kepala. Tapi, tak mengatakan apa-apa.
"Buruan masuk. Mandi sana. Bau apek."
Ryan kembali angguk-angguk kepala. Tapi, masih tidak mengatakan apa-apa.
Dan setelah itu, Ryan melihat mata Vanessa yang kembali menyipit demi mengirimkan ancamannya pada cowok itu sebelum pada akhirnya ia beranjak dari sana. Maka ketika Vanessa putar badan seraya membawa sepot bunga mawar merah itu dan masuk ke dalam unit apartemen, Ryan jadi garuk-garuk kepala.
Ini kenapa berasa aku kayak yang lagi diomeli sama Mama sih?
Atau ....
Mata Ryan membesar dan menutup kesiap tak percayanya dengan kedua tangan. Lalu ia justru mengerjap-ngerjap.
Apa ini kode kalau jiwa keibuan Vanessa meronta-ronta meminta anak?
Wah!
*
Dan malam harinya ....
Vanessa menatap tak percaya pada sepot bunga mawar merah yang juga berada di meja makan saat dirinya dan Ryan akan makan malam. Gadis itu berulang kali mengucek-ucek matanya, khawatir kalau terlalu stres menghadapi Ryan dan sepot bunga mawar merahnya membuat ia berdelusi melihat bunga mawar merah itu di atas meja. Tapi, ternyata itu kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomanceJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
