44. Manis Puding

1.6K 109 0
                                        

Vanessa menyipitkan matanya. Sejenak berusaha untuk memfokuskan indra pendengarannya tatkala terdengar suara berisik dari depan. Mendorong gadis itu untuk mengecilkan sejenak suara televisi.

Oke, nggak salah lagi. Itu Ryan pasti udah balik.

Maka Vanessa langsung menormalkan lagi suara televisi. Berpura-pura kalau ia sedang menikmati tayangan berurai air mata itu, padahal sebenarnya ia sama sekali tidak menontonnya.

Ya kali kan?

Hidup aku aja udah berurai air mata, ngapain juga aku nonton orang nangis juga?

Ehm ....

"Dinda Vanessayang ...."

Untung sekali Ryan mengatakan itu tidak sambil membuka kedua tangannya dan ditambah dengan lagu pengiring, kalau tidak ... mungkin saat ini remot televisi yang masih berada di tangan Vanessa sudah melayang ke kepala cowok itu.

Mendehem sejenak, membiarkan kepalanya tetap tertopang satu tangannya yang berada di atas lengan sofa panjang –dengan posisi setengah berbaring di sana-, Vanessa melirik melalui ekor mata. Bibirnya mengulas satu senyuman anggun yang tipis. Menyambut kedatangan Ryan.

"Oh ... Kanda Ryancur udah pulang?"

Mata Ryan mengerjap-ngerjap. "Ryancur?"

"Ups!" Satu tangan Vanessa yang bebas naik ke depan bibirnya. "Kanda pasti nggak tau kalau nama kontak Kanda di ponsel Dinda sudah berubah namanya menjadi Ryancur."

Ryan tercengang. "Beneran?" tanya cowok itu seraya beranjak. Duduk di ujung kaki Vanessa.

Vanessa mengangguk dengan tetap mempertahankan keanggunannya.

"Tega banget kamu, Sa. Masa nama suami sendiri ditulis gitu," gerutu Ryan.

Vanessa tertawa. "Soalnya nama kamu Ryan sih. Apa coba yang cocok selain Ryancur?" tanya Vanessa. "Nggak ada ... hahahaha. Coba aja nama kamu Richi ... ehm, udah aku tulis Richinta. Hihihi."

Sudut hidung Ryan terasa berkedut. Dan karena itu mendadak saja ia langsung cuuus! Melesat berpindah duduk di dekat perut Vanessa.

"Kamu cinta aku ya?"

Wajah Vanessa seketika lemas langsung. Geleng-geleng kepala.

Bibir bawah Ryan maju sekilas.

"Jadi cewek kok sukanya ngasih harapan palsu," gerutu Ryan.

"Bukan harapan palsu," kata Vanessa. "Kamunya aja yang salah berharap."

Perkataan Vanessa membuat Ryan mendengus. Lalu masih mempertahankan raut cemberutnya, Ryan memutar bola matanya. Dan pada saat itulah ia melihat sepotong puding yang masih tersisa di piring Vanessa.

Ah, bener!

Tadi kan aku buru-buru mau pulang gara-gara puding.

Ha ha ha ha.

Ryan hampis saja lupa alasan dia langsung buru-buru cabut dari depotnya padahal baru saja sepuluh menit dia sampai. Dan karena itulah ia dipandang aneh oleh Anton dan Sahrul.

Untuk apa datang kalau hanya untuk pergi lagi, Bos?

Aduh.

Ryan tergelak kala itu.

"Sa ...." Ryan berpaling lagi pada Vanessa. Ia menatap gadis itu dengan senyum di wajah.

"Apa?" tanya Vanessa dengan tatapan menyelidik.

"Puding ...," kata Ryan seraya menunjuk puding. "Aku kan pulang mau puding."

"Oh ...." Vanessa hanya melirih pelan. "Udah abis by the way. Aku nggak tau kalau kamu juga mau makan pudingnya."

Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang