Farrel tampak mengumpulkan buku laporan praktikum para praktikan di depan. Kepalanya melongok ke kanan ke kiri berulang kali seraya berkata.
"Ayoh! Buruan, waktunya udah habis. Silakan kumpulkan buku laporannya ke depan sekarang."
"Iya, Kak. Bentar lagi."
Ryan meraih buku laporan milik Abid. Membawa milik mereka berdua dan mengumpulkannya ke depan. Sengaja sekali Ryan memilih beranjak dari kursinya hanya supaya bisa melihat Vanessa di tempat duduknya.
Ketika dia selesai mengumpulkan buku itu, Ryan melirik pada Vanessa. Kali ini ia mencoba lagi.
Siapa tau kan yang tadi itu dia khilaf semata, pikir Ryan.
Cowok itu tersenyum tipis dengan sopan. Tapi, jangankan membalas, yang ada justru Vanessa justru membuang muka ke arah lain. Maka sembari kembali ke kursinya, Ryan berpikir.
Emang beneran deh cewek ini. Ternyata dia emang sengaja.
Setelah semua peserta praktikum selesai mengumpulkan buku laporan itu, Vanessa dengan segera bangkit dari kursinya. Tampak maju dan memandangi semua mahasiswa tersebut.
"Oke. Praktikum hari ini sampai di sini. Sampai jumpa minggu depan dan selamat sore."
"Selamat sore juga, Bu!"
Mahasiswa langsung membubarkan diri. Dan di sela-sela keriuhan itu, Ryan sempat melihat bagaimana Vanessa yang bicara dengan Farrel. Terlihat sejurus kemudian cowok itu mengangguk-anggukkan kepala dan mereka berdua langsung keluar dari ruang praktikum secara bersama-sama.
Eh? Ckckck.
Giliran sama aku ya ampun, mukanya jutek banget. Pas sama yang lain, eh ramah banget.
Abid menepuk pundaknya Ryan sekilas. "Yok, keluar."
Ryan tak berkata apa-apa, tapi ia langsung mengekori langkah kaki Abid yang mengajak dirinya untuk keluar dari sana. Dan ketika keluar itulah otak Ryan terpikir sesuatu.
Lantai atas itu sebenarnya memiliki dua jalur. Mereka bisa keluar dengan rute mereka masuk tadi, yaitu berbelok ke kanan. Atau dengan rute satu lagi, berbelok ke kiri untuk langsung keluar dari gedung laboratorium tersebut melalui pintu belakang dan sekaligus melewati ruangan Vanessa.
Dan sebelum Abid berbelok ke kanan, langsung saja Ryan menyambar pundak temannya itu dan mengajaknya untuk melangkah beda arah.
"Eh?" Abid bingung. "Motor kita di depan, Yan. Bukan di belakang."
Ryan tak menggubris protes Abid tersebut, melainkan terus saja tetap berjalan. Ketika mereka hampir melewati ruangan Vanessa, Ryan mendengar gelak tawa Vanessa. Membuat cowok itu melambankan langkah kakinya. Sengaja sekali berjalan pelan ketika melewati ruangan tersebut.
"Saya permisi dulu, Bu. Sebenarnya saya belum sempat makan siang tadi. Nanti saya ke sini lagi untuk konsultasi ya, Bu?"
Ryan mengernyit. Lalu, terdengar suara Vanessa berkata.
"Oke. Jam empat saya sudah pulang. Seandainya nanti ruangan saya tertutup, berarti besok saja kita konsultasinya."
"Baik, Bu. Saya permisi dulu."
Farrel keluar dari ruangan Vanessa. Ketika itu ia langsung beradu pandangan dengan Ryan. Sedikit terkejut, tapi ia menyapa dengan sopan.
"Kak Ryan .... Kak Abid."
Ryan tersenyum tipis dan mengangguk sekilas, begitupun dengan Abid. Setelah Farrel berlalu dari sana, mendadak saja satu ide datang ke kepala Ryan.
Tadi Farrel ngomong mau konsultasi kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomanceJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
