Nathan memarkirkan mobilnya dengan mulus di parkiran gedung Jurusan. Dengan cekatan turun dan langsung meraih tas laptop Vanessa setelah terlebih dahulu membuka pintu untuk wanita itu. Mendapati perlakuan tersebut, Vanessa hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Sedikit melirik ke sekitar mereka dengan wajah yang terlihat tak nyaman.
"Ehm ..., saya bisa ke atas sendiri, Pak. Terima kasih sudah mengantar sampai ke Jurusan."
Nathan tersenyum. "Nggak apa-apa, Bu. Saya bawakan ke atas aja sekalian. Tanggung kan? Masa cuma sampai di depan gedung saja."
Vanessa memilih untuk tidak berdebat. Terutama karena menyadari hal tersebut akan mengundang perhatian lebih pada beberapa orang yang tampak hilir mudik di sekitaran pelataran gedung. Akhirnya, ia hanya mengangguk sekali.
Sepanjang perjalanan, Vanessa menebalkan muka. Berusaha mengabaikan tatapan menggoda beberapa orang dosen dan karyawan yang kebetulan sekali berpapasan dengan mereka berdua.
Nathan meletakkan tas laptop Vanessa di atas meja kerja wanita itu. Dan sebelum Nathan sempat berucap, Vanessa langsung berkata tanpa merasa perlu menyuruh pria itu untuk duduk.
"Terima kasih, Pak."
Nathan mengangguk menanggapi ucapan terima kasih yang penuh kesan sopan itu. "Nggak apa-apa. Lain kali kalau mau bareng ke Gedung Kuliah, ibu bisa ngubungi saya saja. Nggak perlu sungkan."
"Ah ...." Vanessa melirih pelan. "Untuk tawarannya, saya ucapkan terima kasih juga. Tapi, sepertinya saya nggak bisa menerimanya."
Wajah Nathan berubah. Terlihat salah tingkah. Tapi, sebelum ia sempat mengucapkan satu kata pun, Vanessa kembali bicara.
"Saya yakin Bapak nggak lupa kan dengan perkataan saya tempo hari? Tentang keberadaan seseorang yang tengah mendekati saya?"
Nah! Kali ini wajah Nathan bukan lagi terlihat salah tingkah, tapi terlihat benar-benar resah.
"Saya bukan bermaksud untuk masih mencoba mendekati Ibu," kata Nathan kemudian. Menarik napas sejenak, mencoba menenangkan diri. "Yah, tadi kebetulan saja kita bertemu. Daripada Ibu jalan ke Jurusan kan?"
"Oh, begitu. Ternyata saya salah menduga." Vanessa tersenyum. Matanya tampak berkedip dua kali sebelum lanjut berkata. "Kalau begitu saya minta maaf, Pak, karena saya sudah over percaya diri. Berarti kalau begitu bisa saya simpulkan lain kali Bapak nggak akan mengajak saya untuk bareng lagi kan? Mengingat yang tadi itu ... cuma kebetulan?"
Nathan meneguk ludah. Terlihat sebulir keringat timbul di dahi pria itu.
Jelas, Nathan mengetahui maksud perkataan Vanessa. Siapa pun adanya, tentu paham. Di balik kata-kata sopan Vanessa, ada sindiran yang telak. Sukses membuat Nathan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Pria yang sedang mendekati saya itu, Pak, walau orangnya nggak cemburuan, tapi mudah ngambek."
Sementara Nathan masih menenangkan diri karena sindiran Vanessa, ia justru dibuat melongo karena perkataan Vanessa yang satu itu. "Eh?"
"Memang sih dia mudah dibujuk, tapi tetap saja. Saya nggak mau merusak hubungan yang baru ingin kami mulai. Terutama ... saya yang nggak mau menjadi orang yang merusaknya."
Nathan terdiam. Diam-diam bisa menangkap bahwa tak ada sorot main-main ketika Vanessa mengatakan itu. Vanessa terlihat serius.
"Saya sudah menerima dia, Pak," lanjut Vanessa tersenyum. "Dan hubungan kami lebih dari serius. Saya harap Bapak nggak lagi bersikap seperti ini. Untuk terakhir kalinya, saya mohon dengan kerendahan hati ..." Vanessa menarik napas sejenak sebelum menuntaskan perkataannya. "... lebih baik kita nggak terlalu dekat kalau nggak ada urusan pekerjaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"
RomanceJudul: Kuliah Tapi Menikah Genre: Romantis Komedi Manis (18+) Status: Tamat Cerita Kedua dari Seri "Tapi Menikah" Buat yang belum dewasa, sangat tidak disarankan untuk membaca! ********* "BLURB" Masa sih menikahi dosen sendiri? Yang benar saja. Riz...
