77. Sarapan Perasaan

2.2K 115 1
                                        

Selepas belanja keperluan dapur, Ryan dan Vanessa memutuskan untuk menikmati makan malam yang sedikit terlambat. Tak berdiskusi lebih lama, mereka dengan cepat menemukan pilihan untuk makan malam mereka. Di warung pecel lele tempat mereka makan dulu. Dan ketika meraka tiba di sana, mereka langsung disambut dengan ramah oleh pemilik warung tersebut.

"Eh, Mbak sama Mas. Mari mari."

Keduanya tersenyum sopan sebagai balasan. Lalu langsung beranjak masuk. Mencari meja yang kosong.

Seraya menarik kursi dan duduk, Ryan menggamit tangan Vanessa di sebelahnya. Mencondongkan sedikit wajahnya dan berbisik hangat di telinga wanita itu.

"Si Bapak udah ingat wajah kita loh, Sa. Hihihihi."

Duduk dan langsung menarik selembar tisu makan di atas meja makan, Vanessa melirik. Tampak tangannya yang kemudian terulur mengambil sebungkus kerupuk, membukanya.

"Jadi kamu bangga gitu diingat sama pemilik warung pecel lele?"

"Ya nggak gitu juga sih. Soalnya kan kita baru dua kali ke sini, eh si Bapak udah hapal aja wajah kita." Ryan angguk-angguk kepala, tersenyum penuh arti. "Emang sih. Wajah ganteng kayak gini mana ada yang bisa melupakan."

Vanessa geleng-geleng kepala. Lantas menarik sekeping kerupuk di tangannya itu. Menyumpalkan makanan tersebut ke mulut Ryan.

"Makan kerupuk aja ya, Yan? Nggak usah ngoceh aneh-aneh."

Mata Ryan berbinar-binar. Seraya mengunyah kerupuk di dalam mulutnya itu, jari telunjuknya menusuk-nusuk pinggang Vanessa. Matanya melirik kanan kiri.

"Makin lama makin berani ya. Nggak cuma berani minta cium di tempat umum, eh udah berani nyuap aku juga."

Vanessa mengembuskan napas tak percaya. "Siram pake air kobokan mau?"

Ryan tertawa.

*

Ketika Ryan dan Vanessa tiba ke unit malam itu, jam di dinding nyaris menunjukkan jam setengah sebelas malam. Keduanya terlihat bahu membahu membawa belanjaan mereka yang tidak sedikit jumlahnya itu. Maklum, belanja bulanan.

Vanessa langsung membongkar semua belanjaan itu di dapur. Menyusunnya dengan rapi di tempat masing-masing. Semula ia mengira kalau Ryan akan berlalu dari sana setelah meletakkan kantung belanjaan yang terakhir di kitchen island, tapi ia kecele. Nyatanya Ryan juga membantu dirinya.

"Kamu kalau mau tidur duluan sih nggak apa-apa."

"Ehm, nggak." Kepala Ryan menggeleng. Membawa sekantung roti dan biskuit dan menatanya di kabin dapur. "Lima menit waktu bersama kamu itu berharga, Sa. Aku nggak mau menyia-nyiakannya sedikit pun."

Bibir bawah Vanessa maju sekilas sebagai tanggapan untuk gombalan Ryan.

Barang selanjutnya yang harus dirapikan oleh Vanessa adalah sayur mayur dan daging. Wanita itu membuka kulkas. Dengan cekatan meletakkan masing-masing bahan ke tempatnya masing-masing. Di saat Vanessa berjongkok di depan box kulkas, mendadak saja Vanessa teringat sesuatu.

"Ryan."

Ryan yang baru saja menutup pintu kabin menoleh. "Ya?" tanyanya seraya beranjak menuju ke kitchen island. Membongkar belanjaan mereka yang lainnya.

"Ngomong-ngomong, aku penasaran sama sesuatu deh."

"Apa?"

Vanessa terlihat menarik napas sejenak. Tangannya terlihat tampak meremas pelan sebuah jeruk di tangannya.

"Dari mana kamu tau kalau makan malam itu aku yang masak?"

Ryan yang semula sedang membongkar aneka saos, mengangkat wajah. Melihat kerutan rasa heran dan ingin tau yang tercetak nyata di wajah cantik Vanessa. Pelan-pelan, senyumnya timbul.

Kuliah Tapi Menikah 🔞 "FIN"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang