86.

13 2 0
                                        


Peringatan : Ada beberapa adegan yang tidak patut ditiru

Reno menghembuskan nafas gusar, dia sudah cukup bersabar dengan memberi banyak waktu untuk Jian memutuskan siapa seseorang yang lebih dahulu.

Tapi, apa hingga sekarang Jian masih diam menatap ke depan. Sungguh ini menyebalkan, bukankah katanya dia ingin ikut rencana apapun dengannya. Entah Jian ini berada di pihaknya atau bukan.

"Jian bagaimana? Gue bukan tipe orang yang sabar ya. Kalau lo gak pilih, lo jadi orang pertama" Tegas Reno,

"Tapi, Ren.." Sahut Jian gemetar, dia terlalu takut membayangkan ini semua terjadi. Darah berceceran dimana-mana. Apalagi, itu karena ulah dirinya sendiri. Jian serasa tidak sanggup menyakiti seseorang. Terlalu kejam.

"Okee.." Reno mengangguk,

Reno mengambil pistol tersebut, dan menarik pelatuk menggunakan tangan kiri. Kedua tangannya menggenggam erat mengarahkan pistol dari beberapa kejauhan mengeker sasaran di kepala Jian. Setelah yakin, jari telunjuk bersiap menekan bagian handle pistol dan akhirnya...

Dorrrr...

Peluru pertama berhasil diluncurkan.

Terdengar suara nyaring seisi gudang bahkan mungkin hingga keluar. Seketika, sebagian dari mereka terutama keluarga Aldiano menutup mata dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Mereka jelas tak ingin melihat aksi mengerikan segila ini di depan mata secara langsung.

Perlahan tapi pasti, mereka membuka mata untuk melihat apa kejadian yang sebenarnya. Tak mungkin juga sepanjang waktu menutup mata, bukan.

"Takut kah" Reno tertawa kencang, dia kembali berhasil membuat semua orang panik dan ketakutan. Menyenangkan.

Aish, sayang sekali permainan ini hanya dilakukan sebentar saja. Nanti kalau terlalu lama, malah membuat orang di luar sana curiga dengan apa yang terjadi disini. Reno tak mau kebanyakan orang tahu, dia harus bermain mulus.

Reno memang sengaja memancing rasa takut Jian, dalam detik-detik terakhir dirinya mengalihkan sasaran ke atas gudang.

Sementara, Jian spontan menjatuhkan pistol pemberiaan tadi. Kedua tangan beralih menutup kedua telinga. Dia menangis sejadi-jadinya. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tapi, setelah mendengar adanya suara tembakan tersebut. Jian mulai membuka mata perlahan, dia menyadari ternyata tak merasakan apapun dalam tubuhnya.
Jian bernafas lega, dan seketika jatuh tersungkur.

Perasaan melegakan memang tiada tara, Jian tak memungkiri dirinya tak bisa terus-menerus begini. Dia harus hidup, walau harus sampai menyakiti orang lain.

"Jian, gue gak akan memberi kesempatan kedua. Silahkan kalau lo mau mengadu nasib"

"Jian, tembak gue aja" Sahut Aldiano, dia juga tak mau orang lain terkena masalah akibat keluarga mereka. Lagipula, Jian tak seharusnya berada disini. Dendam Reno terlihat hanya pada keluarganya.

"Enggak, Mama aja Al" Kata Mama Riska terisak, tak tega anaknya mengorbankan nyawa lebih awal.

"Stop. Biar Papa yang menanggung ini semua" Teriak Papa Leo.

Papa Leo merasa sudah sepantasnya, dia yang menanggung semua. Ini bermula dari kesalahan dan perbuatan dirinya. Seandainya, dia tak dijebak oleh kedua orangtuanya. Mungkin, tak ada masalah hingga sekarang.

Aline menundukkan kepala, air matanya kembali menggenang tanpa disadari. Dia menggeleng, tak terima.

Mengapa hidup mereka sekeluarga yang awalnya penuh kebahagiaan malah berakhir begini. Tak pernah disangka, keluarga mereka harus berkorban satu sama lain. Demi kehidupan anggota keluarga lainnya.

Padahal, Aline merasa lengkap dan tak butuh apapun selain keluarga ini. Semua uang sekalipun akan dirinya tukarkan demi keluarga. Tetapi, sekarang uang pun nyatanya tak bisa menyelamatkan mereka.

Aline meneteskan air mata, apapun akhirnya berarti itulah takdir. Walau, menyakitkan tapi Aline yakin Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik untuk keluarganya.

"Bagus, silahkan pilih Jian. Mereka sudah siap" Reno tersenyum, ini menjadi lebih dramatis daripada yang dia pikirkan.

Jian sigap mengambil pistol yang jatuh, dan sekejab merubah posisi berdiri. Dia mengatur nafas, ancaman Reno benar- benar berhasil membangkitkan rasa keberanian dalam dirinya. Walau, ini terlalu jahat. Otak Jian berfokus pada demi keselamatan diri sendiri.

"Jian, gue gak akan pernah maafin lo kalau sampai ngelukain orangtua dan adik gue" Kata Aldiano datar,

"Al!!!" Seru Mama Riska dan Papa Leo bersamaan.

Aline sendiri hanya diam dengan tatapan kosong. Dia sudah tak tahu merespons apalagi.

"Oke, kalau gitu Al" Ujar Jian mantap, dia sudah jauh berbeda 180° daripada sebelumnya. Tak ada lagi rasa takut.

"Good job"

"Lo lepasin ikatan Al" Suruh Reno pada anak buahnya.

Beberapa anak buah yang posisinya di belakang Aldiano bergegas membuka ikatan tangan.

"Ada request gak Al, mau dibagian tubuh yang mana" Akhir kata Reno tersenyum,

"Atau pesan-pesan terakhir"

Aldiano menghembuskan nafas panjang, dalam benaknya dia sungguh ketakutan. Mulutnya memang terdengar seberani itu. Padahal, dia menyimpan banyak keraguan. Namun, jauh lebih baik dia yang paling pertama daripada melihat keluarga lainnya terluka.

"Jangan bawa-bawa Zelvanya"

"Kenapa??"

"Dia gak salah, biarin dia hidup tanpa masalah. Gue pengen Zelvanya bahagia apapun yang terjadi"

Reno mengangguk, anggap ini sebagai permintaan terakhir Aldiano sebelum dieksekusi. Lagipula, memang dari awal dia tak pernah berniat jahat sama sekali pada Zelvanya.

"Dan, buat lo jangan coba melarikan diri dari peluru. Kalau terjadi, gue yang tembak ke jantung lo langsung" Kata Reno memperingatkan,

Sekian cukup lah yaa...

Ternyata udah lumayan panjang hehe, aku pikir bakal ending di part ini

Dah yaa see you next part

Berikan vote dan komentar

Tungguin lagi, jawab pingin ending yang gimanaa sihhhh

Satu lagi, sorry kurang feeling untuk cerita sedih begini gak biasa soalnya😂

YOUTUBER, MY PARTNER (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang