Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Aku bukan lagi Kala.
Kini aku dikenal sebagai Hana.
Semua orang memanggilku Hana.
Karena aku masih muda dan merupakan jajaran eksekutif termuda, aku meminta semua orang untuk memanggil namaku saja.
Aku tidak peduli dengan jabatanku, aku hanya ingin dikenal dengan namaku.
Aku memimpin semua artis dan manajer artis di perusahaan agensi. Tugasku adalah mengevaluasi kinerja artis dan manajer artis. Namun, tak hanya itu saja. Masih banyak tugas lainnya.
Jika ada yang bermasalah akan aku selesaikan. Namun, jika kadar masalahnya sudah fatal, HRD yang akan menanganinya.
Aku mulai terbiasa dengan kesibukanku setelah satu bulan bekerja.
Enaknya setelah dianggap sebagai penyelamat perusahaan, aku mendapat kebebasan memakai pakaian yang aku suka ke kantor.
Bukan setelan kantor yang membosankan. Aku bebas memaki crop top, jacket denim, dress dan segala macam pakaian yang aku suka.
Itu adalah syarat mutlak yang aku pinta ke CEO. Lantas dikabulkan setelah aku berhasil memecat Ketua Manajemen SDM yang lama dan Ketua Manajer.
Di bawah kepemimpinanku, tidak ada lagi yang namanya Ketua Manajer. Hanya ada Manajer Senior.
Lingga yang mengusulkan hal tersebut, agar tidak ada kesenjangan kekuasaan lagi.
Aku setuju lalu mengangkatnya dan Fay sebagai Manajer Senior.
Pintu ruanganku diketuk dari luar.
"Iya, masuk aja," sahutku.
Kepala Fay menyembul. Hanya setengah badannya saja yang masuk lewat celah pintu.
Aku tak mengerti kenapa ia melakukannya padahal ia bisa membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam ruanganku.
"Hana, ada meeting sama Produser acara ragam, lo bisa ikut sebentar dengerin mereka ngejelasin konsep besarnya." Fay menjelaskan tujuannya.
Aku mengangguk. Menaruh iPad ke atas meja lantas berjalan menuju pintu.
"Sama grup tujuhbelas juga ya?"
Fay mengangguk.
"Ada Sastra gak?"
"Ada dong."
Cengiran jahil Fay tercetak di wajahnya. Matanya mengerling nakal.
Aku hanya tersenyum menanggapi.
Aku membuka pintu lantas pergi bersama Fay ke ruangan meeting.
"Lo masih belum ngomong sama Sastra?"
"Belum. Ekspresinya dingin banget. Gue takut mau ngomong sama dia."