Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Aku menghela napas pelan. Memijat pelipis yang berkedut. Kepalaku tiba-tiba terasa pening.
Setelah menghabiskan puding susu dan cookies. Aku memesan makanan berat dari restoran langganan karena Dino mengeluh lapar.
Ketika sibuk memilih menu bersama Sarah dan mendengar rekomendasi dari Han. Saat itulah, Yuma dan Sastra asik mengeksplorasi rumahku. Hingga mereka menemukan lorong dengan jejak banyak peluru.
Lorong itu ada di dekat pintu masuk. Di ujung lorong ada pintu menuju pekarangan. Di sana tersimpan beberapa alat berkebun dan bibit sayur yang baru bertunas. Agaknya Yuma tertarik melihat tunas muda di sana.
Dinding kayu yang merupakan material terbesar di rumah ini, bolong di beberapa tempat karena timah panas. Sebenarya masih banyak lagi, hanya saja beberapa sudah dipugar. Aku bisa saja berbohong kalau lubang itu dibentuk oleh serangga. Tetapi, Nenek malah menuliskan kalimat di bawahnya, semacam memo di album foto untuk mengenang beberapa kenangan. Yuma mememotret tulisan tersebut, yang memang tercetak jelas karena diprint, lalu ia menerjemahkannya lewat aplikasi dan ia terpekik tidak percaya setelahnya.
"Lubang hasil tembakan pertama Laviz yang tepat mengenai kepala kurir jahat yang mencoba membunuhnya. Dari Nenek Laviz yang tersayang." Itu yang ditulis nenek.
Ada satu lubang lagi yang berjarak kira-kira sepuluh senti dari lubang pertama. Namun, di lubang kedua tidak ada keterangan di bawahnya.
Sastra lantas menanyakan kebenarannya padaku. Mau tak mau aku berkata jujur. Persis seperti yang tertulis dalam memo yang diprint rapi dan diplastik itu, aku menjabarkan awal mula kejadiannya.
Hingga raut wajah Yuma dan Sastra berubah dengan cara yang aneh. Entah kenapa Sastra tampak seperti hendak menjaga jarak dariku.
"Kenapa lo dipanggil Laviz?" tanya Han.
"Viz itu nama belakang aku Kak. Nama keluarga. La dari nama tengah aku Sendakala. Jadi, nenek manggil aku Laviz."
Aku melirik Sastra yang sibuk dengan ponselnya. Sementara Yuma sedang asik melihat kumpulan kupu-kupu bersama Sarah di tanaman bunga nenek.
Kami sudah berpindah ke halaman belakang. Duduk-duduk di kursi kayu dengan meja bulat tepat di tengah. Di area halaman belakang ini, ada gudang yang jadi satu dengan garasi. Tanaman bunga nenek tumbuh subur langsung dari tanah. Ada pepohonan rimbun juga yang tidak aku tahu namanya.
"Lo ... keren, gue gak nyangka lo bisa ... lo jago nembak dong ya?" Dino akhirnya bicara, agak tergagap. Ia terlihat segan terhadapku.
Aku menghela napas lelah, merasa tidak nyaman dengan situasi ini. "Please, jangan kayak gini dong. Lo kayak takut sama gue. Gue nyesel kan udah jujur."
Aku berdecak pelan. Memalingkan wajah menatap kucing gemuk yang meregangkan badan di atap garasi.
"Jadi, selama ini lo bohong ke semua orang?" Sastra akhirnya buka suara.
Aku mengangguk. Melarikan tatap ke arah lain, enggan menatap kedua mata Sastra. "Kecuali orang-orang yang udah tinggal lama di sini. Semua kenalan gue kecuali Sarah dan Sebby gak tau apa-apa. Mereka cuma tau gue anak tunggal dengan nama keluarga Viz."
"Yang judes, cantik, pintar dan tukang malak," lanjut Sarah.
"Tukang malak apaan?" Aku protes.
Sarah tergelak puas. "Dulu tuh ada adik kelas yang kena bully terus dimintain duit jajannya. Hana nolongin dia dan sejak itu dia gak pernah dibully lagi. tapi Hana malah dapat julukan baru, si tukang malak. Dalam artian baik ya,"
Aku merengut. Sarah masih saja tertawa. Kemudian, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Aku langsung menuju gerbang kayu yang berada di samping rumah. Lantas menuju halaman depan dan menerima makanan pesan antar dari kurir.
Makanan datang, kami makan bersama di taman belakang rumah. Ada meja lipat tambahan dan kursi untuk semua orang.
"Tapi, kenapa lo bohongin semua orang? Kenapa lo gak jujur aja?" Sastra kembali bertanya. Aku rasa ia benar-benar penasaran dengan hidupku.
"Aku gak mau mereka jadi kena bahaya Kak. Dulu, temen sekelasku sama Sarah, namanya Karin, dia dekat banget sama aku. Jadi, malam itu, dia datang gak bilang-bilang ke rumah. Gaya bajunya dan rambutnya persis kayak aku. Diperjalanan dia ditembak sama musuh Daddy yang ngira kalau itu aku."
Denting sendok seketika berhenti. Dino dan Yuma kompak menatap ke arahku.
"Tapi, kenapa lo mau jujur sama kita-kita?" tanyanya lagi.
"Dulu aku masih kecil. Gak ngerti apa-apa. Aku gak tau cara ngelindungi mereka. Tapi, sekarang udah beda. Udah banyak hal yang terjadi. Pengalaman ngajarin aku gimana caranya sembunyi dan ngelawan."
Setelah bicara seperti itu, tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan suara keras yang bersal dari atap garasi.
Semuanya kaget, sendok makan Dino sampai jatuh ke atas rumput. Seketika suasana hangat berubah jadi tegang penuh waspada
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.