Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
"Maaf buat semua yang udah Naya lakuin Hana," ucap Seb terdengar penuh sesal.
Andai saja aku masih memiliki rasa terhadapnya, mungkin aku akan merangsek maju dengan wajah merah padam merasa cemburu bukan main atas pembelaan Seb tersebut.
Namun, aku tidak merasakan apa-apa. Hanya merasa lega sebab pawang dari berbagai masalah yang mungkin akan terjadi hingga kepalaku sesak dan tidak bisa tidur semalaman, akhirnya datang.
CEO menanggapinya dengan santai. Seb berjanji akan membawa Naya pulang secepatnya ke London.
"Udah gapapa Seb, semuanya juga udah kelar kalau lo bawa Naya pulang secepatnya."
Seb mengangguk. "Gue bakal bawa Naya pulang secepatnya."
"Bagus."
Aku bersiap hendak memulai pekerjaan lain, ketika sadar kalau Seb masih berada di ruanganku.
Aku kembali memusatkan perhatian pada cowok jangkung mantan kekasihku itu.
"Masih ada yang mau lo omongin ya?"
"Iya." Seb tersenyum canggung. Sorot matanya tampak berbinar. Ada apa gerangan hingga dia bisa menampilkan ekspresi seperti itu?
"Apa? Ngomong aja." Aku mencoba tenang, meski jantungku berdetak kencang tak karuan.
"Gue ke tempat dia. Gue ngeliat dia. Batu nisannya lo kasih pita ya? dia ... perempuan?"
Sudah aku tebak. Seb akan membahasnya.
Aku mengangguk. Ide memberikan pita itu memang dari diriku. Meski waktu aku terakhir kali mengunjunginya, pengrajin belum selesai membuatnya. Aku meminta nenek untuk memasangkannya di sana.
"Jenis kelaminnya belum tau, karena dia masih terlalu kecil. Tapi, gue suka anak perempuan ... jadi ya, gitu ... seperti yang lo liat. Ada pita di sana."
Seb mengangguk. Matanya basah tanpa aku sadari.
Aku rasa cowok itu juga tak sadar kalau sudah menangis.
Setelah, satu dua kalimat lagi Seb mengundurkan diri.
Dengung mesin komputer mengisi keheningan ruanganku. Aku mencoba kembali fokus bekerja, melihat dokumen online yang perlu aku periksa.
Waktu berlalu begitu saja. Terasa begitu cepat. Tahu-tahu langit sudah gelap ketika aku mematikan komputer.
Aku lalu beranjak, pergi keluar menuju kantin kantor. Aku hendak menyantap makanan berkuah.
Kini sudah akhir bulan. Anggota grup tujuhbelas akan segera kembali ke Korea dan bersiap untuk tur Asia mereka.
Akhir bulan juga pertanda untuk gajian. Pasti Sarah akan meminta tolongku nanti untuk merekap semua gaji para karyawan dan juga artis.
Akhirnya aku akan punya teman curhat lagi, karena sungguh, sendirian di kantor sama sekali tidak menyenangkan.
Setelah mengisi nampan makanan, aku mencari tempat duduk di paling sudut. Kantin lengang. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang makan. Satu dua petugas kantin ikut mengisi nampan mereka. Makan malam selagi kantin tidak ramai oleh orang-orang.
Saat itulah ponselku berdering, panggilan video dari Sarah.
Dia panjang umur sekali, baru saja tadi aku mengingatnya soal kepulangan mereka, tau-tau sudah ada sambungan panggilan telepon.
"Lagi apa lo?" sapa Sarah sesaat wajahnya muncul di layar.
Aku nyengir saja sembari memposisikan ponsel bersandar pada botol minum di atas meja.
"Wih, di kantin ya? gue kangen ayam goreng kantin."
"Iya, tapi lagi gak ada ayam goreng hari ini."
Aku lalu mengambil sesuap makanan dan memperhatikan layar ponsel. Kini Sarah memperlihatkan area istirahat di belakang panggung.
"Mana ya si Sastra, Dino bilang Sastra abis mimpiin lo semalem, saking kangen kayaknya." Sarah cekikikan setelahnya.
Area istirahat tampak ramai. Semua member tujuhbelas berada di sana kecuali Sastra.
Sarah melipir ke sofa dan duduk di sebelah Han.
"Loh, Kala ya?"
Dalam sekejap wajah Han memenuhi layar. Cowok itu tersenyum kalem.
"Sastranya lagi ke toilet, eh itu dia."
Layar kembali menampilkan suasana di ruang istirahat. Pada pintu di sudut ruangan, ada Sastra yang tampak kerepotan. Cowok itu melepas jaketnya dan salah satu staff mengambil alih jaket tersebut. Di balik jaketnya Sastra hanya mengenakan heavy tank top dan memperlihatkan lengannya yang berotot.
"Wih Sastra pamer otot tuh," sahut Han diiringi tawa cekikikan.
Aku ikut tertawa karenanya.
Lalu, aku tiba-tiba penasaran dengan mimpi Sastra tentangku seperti yang Sarah bilang barusan.
"Kak, boleh nanya gak?"
"Boleh, boleh," sahut Han dan layar kembali penuh dengan wajah cowok itu.
"Kata Sarah, Kak Satra mimpiin aku ya?"
Han mengangguk. "Iya, tadi pagi si Sastra baru bangun langsung ke kamar gue sama Yuma. Dia bilang abis mimpiin lo."
"Lagi kangen berat tuh," timpal Sarah.
Separuh wajah Sarah lalu muncul di layar, gadis itu tersenyum-senyum tak jelas.
"Gue rasa sih iya awalnya, tapi muka Sastra malah suram." Han kembali bicara.
"Suram gimana?" tanya Sarah.
Cowok itu terlihat ragu, sesekali melirikku dibalik layar lalu ke arah Sarah.
"Maaf nih ya, ada yang bilang kalau mimpi buruk itu pertanda buruk di dunia nyata. Jangan bilang si Sastra ya, gue gak mau dia ngamuk ke gue. Sastra bilang, dia mimpi buruk soal lo." Han menghela napas panjang. Ekspresinya berubah serius. "Sastra cerita kalau ...."
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.